Beranda Warta Artikel BKM Mandiri, Prasyarat [Sukses] Bangun Kolaborasi

BKM Mandiri, Prasyarat [Sukses] Bangun Kolaborasi

Artikel D.I. Yogyakarta BKM Comments (0) View (1396)

Sudah semestinya BKM/LKM (badan/lembaga keswadayaan masyarakat) merubah mindset dari mencairkan bantuan pembangunan masyarakat (BPM) menjadi mencari akses, kolaborasi. Mita Dwi Aprini mengingatkan bahwa saat ini adalah era money follow program bukan money follow function. Dari menawarkan kebutuhan uang (pembiayaan), menjadi menawarkan program melalui berbagai inisiasi kolaborasi. Memang kolaborasi tidak semudah membalikkan telapak tangan, bukan bim salabim, tetapi butuh ikhtiar kuat, butuh kelembagaan yang sehat, butuh trust.

Diawali dari penguatan kelembagaan BKM, agar BKM eksis, berjalan aktif. Menurut Frey, kelembagaan dipandang sebagai variabel yang paling strategis di dalam pendekatan baru tentang teori-teori pembangunan. Bahkan peran revitalisasi, inovasi kelembagaan menempati posisi penting dan strategis dibandingkan inovasi teknologi, sosial, ekonomi, lingkungan. Sebab inovasi tehnologi, sosial, ekonomi, lingkungan hanya dapat dimplementasikan dengan baik jika adanya kelembagaan yang berfungsi efektif.

Review Kelembagaan sebagai Pintu Masuk
Di momen akhir tahun ini, saatnya BKM/LKM melakukan refleksi, evaluasi selama perjalanan 1 tahun untuk bercermin diri dan menguatkan jati dirinya. Melalui kegiatan review kelembagaan (termasuk review program dan keuangan). Melalui kegiatan review ini diharapkan dapat mendiagnosis kekurangan dan kelebihan kelembagaan BKM. Mungkin sebagian pimpinan kolektif BKM terlebih fasilitatornya merasa dilematis ketika melakukan review kelembagaan BKM. Sebagai siklus tahunan untuk melakukan mengevaluasi kelembagaan secara riil dan selanjutnya dilakukan penguatan, langkah-langkah perbaikan atas rekomendasi yang dihasilkannya. Karena Salah satu parameter sukses fasilitator, ketika BKM yang didampinginya naik kelas.

Ekspektasinya status penilaian kelembagaan BKM dari tahun ke tahun selalu naik, dari berdaya menjadi mandiri, dari mandiri menjadi status menuju madani, atau setidaknya bertahan di status mandiri atau menuju madani. Tantangannya bagaimana jika realitasnya kondisi BKM statusnya menurun? Dampak dari banyak faktor; tidak adanya dana BPM, jumlah lokasi dampingan yang semakin banyak, problem internal BKM, dan lain-lain.

Kejujuran menganalisis kelembagaan menjadi kunci, agar mendapatkan hasil diagnosa yang tepat, apakah kelembagaan BKM; sakit, sehat bahkan kuat, karena masing-masing status itu ada treatment penyembuhannya yang berbeda-beda. Janganlah karena gengsi status, lantas kita tergoda untuk menilai sehat (mandiri), kuat (menuju madani) yang sebenarnya jauh dari itu. Dampingilah proses review kelembagaan BKM dengan seobyektif mungkin guna mendapatkan analisa yang tepat tentang status BKM.

Obyektivitas diagnosis akan kelemahan dan kelebihan kelembagaan BKM, akan berdampak pada pemberian resep (rekomendasi) yang tepat untuk mengobatinya agar sehat, dan atau menguatkan, bukan sekedar mendapatkan obat atau vitamin yang terasa manis di mulut tanpa memperhatikan manfaat dan ukuran dosis bagi kebutuhan kesehatan tubuh kelembagaannya. Hindari overdosis dan malpraktek, karena akan membahayakan bagi kelangsungan hidup BKM.

Rekomendasi penyehatan yang tersusun dalam rencana tindak lanjut, diakhir tahun ini diharapkan untuk diamininya oleh representasi masyarakat dalam kegiatan rembug warga tahunan (RWT). Pada moment itu sekaligus membangun kesadaran untuk menguatkan kembali pada jati dirinya, BKM sebagai organisasi masyarakat warga, independen tidak dikendalikan oleh pihak manapun, tidak politis. Misinya membangun modal sosial dengan menumbuhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan, ikatan-ikatan sosial dan menggalang solidaritas sosial sesama warga agar saling bekerja sama demi kebaikan, kepentingan dan kebutuhan bersama, yang diharapkan kelak memperkuat kemandirian masyarakat untuk menuju tatanan masyarakat madani.

Modal sosial yang dimaksud adalah, pertama, menumbuhkan kerja sama dan kepercayaan antar anggota BKM/LKM sendiri. Kedua, menumbuhkan kerja sama dan kepercayaan antara BKM, dengan warga masyarakat, pemda, dan kelompok peduli. Ketiga, menumbuhkan kerja sama dan kepercayaan antar kelompok masyarakat. Keempat, menumbuhkan kerja sama dan kepercayaan antara BKM, masyarakat, dan pihak luar.

Kerjasama, kolaborasi merupakan fitrah kelembagaan BKM/LKM, dalam ruh kolaborasi ada nilai trust yang terbangun.[DIY]


Penulis: Sodikin, Askot Mandiri Kulonprogo
Program Kotaku Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Editor : Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.