Beranda Warta Artikel Belajar Mengambil Peran dalam Mengelola Sampah

Belajar Mengambil Peran dalam Mengelola Sampah

Artikel Jawa Tengah Purworejo Persampahan TPS3R Comments (0) View (204)

Membicarakan permasalahan sampah tidak akan pernah ada habisnya karena hampir setiap detik, menit bahkan jam, setiap individu pasti menghasilkan sampah. Apabila sampah tidak dikelola dengan baik pasti akan menimbulkan permasalahan tersendiri bahkan bisa menjadi ancaman bagi keberlangsungan makhluk hidup di dunia ini karena dampak pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah. Sebaliknya bila sampah bisa dikelola dengan baik dari sesuatu yang tidak bermanfaat akan menjadi sesuatu yang bermanfaat serta bernilai ekonomi dan menghasilkan.

Belajar dari fenomena dan permasalahan sampah yang ada di lingkungan tempat tinggal atau lingkungan sekitar kita maka penulis sedikit ingin bercerita pengalaman tentang penanganan sampah yang sudah penulis lihat, fasilitasi dan sampai belajar mencoba secara langsung untuk mempraktekkan mengolah sampah dari rumah. Penulis sudah berkecimpung di dalam dunia program pemberdayaan masyarakat secara intens dan serius sejak tahun 1999 dimana salah satu fokus dari kegiatan pendampingan masyarakat adalah penanggulangan kemiskinan di perkotaan (P2KP). Kemiskinan tidak selalu hanya berkaitan dengan faktor ekonomi, akan tetapi juga berkaitan dengan kualitas lingkungan dan tempat tinggal. Pada tahun 1999 salah satu program yang bernama P2KP sudah mulai dan lebih fokus pada kegiatan sosialisasi dan himbauan himbauan ke masyarakat agar mereka bisa lebih meningkatkan kesadarannya terhadap kebersihan lingkungan tempat tinggalnya dengan cara tidak membuang atau menimbun sampah secara sembarangan.

Proses-proses sosialisasi dan himbauan tersebut tetap berlangsung secara bertahap, terus-menerus dan berkelanjutan. Di tahun 2007, program P2KP ini kemudian berubah nama menjadi PNPM-Mandiri Perkotaan. Intervensi kegiatan program ini tidak hanya sekedar sebatas penyuluhan untuk penanganan sampah tapi sudah mulai sadar bahwa penanganan sampah ternyata tidak bisa hanya ditangani sendiri tapi sebaiknya dilakukan gerakan bersama untuk mengatasi permasalahan sampah dilingkungan sekitar atau lingkungan tempat tinggal. Program PNPM-Mandiri Perkotaan melalui intervensi kegiatan program PAKET (Penanggulangan Kemiskinan Terpadu) yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat sejak tahun 2007 mulai menginisiasi penyelesaian permasalahan sampah harus dilakukan secara terpadu dan dikendalikan langsung oleh setiap pemerintah daerah, hal ini kemudian dilanjutkan dengan intervensi sebuah program bernama PLP-BK (Penataan Lingkungan Berbasis Komunitas) yang dimulai pada tahun 2018. Program ini sangat intens membangun sebuah sistem pengelolaan sampah di masyarakat mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan sampai dengan tingkat kabupaten.

Program PLP-BK bersama dengan pemerintah daerah berusaha untuk membangun sebuah sistem pengelolaan persampahan yang dirancang secara terstruktur dan saling berhubungan dari ‘hulu’ sampai ‘hilir’. Alur kerja sistem ini dimulai dari proses pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga menggunakan cara pemilahan sampah berdasarkan jenis sampah sesuai dengan program 3R, kemudian dilanjutkan ke pengelolaan sampah di tingkat lingkungan dengan cara mendirikan bank sampah atau sejenisnya, pada tahap terakhir dilanjutkan dengan kegiatan pengolahan sampah di TPA atau TPS3R. Perjalanan panjang yang dilalui program KOTAKU dan program-program sebelumnya dan dengan disertai berbagai intervensi program-program pengelolaan sampah sudah berhasil membuahkan beberapa produk antara lain berupa sistem untuk persampahan itu sendiri, pengadaan alat dan bangunan gedung fasilitas sampah yang dari skala kecil sampai dengan skala besar. Dimulai dari tahun 1999-2020 penulis alhamdulillah sudah mengikuti proses transformasi perjalanan program pemberdayaan ini, dimulai ketika awalnya program bernama P2KP (Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan) hingga berganti nama menjadi Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) sampai saat sekarang ini. Penulis sebagai fasilitator program sudah melakukan transformasi pengetahuan dan berbagi pengetahuan dengan masyarakat yang didampinginya tentang kesadaran diri sendiri untuk menata lingkungannya dengan mengelola sampah.

Namun timbul perasaan kurang percaya diri atau kurang puas apabila semua hal-hal yang kita sampaikan ke masyarakat ternyata belum kita jalankan atau bahkan belum dipraktekkan sama sekali di lingkungan tempat tinggal kita sendiri. Berawal dari keresahan itu penulis mencoba mempraktekkan salah satu cara pengolahan sampah dari sekian cara yang ada yaitu dengan mengelola sampah organik menjadi pupuk organik dengan bahan baku utamanya adalah dari sisa-sisa makanan, sisa sayuran, sisa buah atau kulit buah dan sisa sampah organik yang dihasilkan dari aktifitas hasil pengolahan dapur yang sudah tidak terpakai. Sampai sekarang ini hasil dari aktifitas pengolahan sampah organik yang dilakukan oleh penulis alhamdulillah sudah bisa dimanfaatkan dan digunakan untuk menyuburkan dan mempercepat pertumbuhan berbagai jenis tanaman yang ada dilingkungan tempat tinngal. Hasil produk yang berupa pupuk cair ini baru dipergunakan di lingkungan sekitar tempat tinggal sendiri. Pengolahan sampah organik ini juga sudah dilakukan di kantor KOTAKU Kabupaten Purworejo. Penulis secara langsung mempraktekkan kegiatan pengelolaan sampah ini mulai dari pemilihan bahan baku untuk pembuatan peralatan dengan harga bahan baku terjangkau dan mudah didapatkan hingga praktek perakitan, dimana hal tersebut menjadi poin utama rangkaian kegiatan ini karena peralatan ini cukup mudah untuk dibuat (foto instalasi dan hasil pengolahan sampah terlampir). Selain menghasilkan pupuk cair, sisa ampas pupuk cair yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah ini bisa dijadikan media tanam untuk tumbuhan, sedangkan ulat atau belatung hasil dari proses pembusukan sampah bisa dijadikan makanan ikan.

Pembelajaran yang bisa dipetik oleh penulis dari pengalaman pendampingan pengelolaan sampah baik ditingkat Pemda, Masyarakat sampai belajar mengelola sampah sendiri, bahwa proses menimba dan berbagi ilmu setiap individu itu bisa melalui jalur yang berbeda-beda. Ada individu yang mempraktekkan secara langsung pengelolaan sampah baru kemudian mendapatkan ilmunya, ada juga individu yang memperdalam ilmunya/teorinya dulu baru kemudian dipraktekkan. Satu hal yang pasti bahwa akan berbeda bobot penyampaiannya ke seseorang atau ke suatu komunitas apabila segala hal yang kita sampaikan kepada mereka sudah pernah kita praktekkan terlebih dahulu. Oleh karena itu mari kita mengambil salah satu peran dalam mengelola sampah bisa dimulai dari memilah sampah dirumah masing-masing (3R), mengolah sampah organik menjadi pupuk organik, mengembangkan bank sampah atau menjadi bagian dari pengelolaan TPS3R atau sejenisnya di lingkungan tempat tinggalnya.[Jateng]


Penulis: Zulfikar, Korkot Kabupaten Purworejo
Program Kotaku Provinsi Jawa Tengah

Editor : Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.