Beranda Warta Cerita Kolaborasi KPP dan PKT Bawa Damai di Wonorejo

Kolaborasi KPP dan PKT Bawa Damai di Wonorejo

Cerita Jawa Timur Srengat Kolaborasi Padat Karya KPP Comments (0) View (138)

Ada pepatah Jawa menyatakan, “Mbangun kuwi gampang, ning ngopeni kuwi sing angel”. Artinya: membangun itu mudah, tetapi memelihara itu suatu hal yang memerlukan ketegasan dan dan kedisiplinan.

Keberadaan Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) merupakan upaya untuk menjamin keberlanjutan infrastruktur yang dibangun, agar senantiasa dapat dimanfaatkan dan mampu menjaga kualitas lingkungan permukiman menjadi tidak kumuh kembali. Keberhasilan KPP sangat tergantung pada tingkat efisiensi dan efektifitas kinerjanya. Untuk itu diperlukan program kerja yang sistematis, terpadu dan terarah.

Tujuan KPP di antaranya adalah amendukung terwujudnya pola hidup bersih dan sehat (PHBS), terwujudnya partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan agar tidak menjadi kumuh, terselenggaranya pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sesuai mutu, terselenggaranya pemeliharaan prasarana dan sarana secara berkelanjutan, serta mendukung terwujudnya kota bebas kumuh yang dimulai dari lingkungannya dengan kolaborasi berbagai pihak.

Sementara itu, Padat Karya Tunai (PKT) merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat marginal/miskin yang bersifat produktif berdasarkan pemanfaatan sumber daya alam, tenaga kerja, dan teknologi lokal dalam rangka mengurangi kemiskinan, meningkatkan pendapatan dan menurunkan angka stunting. Di sisi lain, tujuan pemberdayaan desa yang berorientasi pada pembangunan manusia dan kebudayaan, yaitu mewujudkan desa sebagai tempat yang dapat mengakomodasi berbagai pilihan dan kesempatan bagi masyarakat dengan eksistensinya masing-masing secara mandiri dan inklusif, serta mengembangkan berbagai aktivitas berbasis kearifan lokal yang produktif dan bernilai ekonomis.

Pelaksanaan PKT merupakan kegiatan pemberdayaan keluarga miskin, pengangguran, dan keluarga dengan gizi buruk yang bersifat produktif berdasarkan pemanfaatan sumber daya alam, tenaga kerja, dan teknologi lokal guna mengurangi kemiskinan, meningkatkan pendapatan, dan menurunkan angka stunting. PKT dilaksanakan melalui mekanisme swakelola, mengutamakan tenaga kerja dan material lokal, dengan harapan menigkatkan pendapatan masyarakat desa. Upah tenaga kerja dapat dibayar langsung secara harian, dan bila tidak dimungkinkan, upah dibayar secara mingguan. Perekonomian desa bisa bergerak dan tumbuh, dan pada gilirannya akan dapat menurunkan angka kemiskinan.

Peningkatan kualitas permukiman kumuh tidak dapat hanya dilakukan dengan membangun infrastruktur saja, tetapi juga harus dilakukan upaya-upaya pencegahan tumbuhnya kumuh baru. Kegiatan operasi/pemanfaatan dan pemeliharaan, disamping untuk menjaga kualitas infrastruktur agar berfungsi dengan baik, juga merupakan kegiatan dalam upaya pencegahan tumbuhnya kumuh baru.

Kegiatan operasi/pemanfaatan adalah cara menggunakan prasarana dan sarana sesuai dengan fungsinya untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat di lingkungannya. Sedangkan pemeliharaan adalah upaya untuk menjaga agar prasarana dan sarana yang dibangun atau telah ada agar berfungsi sesuai fungsinya dan memiliki umur pemakaian lebih lama.

Dengan pengaturan pemanfaatan dan pemeliharaan, dapat dihindarkan perbaikan atau rehabilitasi secara besar-besaran. Kegiatan O&P infrastruktur sebagai pelayanan umum tidak dapat dilaksanakan sendiri-sendiri tetapi harus diorganisasikan pada tataran pemerintahan dan masyarakat.

Upaya memelihara infrastruktur yang telah dibangun, terutama jalan dan drainase merupakan polemik yang sering menghinggapi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Pasalnya kerap kali masyarakat mengusulkan program peningkatan prasarana dan sarana, baik yang dilaksanakan melalui swakelola maupun pihak ketiga, antusiasme masyarakat saat perencanaan dan pelaksanaan, bisa dikatakan, sangatlah tinggi. Namun begitu pekerjaan usai, terlebih lagi ketika sarana dan prasarana sudah berfungsi, aspek pemeliharaan seringkali terabaikan. Tak pelak usia infrastruktur yang seharusnya sesuai ketentuan, tidak selang lama, keretakan di sana dan di sini muncul. Ungkapan yang acap keluar dari masyarakat adalah si perencana kurang jenius, atau si pelaksana kurang becus.

Dari sinilah kemudian terjadi ketidaksengajaan yang berbuntut kedamaian di Desa Wonorejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar. Melalui komunikasi yang cukup baik antara pemerintah desa dengan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Merdeka Desa Wonorejo, akhirnya KPP pun “kecipratan” berkahnya. Karena berkat program PKT, infrastruktur yang telah dibangun selama ini, baik yang dilaksanakan melalui Program Kotaku, Pemda, maupun pemerintah desa, perlahan namun pasti menampakkan hasilnya. Pemanfaat, yang notabene Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), turut merasakan nikmatnya program PKT, sekaligus ikut berpartisipasi memelihara infrastruktur yang telah dibangun agar berfungsi dengan baik.

Melalui PKT, pemerintah desa menggerakkan MBR agar mau memelihara infrastruktur yang telah dibangun. Bersamaan itu pula KPP ikut berpartisipasi dengan menggerakan masyarakat agar berswadaya. Bermodalkan biaya sekitar Rp 5 juta-an yang diperuntukkan bagi MBR melalui program PKT, swadaya ternyata melebihi angka itu. “Masyarakat Wonorejo, kalau diperintah langsung, prosesnya agak lama. Namun, kalau dirangsang dengan kegiatan, jangan khawatir, swadaya bisa keluar dengan sendirinya,” ungkap Kades Wonorejo dengan nada bangga.

Memang kadang sebuah pembelajaran itu hadir saat ada musibah atau kendala dan persoalan. Namun tetap butuh sosok yang punya kesadaran kritis untuk merangkai potensi positif negatif yang sedang berlangsung, menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat serta damai, sehingga kesejahteraan hidup bermasyarakat akan tetap terjaga. [PL-Jatim]

Penulis: Imam Ahmadi, BKM Merdeka, Desa Wonorejo, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.