Beranda Warta Artikel Pendampingan, Roh Pemberdaya Sejati Era Kotaku

Pendampingan, Roh Pemberdaya Sejati Era Kotaku

Artikel Sumatra Barat Padang Panjang Pendampingan Comments (0) View (1024)

Secara konsep pendampingan merupakan sebuah usaha yang dilakukan dalam rangka memberi kekuatan kepada yang didampingi untuk menyelesaikan persoalan yang dihadapinya. Maka seorang pendamping mempunyi peranan yang besar untuk melakukan perubahan terhadap pribadi seseorang, sehingga pada saat belum didampingi seseorang merasa tertekan dengan masalah yang dihadapi, namun setelah ada yang mendampingi masalah semakin mudah untuk diselesaikan. Dengan demikian hakikat pendampingan adalah bagaimana member arti peda kehidupan seseorang agar mempunyai kekuatan dalam lebih optimis menghadapi persoalan kehidupan.

Pendampingan akan terasa berbuah manis ketika munculnya kesetaraan antara pendamping dan yang didampingi sehingga ketika ada kegiatan yang dilakukan bukan persengkataan yang dihasilkan tetapi keakraban dan kekerabatan untuk mencapai tujuan.

Tujuan pendampingan adalah pemberdayaan atau penguatan (empowerment). Pemberdayaan berarti mengembangkan kekuatan atau kemampuan (daya), potensi, sumber daya rakyat agar mampu membela dirinya sendiri. Hal yang paling inti dalam pemberdayaan adalah peningkatan kesadaran (consciousness). Rakyat yang sadar adalah rakyat yang memahami hak-hak dan tanggung jawabnya secara politik, ekonomi, dan budaya, sehingga sanggup membela dirinya dan bangsa.

Diprogram Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) pendamping dikenal dengan istilah fasilitator dimana tugasnya adalah melakukan advokasi, mediasi, dan fasilitasi program dalam mewujudkan tujuan program. Dengan demikian maka melihat dari pekerjaan fasilitator tersebut adalah pekerjaan yang katagorikan dengan pekerjaan yang terfakus pada fikiran dan pemberdayaan otak bukan pada tenaga ataupun kekuatan.

Dengan dasar ini maka dilihat dari kondisi lapangan dan pelaksanaan kegiatan program Kotaku pekerjaan seorang korkot, askot ataupun fasilitator seharusnya berusaha memberdayakan yang didampingi ternyata tidak semua demikian adanya. Masih banyak yang ditemukan seorang fasilitator mengerjakan sendiri pekerjaan yang dituntut oleh program sehingga menyebabkan memikul beban yang sangat berat dalam proses pekerjaan yang dilakoninya. Dari konsep yang seharusnya pendamping memberdayakan lembaga yang didampingi baik itu Pokja PKP ataupun BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) diwilayahnya tidak tercapai.

Perjalanan program Kotaku semakin lama semakin majemuk dan semakin banyak program yang dijalankan melalui mekanisme pemberdayaan, di tahun 2021 ini saja ada kegiatan Infrastruktur Berbasis Masyarakat (IBM) skala lingkungan dan skala kawasan, kegiatan Infrastruktur PPMK, kegiatan Padat Karya Tunai (Cash For Works) serta Infrastruktur skala lingkungan BDC, maka sudah seharusnya seorang pendamping tidak lagi menggunakan metode dan penerapan memikul beban pendampingan sendiri sehingga kualitas yang didampinginya semakin baik. Maka kedepan harapannya seorang pendamping harus bekerja dengan cerdas dan humanis dalam melakukan pendampingan ditingkat pemda ataupun masyarakat agar pemberdaya berhasil dengam maksimal.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar seorang pendamping atau fasilitator bisa bekerja dalam pemberdayaan. Yaitu; jangan beri ikan, tapi beri kail. Istilah ini sangat akrab ditelinga kita yaitu jangan member ikan tetapi berilah pancing, namun penerapannya cendrung berbeda ditingkat masyarakat. kita masih sering melihat seorang fasilitator lebih suka menjanjikan bantuan yang didapatkan ketika membimbing masyarakat untuk melakukan perubahan. Program sendiri juga sebenarnya sudah menegaskan bahwaanya dana Program hanyalah dana stimulan atau pancingan sedangkan untuk pelengkapnya diharapkan adanya swadaya masyarakat.

Konsepnya adalah ketika seorang pendamping tidak bisa menempatkan posisinya hanya sebagai pemberi kail, tetapi sebagai pemberi ikan atau bantuan kepada masyakat maka orang yang diberdayakannya akan menutut terjadap yang dijanjikan ketika mereka sudah mengalai sebuah proses pemberdayaan. Maka hasilnya adalah pendamping tersebut akan capek dan letih terhadap tuntutan-tuntutan yang dilakukan oleh masyarakat yang didamping. Tetapi seharusnya ketika fasilitaor duduk pada posisi hanya sebagai pemberi kail maka masyarakaat secara tidak langsung akan menggunakan pancing tersebut untuk mencari ikan atau dengan bahasa yang sedeharana adalah ketika seorang pendamping menjalankan peran dan fungsinya haya sebagai seorang yang memfasilitasi masyarakat untuk mendapatkan program maka tentunya masyarakat tersebut akan sadar dengan sendirinya ketika modal sudah ada maka tentunya mereka akan mencari modal itu digunakan untuk apa sehingga menghasilkan sesuai yang baik buat mereka.

Selanjutnya membangun organisasi belajar masyarakat. Program Kotaku telah memberikan arahan yang jelas untuk penyelesaian kumuh secara tuntas. Maka untuk itu ada beberapa langkah atau strategi pendamping dalam pencapaian tujuan Program. Strategi tersebut adalah menjadi tenaga pendamping yang humanis.

Berbicara masalah humanis maka asal katanya adalah humanism yang bermakna memanusiakan manusia. Pekerjaan pendamping pada dasarnya adalah sebuah pekerjaan bagaimana memanusiakan manusia, maka realiatas dilapangan adalah bagaimana seorang pendamping mampu memberikan pemahaman kepada warga miskin bahwa manusia pada dasarnya adalah mempunyai kemampuan dalam segala hal, karena manusia dilengkapi dengan akal dan fikiran. Maka dengan memaksimalkan akal dan fikiran manusia bisa mengatasi semua persoalan dan mampu menjadi seperti apa visi apa yang telah dibangun sebelumnya. Konsep dan pemikiran ini seharusnya ditransfer kepada masyarakat melalui metode pembelajaran orang dewasa (POD).

Seorang pendamping masyarakat mempunyai hak penuh atas orang yang diberdayakannya. Pendamping dalam sebuah komunitas dituntut untuk banyak melakukan kreativitas dan inovasi dengan memperbanyak pengalaman baik yang didapatkan dari buku maupun dari hasil pengalaman lapangan. Disamping itu seorang pendamping dituntut untuk meningkatkan kapasitas/kemampuannya dengan melihat keberhasilan orang-orang sebelumnya dalam melakukan pendampingan. Dengan demikian diharapkan kreatifitas seorang pendamping dapat menimbulkan rasa kepercayaan terhadap kemampuan yang dari komunitas yang didampingi atas pengakuan tentang kemampuan. Dengan prinsip pendamping yang memberikan nuansa humanis bagi sebuah komunitas yang didampingi akan memberikan kontribusi positif dan mempunyai pengaruh yang bagus atas pencapaian tujuan pendampingan.

Jadilah pendamping yang inovatif. Sering kali persoalan inovasi dianggap hal yang sepele dalam pendampingan karena membutuhkan waktu yang lama untuk menerapkan ide-ide dalam menjadikan seseorang menjadi orang yang mempunyai inovasi yang tinggi dalam bekerja. Inovatif merupakan prinsip dari visi seseorang untuk membawa kemana orang yang didampingi. Seorang pendamping yang inovatif terlihat dari kebiasaannya sehari-hari yaitu selalu mencari gagasan dan ide yang baru dan Up To Date dalam rangka memberikan yang terbaik untuk masyarakat. Untuk memunculkan ide kreatif tersebut banyaklah belajar dengan tidak takut terhadap akan kegagalan sebuah teori, yang terpenting adalah bagaimana menggali ide tersebut. Ketika menemukan sebuh kegagalan maka jangan berhenti pada kegagalan tersebut tetapi jadikanlah gagasan yang gagal tersebut menjadi bahan inovasi lagi untuk dilakukan perbaikan.

Menjadi pendamping yang tangguh dan tahan banting. Seorang fasilitator yang handal atau tangguh memiliki beberapa karakter khusus, seperti memahami dan menguasai konteks program yang difasilitasi, memahami isu dan permasalahan yang dihadapi, bisa menemukan isu strategis atau inti permasalahan dan apa yang harus dilakukan, bermental solutif, selalu berpikir bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan, berpikir inovatif untuk hasil yang bernilai, menyadari mandat, misi dan menjaga nilai dari program yang difasilitasi, serta tidak hanyut dalam keinginan bebas yang berujung pada tidak tercapainya misi program.

Sebagai fasilitator, ada beberapa hal yang harus dihindari dalam menjalankan tugas sebagai fasilitator, yaitu sikap inferior, yang berpikir bahwa “saya ini hanya fasilitator”, merasa lebih rendah dari profesi dengan sebutan konsultan dan tidak percaya diri. Selanjutnya, memiliki anggapan salah bahwa fasilitator itu hanya berhubungan dengan pendampingan masyarakat. Sikap yang harus dihindari lainnya, yaitu sikap merasa cukup dan tidak termotivasi untuk belajar mengembangkan diri untuk menguasai substansi program yang difasilitasi. Jika ingin dikatakan sebagai fasilitator yang handal dan tangguh, maka fasilitator harus dapat membuktikan bahwa mereka mampu melampaui target yang harus dipenuhi, mampu berbagi ilmu keberhasilan dan ide solusi, serta berpikiran out of the box terhadap pencapaian target supaya lebih efisien dan efektif.[Sumbar]

 

Penulis: Anggia Safira, Asisten Kelembagaan dan Kolaborasi Korkot 6 Padang Panjang
Program Kotaku Provinsi Sumatra Barat

Editor : Epn

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.