Beranda Warta Cerita Anak Muda, Agen Sosial Peduli Sampah

Anak Muda, Agen Sosial Peduli Sampah

Cerita Nusa Tenggara Timur Webinar Persampahan TPA Comments (0) View (84)

Masyarakat adalah penghasil sampah terbanyak, oleh karena itu perlu kesadaran bersama agar lebih peduli terhadap sampah, bijaksana dalam menghasilkan sampah dan juga belajar mengelolanya. Generasi muda yang merupakan pemegang tongkat estafet pembangunan punya peran penting menjadi agen perubahan peduli sampah di lingkungannya masing-masing. Demikian rangkaian Webinar “ Bakti Warga Untuk Kotanya ( Khusus Persampahan ) “ yang digelar program Kota Tanpa Kumuh ( KOTAKU ) NTT dengan melibatkan berbagai komunitas anak muda di NTT, akhir pekan kemarin.

Tenaga Ahli Komunikasi KOTAKU Nasional, Iroh Rohayati Fatah dalam sambutannya mengatakan persoalan sampah menjadi salah satu penyumbang kumuh terbesar dari enam indikator kumuh kota. Kondisi ini tampak nyata pada saat Program KOTAKU melakukan pendataan kumuh awal secara Nasional pada tahun 2015, dimana masalah sampah mencapai 44,54%.

Menurutnya, persoalan sampah bukan saja tentang Tempat Pembuangan Sementara ( TPS ) atau Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ), atau sampah organik dan anorganik tapi bagaimana cara pengelolaannya. Berangkat dari kondisi ini, Program KOTAKU mengusung Kerja Kolaborasi, dimana persoalan kumuh tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah Pusat, daerah dan program tapi harus besinergi dengan masyarakat dalam pengelolaannya.

Iroh juga memberi contoh Hal kecil yang juga bisa dilakukan anak muda untuk mengurangi sampah plastik adalah dengan membawa tumbler air minum sendiri daripada harus membeli air mineral dengan kemasan botol plastik. Sehingga dari kebiasaan kecil ini kita sudah melakukan melakukan sesuatu, yang membuat kita berbakti untuk kota, Indonesia dan dunia, jangan serahkan persoalan sampah kepada ppemerintah saja tapi mari kita menjadi bagian dari solusi da bersama berkolaborasi, katanya memotivasi orang muda NTT.

Hadir sebagai narasumber, Orang muda NTT yang merupakan Pendiri Bank Sampah Mutiara Timor, Meilsi Mansula yang juga memotivasi peserta yang didominasi orang muda. Dia mengatakan Sampah bukanlah masalah jika ditangani dengan benar. Membuang sampah ke tempat sampah juga bukan solusi mengurangi sampah, karena jalurnya hanya berpindah dari tong sampah, TPS dan ditimbun di TPA, sementara proses penguraiannnya membutuhkan lebih dari 100 tahun.

Melihat kondisi ini, dia mengajak para orang muda bergerak untuk memulai mengelola sampah dari sumbernya, karena sampah memiliki nilai ekonomis yang bisa dipilah jenisnya kemudian didonasikan atau di tabung ke bank sampah terdekat.

Meilsi yang merupakan lulusan master Perencanaan Wilayah dan Kota di Griffith University Australia ini juga memberikan terobosan, dimana Bank Sampah Mutiara Timor telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan Kupang, sehingga dengan menabung sampah bisa menjadi alternatif pembayaran iuran BPJS Kesehatan Mandiri bagi masyarakat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Kupang, Yeri Padji Kana dalam paparannya juga mengatakan Penanganan sampah tidak bisa menjadi tanggungjawab pemerintah saja tapi harus menjadi tanggungjawab bersama. Dia berharap penyelesaian persoalan sampah hanya bisa dilakukan dengan 3R ( Reduce, Reuse, Recycle ) dengan pengelolaannya dimulai dari sumbernya yaitu dari rumah.

"Jika kita berpikir bahwa sampah itu ditimbun, maka hal itu tidak akan menyelesaikan masalah, yang ada sampah bertambah banyak tapi lahan TPA tidak bertambah, sehingga mari anak muda kita mulai peduli pada sampah kita “, katanya.

Team Leader KOTAKU NTT, Stely L. K. Paulus mengapresiasi langkah orang muda yang peduli terhadap salah satu isu perkumuhan kota yaitu persampahan. Pasalnya persoalan sampah perlu sinergitas kolaborasi terutama dalam pengelolaannya yang juga melibatkan bank sampah sebagai salah satu solusi pengurangan sampah kota.

Dalam penanganan kumuh khusus persampahan, selain pendampingan, KOTAKU juga memberikan bantuan berupa gerobak sampah, motor sampah, bak sampah dan juga TPS 3R di lokasi yang masalah persampahannya tinggi. Lebih lanjut ia menjelaskan 7 indikator kumuh kota antara lain Keteraturan bangunan, ketersediaan jalan, ketersediaan akses air minum, drainase, pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan dan pengamanan kebakaran yang memerlukan partisipasi masyarakat dalam pengurangan kumuh kota.

Diskusi tanya jawab yang berlangsung hampir tiga jam ini cukup aktif terkait Bank sampah dan pengelolaannya, Hadir juga dalam webinar ini Korkot/Askot, fasilitator sosial, berbagai komunitas, mahasiswa dan asosiasi yang ada di NTT.[NTT]


Penulis: Astrid Tehang, Sub-Komunikasi OSP 5
Program Kotaku Provinsi Nusa Tenggara Timur

Editor : Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.