Beranda Warta Berita Seleksi Faskel: Antara Idealisme, Kebutuhan Pekerjaan dan Kompetisi Sehat

Seleksi Faskel: Antara Idealisme, Kebutuhan Pekerjaan dan Kompetisi Sehat

Comments (0) View (1101)

P

PUSINFO datang ke wilayah KMW 15 (2/2) bersamaan waktu dengan agenda tes FGD dan wawancara calon Fasilitator, sejak 6 hingga 7 November 2004 lalu. ‘Nimbrung’ di warung es-kopi pinggir jalan, mendapati beberapa teman Fasilitator P2KP lama tengah bercengkerama berkenaan rekruitmen Fasilitator yang kini sedang mereka hadapi. “Sebagai pelaku lama sejak P2KP 1/1, sepertinya P2KP sudah ‘khatam’ (tamat mempelajarinya--red), cuma persoalannya apakah kita nanti dipakai walau sudah mengantongi serifikat 5 tahun P2KP,” ungkap M. Hatta Iskandar, mantan Senior Faskel dari KMW 12 (1/2) yang baru selesai mengikuti seleksi FGD di KMW 15.

Senada dengan M. Hatta, beberapa mantan Faskel yang telah berinteraksi lama sejak P2KP 1/1 tahun 1999 lalu seperti Amirul Hadi, Eko Wahyu, Damayanti, Nani Saodah, M. Sholeh, juga menyatakan ketidakpastiannya akan posisi mereka. “Semua sama, serba tidak pasti walau sudah jadi ‘mbahnya’ (kakek--red) P2KP, dan ada juga kemungkinan kita tidak dipakai walau telah mengalami 2 periode masa P2KP,” tutur Amirul Hadi, mantan Faskel P2KP.

Walau sebenarnya para Faskel sudah paham akan resiko kerja proyek yang hanya dibatasi kontrak per-beberapa tahun saja, cuplikan lontaran beberapa Faskel diatas cukup membuktikan akan adanya kegundahan di kalangan pelaku lapang (Faskel--red), tentang persoalan keberlanjutan pencarian nafkah. Diakui atau tidak, posisi Faskel selain dipahami sebagai ajang aktualisasi diri akan transformasi nilai-nilai ke masyarakat serta ajang pilihan hidup kemasyarakatan, Faskel juga dipahami dalam konteks pekerjaan berkala. “Ya ibaratnya pekerja sosial yang profesional alias kerja kemasyarakatan yang dibayar,” ujar Bambang, seorang mantan Faskel Senior di KMW 12 (1/2).

Sehingga wajar, apabila masa kontrak habis, terutama untuk beberapa Faskel yang hanya mengandalkan pekerjaan ini sebagai sarana menggantungkan hidupnya secara materi, akan ada upaya-upaya memperpanjang ‘kepulan asap dapur’. Maka, masa-masa ‘mendebarkan’ bagi seorang Faskel adalah saat dimana proyek akan berakhir. Dan masa-masa ‘kritis’ bagi Faskel adalah saat mencoba mengaitkan keberlanjutan nafkah hidup kembali pada kait proyek lanjutan. Sehingga akan sangat dipahami bila saat rekruitmen Faskel sebagaimana terjadi saat ini sangat berarti bagi pelaku program ini terutama Faskel. “Namun, meski membutuhkan pekerjaan ini, kami tidak akan memakai segala cara yang tidak benar untuk mendapatkannya, karena kami paham ini bukan sekedar pekerjaan, namun lebih pada pilihan hidup untuk memberikan sesuatu kebaikan pada diri sendiri dan orang lain,” tegas Bambang dengan penuh keyakinan.

Sebagai Dewan Juri dalam proses rekruitmen Fasilitator khususnya di Wilayah KMW 15, Tim A yang merupakan gabungan subtansi P2KP yang diwakili oleh Rikawanto dengan keberpihakan/dukungan jajaran birokrasi kepada persoalan penanggulangan kemiskinan yang diwakili oleh Bapeprof Jawa Timur melalui Surya Wijaya ditambah personil dari KMW 15, seperti layaknya ‘Dewa’ bagi kepastian keberlanjutan pencarian nafkah Faskel. Sempat bertemu dengan Pusinfo dalam agenda FGD/wawancara proses rekruitmen Fasilitator KMW 15 mulai 6 November hingga 7 November 2004, di Kantor KMW 15 (2/2), Jalan Argopuro 12A, Tiyudan, Gondang, Tulungagung.

Dengan gaya khas murah senyum yang dimiliki Rikawanto, personel KMP ini berbicara tentang dinamika seleksi terutama dalam proses FGD yang dilaksanakan oleh 111 calon Fasilitator. “Rata-rata peserta cenderung terpaku pada masa lalu. Kalau ditanya misalnya masalah RK, mereka jawabnya cerita yang lalu-lalu, tapi lupa bahwa persoalan itu harus dicarikan jalan keluarnya,” tutur pria familiar ini. “Jadi, yang terjadi mereka lupa bahwa masalah itu jangan terus disoroti, tapi ketika ini ada masalah, langsung tanggaplah bahwa harus segera dicarikan solusi taktisnya, dan itu yang harus dimiliki seorang Fasilitator,” tambah Rikawanto menegaskan.

Hampir sama dengan Rikawanto, Surya Wijaya selaku Tim Rekruitmen Fasilitator untuk SWK 15 (2/2) menyatakan rata-rata calon Fasilitator yang mengikuti FGD memang masih lemah di pemahaman subtansi. Sedangkan Sukardi, selaku Monev di KMW 15, cenderung menjelaskan masalah indikator penilaian dari rekruit Fasilitator (termasuk juga Asisten Korkot) di SWK 15. “Tanpa kecuali, semua harus melalui proses yang telah kita tetapkan, antara lain meliputi kemampuan/kompetensi, performa dan tentunya sangat kita prioritaskan pelaku P2KP lama serta harus Computer Minded,” ungkap Sukardi. “Dan khusus untuk Asisten Korkot, kita juga akan pakai uji Fit and Proper Test,” Sukardi melanjutkan.

Yang pasti, dari ketiga personel Tim Rekruitmen wilayah 15 ini mempunyai satu kata yang sama untuk mengusung proses rekruitmen yakni “Fair Play”. “Kuncinya hanya satu yaitu Fair Play, artinya tidak perduli titipan atau tidak, Faskel lama atau baru, P2KP atau tidak semua bebas untuk mengikuti proses, asalkan taat koridor,” ungkap Rikawanto. “Titipan kalau memang capable dan lulus seleksi, kenapa tidak, atau walaupun bukan titipan tapi tidak capable, ya jelas tidak diterima,” Sukardi menambahkan.

Masa saat terjadi seleksi Faskel memang unik. Banyak dinamika yang bisa dipetik sebagai pelajaran hidup. Pertama, bahwa memposisikan diri sebagai Fasilitator adalah pilihan hidup yang sarat nilai-nilai idealisme kemasyarakatan dan kebaikan. Kedua, berprofesi sebagai Fasilitator Kelurahan adalah imbas dari persoalan material yakni pemenuhan tuntutan hidup dan kebutuhan pekerjaan. Dan ketiga adalah harus ada keterikatan positif antara nilai-nilai idealisme Fasilitator dengan tuntutan profesi sebagai Faskel, dan keterikatan itu salah satunya akan dibuktikan melalui proses rekruitmen atau seleksi Faskel dengan sangat sehat dan fair. (Yanti)

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.