Beranda Warta Cerita Menjaga Semangat Ke-Indonesiaan Versi BPM

Menjaga Semangat Ke-Indonesiaan Versi BPM

Cerita Jawa Timur Sidoarjo BPM KSM Comments (0) View (346)

Gotong royong merupakan salah satu ciri khas dari bangsa Indonesia yang telah ada sejak zaman dulu. Sikap gotong royong muncul karena adanya kesadaran dari setiap individu untuk meringankan beban individu lain. Sikap gotong royong merupakan sikap yang senantiasa harus dijaga untuk mempertahankan nasionalisme bangsa Indonesia. Di era modern seperti saat ini, dimana sikap invidualisme dan gaya hidup hedonis begitu mewabah, ada kecendrungan hilang dan terkikisnya semangat gotong royong, kebersamaan dan kepedulian yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia.

Berdasar rangkuman berbagai literatur, terdapat 3 dampak negatif modernisasi yaitu Pertama Pergeseran nilai-nilai kebudayaan lokal. Modernisasi yang kian berkembang telah menjadi penyebab terkikisnya nilai, adat istiadat dan kebudayaan lokal masyarakat Indonesia yang diturunkan secara turun-temurun. Kedua, Terkikisnya nasionalisme bangsa. Modernisasi dapat mengikis nasionalisme suatu bangsa dibawah pengaruh kemajuan teknologi dan informasi serta cara pandang dan budaya luar negeri. Ketiga, Bias budaya luar.

Modernisasi seringkali dikaitkan dengan konsep gaya hidup luar negeri, yaitu gaya hidup dan cara pandang yang berkiblat kepada budaya luar. Dalam hal ini, tidak semua budaya luar berdampak positif, melainkan juga dapat berdampak negatif bagi individu dan lingkungan sosialnya.

Oleh karena itu, diperlukan strategi-strategi yang tepat dan efisien dalam upaya menumbuhkembangkan kembali semangat kebangsaan di era modern ini. Pertama, penguatan kembali nasionalisme di level pendidikan formal. Kedua, masih dalam level pendidikan formal, narasi-narasi sejarah tentang kepahlawanan yang wajib munculkan kembali, diketahui, dan dipahami oleh terutama generasi muda sebagai calon pemimpin masa depan. Ketiga, penguatan semangat kebangsaan dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan budaya populer, seperti kegiatan olah raga, musik, film, kompetisi pendidikan, dan masih banyak lagi.

Lalu bagaimana dengan program dan pelaku program Kotaku, adakah peran membangun dan menguatkan semangat kebangsaan melalui peningkatan sikap gotong royong, kebersamaan dan ciri khas bangsa lainnya selain tentu penanganan permukiman kumuh. Instrument BPM (Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat) dengan segala proses yang mengiringinya merupakan media yang cukup kuat dalam merajut nilai-nilai kebangsaan. Memang, kadang tidak selalu berjalan mulus, ada sumbatan-sumbatan komunikasi para pihak yang memerlukan pendekatan berbeda dan lebih intensif agar gerak langkah para pelaku tetap seiring sejalan. Berbeda dengan desa Sooko Kabupaten Mojokerto, pelaksanaan pembangunan relatif bejalan smooth, baik dari tahap perencanaan hingga pelaporan.

Desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto Propinsi Jawa Timur adalah salah satu lokasi BPM Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat tahun anggaran 2020. Desa yang berkatagori kumuh ringan sesuai Surat Keputusan Bupati Kabupaten Mojokerto mendapat BPM senilai Rp.1.000.000.000 (Satu Milyar Rupiah). Dana tersebut digunakan untuk pembangunan 3 jenis kegiatan, yaitu pembangunan jalan paving 3 dimensi (3D), pembangunan saluran drainase plus cover beton dan pembanguna ruang terbuka public (RTP) di salah satu sudut jalan paving dan drainase yang dibangun.

Partisipasi masyarakat di sekitar pembangunan begitu kuat terlihat. Tidak hanya swadaya tunai, swadaya tenaga kerja dan material termasuk wakaf tanah di lokasi pembangunan dapat digalang Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) bersama para tokoh desa Sooko dengan nilai yang tidak kecil untuk mendukung pembangunan yang direncanakan KSM. Total swadaya (Tunai dan Non Tunai) yang berhasil dihimpun KSM adalah sebesar Rp. 293.625.400 (Dua Ratus Sembilan Puluh Tiga Juta Enam Ratus Dua Puluh Lima Ribu Empat Ratus Rupiah) dengan rincian swadaya tunai sebesar Rp. 175.400, sedangkan sisanya adalah non tunai termasuk wakaf lahan seluas 540 M2. Sebuah pencapaian swadaya yang begitu luar biasa dalam sejarah program Kotaku.

Fakta tentang jumlah swadaya yang berhasil dihimpun KSM bersama para tokoh masyarakat desa Sooko ini menjadi bukti bahwa semangat kebersamaan, kegotongroyongan dan partisipasi masyarakat desa Sooko Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto, sebagai ciri khas kehidupan sosial, begitu mengakar kuat semata untuk mencapai tujuan bersama; terciptanya lingkungan yang sehat, indah dan produktif. Dan, inilah sejatinya karakter kehidupan masyarakat Indonesia dalam kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara.

Memang, secara luas, nasionalisme dan semangat kebangsaan memang terlihat terkikis ditengah godaan kenikmatan gaya hidup modern, namun tentu dia tidak hilang. Sebagai sebuah semangat/idiologi, dia tertanam kuat di alam bawah sadar setiap rakyat Indonesia. Hanya diperlukan sedikit pemantik agar nasionalisme dan semangat kebangsaan itu muncul dan bergelora. Tidak dipungkiri, Program Kotaku (dan program-program pemberdayaan sebelumnya) Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat adalah salah satu pemantik yang telah teruji dalam membangkitkan semangat kebersamaan, gotong royong dan persatuan ditengah kehidupan social, ekonomi dan politik yang dinamis dan terus berkembang.

Tidak hanya penuntasan kekumuhan, perubahan wajah dan pengembangan ekonomi masyarakat, lebih dari itu, Program Kotaku telah menjadi budaya pop, yang sudah dikenal dan dinikmati masyarakat secara luas sebagai program yang berkontribusi langsung dalam merawat dan menjaga semangat keindonesiaan. Maju terus Kotaku, maju terus Indonesia.[Jatim]


Penulis: M. Halim Fawazi, Askot MK Livelihood Cluster 3 Sidoarjo
Program Kotaku Provinsi Jawa Timur

Editor : Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.