Beranda Warta Cerita Umi Tutik: Dirimu dan Napasmu adalah Potensimu

Umi Tutik: Dirimu dan Napasmu adalah Potensimu

Cerita Sulawesi Utara Persampahan Comments (0) View (1027)

Sungguh luar biasa pembelajaran hari ini, puluhan peserta dalam ruang zoom meeting termasuk saya, sangat terpukau dan terpesona dengan penampilan seorang relawan Bank Sampah Budi Luhur dari Jakarta saat membagikan ilmu kehidupannya tentang bagaimana memberdayakan masyarakat untuk mengelola sampah.

Ibu Tutik Asmawi, yang lebih akrab dipanggil Umi Tutik mengawali sharingnya dengan memutarkan video saat dirinya dan tim mengunjungi Bantar Gebang, Tempat Pembuangan Akhir, TPA, di Jakarta. Sebagai narator dalam video itu, Umi Tutik menghantar kami peserta melihat Bantar Gebang yang telah menjadi gunung sampah, juga menyaksikan bagaimana pengolahan sampah yang telah dipilah.

Setelah menonton video yang menurut Mbak Risye dari WB, keren {karena berhasil “mengolah rasa” peserta tentang sampah), mulailah Umi Tutik bercerita panjang lebar tentang perjuangannya. Namun sebelum bercerita, Umi Tutik menyempatkan diri memperkenalkan putranya seorang anak muda yang turut dilibatkan dalam Bank Sampahnya sebagai petugas khusus mengelola informasi di media digital (wah…top deh Umi Tutik, pantas saja Videonya keren).

Umi Tutik berkisah Ketika dirinya masuk dalam Kelompok Swadaya Masyarakat, KSM, Nyiur, jamannya PNPM Mandiri Perkotaan tahun 2007, lalu, dalam perjalanannya, tahun 2014 mendapatkan dukungan dalam bentuk mahasiswa KKN dari Universitas Budi Luhur, Jakarta. Kemudian, tahun 2016, dipercaya untuk menjadi direktur Bank Sampah Budi Luhur dan ia harus memberdayakan masyarakat agar mau melakukan pemilahan sampah sendiri.

Nah, mulai dari sinilah, banyak sekali pencerahan dari Umi Tutik membuat para peserta yang berasal dari WB, KMP dan OSP sangat mengapresiasi Umi Tutik. Bahkan, Team Leader KMP, Bapak Djoko Subekti, menyebut Umi Tutik sebagai satu paket motivator, fasilitator, inspirator, organizator.

Saat menjawab pertanyaan Teh Iroh tentang tantangan bagaimana merubah pola pikir masyarakat, Umi Tutik dengan penuh semangat menjawab mulanya ia mendapatkan cibiran dari masyarakat dan ia hanya tersenyum dan bersabar, menurutnya, masyarakat hanya tidak mengerti saja, bukan tidak mau. Secara ”door to door” Umi menjelaskan ke masyarakat bagaimana memilah sampah, sampah basah dan kering. Oh iya, Umi mengingatkan penggunaan istilah, bukan “Organik dan Non Organik’, bahasa yang mudah dipahami. Tapi tentu saja, sebelum masuk ke masyarakat, Umi melakukan koordinasi dengan pihak-pihak otoritas setempat. Hal penting lainnya, kata Umi Tutik, kalo bergerak di masyarakat tidak boleh baperan. Masyarakat butuh kasih sayang dan bahasa yang digunakan di masyarakat haruslah bahasa gerak teladan, bekerja bersama-sama.

Dari apa yang telah dikerjakan Umi Tutik ternyata mengundang pihak-pihak lain untuk bermitra dengan sendirinya. Umi Tutik tidak pernah mencari tapi justru Bank Sampahnya yang dicari. Kata Mbak Risye di kolom chat, “mungkin karena sudah ada bukti keberhasilan pengelolaan (dan ada branding yang bagus juga), jadi justru dicari mitra ya, keren banget.

Lalu, ada pertanyaan tentang bagaimana pemilahan sampah bisa mendongkrak perekonomian, dengan lugas Umi Tutik menjawab bahwa sampah non organic bisa menjadi bahan untuk berkreasi dan produktif bagi masyarakat sendiri sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan biaya lagi, sementara sampah organik, bisa diolah sebagai pupuk kompos. Ecoenzym pun sempat disinggung Umi Tutik. (Google: Ecoenzym adalah hasil dari fermentasi limbah dapur organik seperti ampas buah dan sayuran, gula (gula coklat, gula merah atau gula tebu), dan air. ... Enzim dari “sampah” ini adalah salah satu cara manajemen sampah yang memanfaatkan sisa-sisa dapur untuk sesuatu yang sangat bermanfaat.

Banyak hal yang didapat dari Umi Tutik hari ini, seperti yang disampaikan Mbak Afi dari Bank Dunia, setelah mendengarkan cerita Umi Tutik, ia akhirnya menemukan sumber persoalan pemilahan sampah di lingkungannya, terletak pada petugas pengangkut sampah. Karena, percuma sampah-sampah rumah tangga sudah dipilah-pilah tapi akhirnya di “obok-obok” oleh petugas sampah sendiri. (Oh iya, Mbak Afi dalam chat mengatakan kalo dirinya barusan dipilih oleh ketua RW nya sebagai koordinator pengelolaan sampah di tempat tinggalnya, wah…selamat yaa…konon akan berkunjung ke Bank Sampah Budi Luhur untuk belajar disana).

Waktu terus bergulir, Kang Iman, yang jadi moderator mempersilakan Pak Paulus dari Bank Dunia juga menanggapi apa yang sudah disampaikan Umi Tutik. “Seberapapun kalian punya, sesedikit apapun kalian punya adalah modal”. Dirimu, napasmu adalah potensimu. Lanjut Pak Paulus, kita tidak akan pernah melangkah 100 meter jika kita belum mulai 50 meter, ini hebat. Umi Tutik mengatakan bahwa ia belajar kasih sayang dari Allah SWT, kita harus sabar dan sabar itu sakit, sakit itu sabar. Kalo kita bicara kesulitan atau masalah di masyarakat, kita harus bisa ambil solusi, dan solusinya harus yang memasyarakat juga. Keluhuran budi dan kebudian luhur kata Umi Tutik, kita harus bermodalkan SAJUTA (Sabar, Jujur dan Tawakkal).

Umi Tutik memang hebat, seperti kata Pak TL, Umi Tutik bisa menjadi seperti sekarang adalah melalui proses berdarah-darah, dinamika. Tapi dilakukan semuanya dengan senang hati, tanpa beban, bahasanya simple, jelas, mudah dimengerti, tidak bertele-tele tapi terstruktur. ini adalah ilmu ketika berhadapan dengan masyarakat, karena hati, semangat dan jati dirinya.

Teh Iroh sempat tidak bisa menahan haru nya ketika menyampaikan pandangannya tentang siapa Umi Tutik, yang dari dulu dikenalnya sebagai relawan PNPM Mandiri perkotaan, hingga saat ini tidak berubah semangatnya, bahkan semakin meningkat (hikss, jadi ikut terharu), dan meski mata masih berkaca-kaca, dan suara sedikit bergetar, Teh Iroh menyempatkan diri untuk melemparkan pantun buat Umi Tutik, “Pisang Kepok, Buah Kedondong, Jangan Kapok Dong”, heheh….iya, berharap Umi Tutik bersedia diajak jadi narasumber lagi di Kotaku.


Acara Reboan yang menjadi wadah belajar bersama ini, akhirnya ditutup dengan foto bersama….”cheese”, terimakasih Tim KMP, terlebih terimakasih Umi Tutik sudah berbagai energi positif dengan tulus, sungguh aku padamu.[Sulut]

 

Penulis: Theresia Wulansari, Sub-Proff Komunikasi
Program Kotaku Provins Sulawesi Utara

Editor : Epn

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Warta

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.