Dialog Lapang Pelaku, Misi Supervisi Bersama di Kab Barito Utara

Comments (0) View (1145)

B

BEBERAPA waktu lalu, tepatnya Kamis (07/10) Koordinator Kota KMW III P2KP 2/1 Kabupaten Barito Utara, Budi Yana Saefullah, menerima kunjungan Parwoto (Tim Misi Supervisi Bersama). Tim Misi Supervisi Bersama tersebut didampingi oleh Ashary Lubis (PMU Korwil Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan), Wisit Budi (Bagian Keuangan Proyek P2KP Pusat) serta Gunoro (KMP Regional Manager Kalimantan). Misi dari kunjungan tersebut adalah untuk mengetahui perkembangan proses keberlangsungan P2KP 2/1 di wilayah Kabupaten Barito Utara berikut kesiapan Tim KMW III dalam pelaksanaan program P2KP ke depan. Selain itu, kunjungan tersebut disinyalir merupakan serangkaian kegiatan untuk ‘menyuntik’ dan mengembalikan (reinventing) semangat dan etos kerja seluruh personalia Tim KMW III dalam menjalankan seluruh aktivitasnya.

Di hari pertama, Tim Misi Supervisi Bersama melakukan dialog dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Barito Utara dengan diikuti antara lain oleh Asisten Daerah III Kabupaten Barito Utara, Tim Koordinasi Pelaksanaan P2KP Kabupaten Barito Utara, Komite Penanggulangan Kemiskinan Kabupaten Barito Utara, Alumni Pelatihan Dasar P2KP dari dinas/instansi Kabupaten Barito Utara, PJOK P2KP serta Camat Teweh Tengah Kabupaten Barito Utara.

Diskusi antar pelaku tersebut dimaksudkan untuk melihat sejauhmana sosialisasi P2KP telah dilaksanakan di jajaran Pemda serta dukungan Pemda terhadap aktivitas ini, berkenaan dengan pentingnya pelibatan Pemda dalam proses P2KP melalui transformasi kesadaran kritis di kalangan Pemda. Hasilnya, diskusi yang berdurasi sekitar dua jam di kantor Bupati tersebut terbukti mampu memberikan pencerahan lebih berarti bagi Pemda mengenai substansi P2KP melalui ajang pemutaran film ‘Mencari Orang Baik’, terlebih ditunjuang dengan tanya jawab antara peserta (Pemda) dengan Tim Misi Supervisi Bersama. Selain itu juga diskusi tersebut membuahkan pemahaman yang lebih utuh antara kedua belah pihak mengenai seluruh perkembangan program P2KP di Kabupaten Barito Utara.

Di tingkat pelaku fasilitasi lapang, kedatangan Tim Misi Supervisi Bersama juga dimanfaatkan sebagai ajang diskusi pencerahan bagi Tim Fasilitator P2KP Kabupaten Barito Utara, terlebih berkaitan dengan pemahaman substansi dan proses siklus kegiatan P2KP, kelembagaan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) serta kemungkinan faktor pendukung dan penghambat jalannya kegiatan P2KP di lapangan.

Yang menarik adalah suasana ‘gayeng’ yang tertanam dalam dialog tersebut, sempat diwarnai dengan guyon dan derai tawa pembicara dan para peserta diskusi. Pembicaraan yang cukup menarik perhatian seluruh peserta diskusi tersebut adalah mengenai bagaimana mengembalikan ‘spirit’ dan etos kerja seluruh Tim Fasilitator P2KP Kabupaten Barito Utara, yang ditengarai khawatir ‘pakem’.

Dalam diskusi sempat ada ilustrasi menarik terlontar dari Parwoto yang coba menganalogikan jenis kelompok dalam masyarakat menjadi dua, yaitu Pandawa dan Kurawa. Baginya, Pandawa itu berarti pengabdian atau masyarakat yang berorientasi mengabdi, tanpa tedeng aling-aling. Sedangkan Kurawa sebaliknya, yaitu masyarakat yang berorientasi kekuasaan dan materi.

Esoknya, kunjungan hari kedua Tim Misi Supervisi Bersama dilalui dengan agenda diskusi tentang perencanaan partisipatif dan kesiapan seluruh Tim Ahli KMW III Kalimantan Tengah dalam pelaksanaan program P2KP ke depan, sekaligus pendalaman dan pemahaman substansi siklus P2KP.

Kemiskinan, Pemda, Peraturan Dan Masyarakat Ibarat Sebuah Mangkuk Dengan Tiga Penyangga
Kunjungan lapangan sepertinya menjadi salah satu dari serangkaian agenda Tim Misi Supervisi Bersama yang cukup memberikan kemenarikan tersendiri. Dan, Kelurahan Jambu menjadi acuan contoh untuk melihat secara langsung proses kegiatan masyarakat berlabel Focus Group Discussion (FGD) Refleksi Kemiskinan. Dengan didampingi oleh Rakhmad Hadiwidoyo (salah satu Fasilitator dari Tim Fasilitator 0305), Tim mengadakan tinjauan lapang tentang sejauhmana pemahaman dan kesiapan masyarakat dalam pelaksanaan siklus kegiatan P2KP.

Dialog lapang, tidak terduga memunculkan kejadian unik. Tim Misi Supervisi Bersama yang diwakili Parwoto tersebut kerapkali berusaha memahami dan menyimak ‘angen-angen sa maknane’ (Jawa-red) bahasa Dayak Bakumpay (Bakumpay merupakan salah satu bahasa etnis Dayak, selain itu ada bahasa Dayak lainnya seperti Dusun Bayan, Dusun, Ma’anyan, Ngaju, Siang Murung, dsb-red) yang merupakan bahasa mayoritas yang digunakan warga Kelurahan Jambu pada acara FGD tersebut. Namun demikian, tampaknya Parwoto tidak kehabisan akal untuk mencoba memahami arti pembicaraan FGD warga Kelurahan Jambu, dengan bertanya kepada salah seorang relawan dari warga Jambu tersebut.

Dalam kesempatan itu pula ada ‘analog cerdas’ yang diutarakan oleh salah seorang relawan yang menganalogikan permasalahan kemiskinan masyarakat, Pemda, Peraturan dan masyarakat seperti Sebuah Mangkuk Dengan Tiga Penyangga, di mana eksistensi mangkuk terkait dengan ketiga penyangganya. Artinya semua komponen tersebut harus saling mendukung untuk menanggulangi persoalan kemiskinan yang terjadi dalam masyarakat setempat.

Acara FGD diakhiri dengan pengarahan dan tanya jawab mengenai visi misi P2KP, substansi dan proses siklus kegiatan P2KP antara Parwoto dengan masyarakat, dengan tingkat pemahaman terhadap penguasaan Bahasa Indonesia sekitar 70 % untuk kemampuan mencerna verbal yang dimiliki oleh masyarakat Kelurahan Jambu. (Axl Eyia/Laporan Korkot KMW III Barito Utara; Yanti)

0 Komentar