Beranda Warta Artikel Ini, Rahasia 'Nge-Baseline'

Ini, Rahasia 'Nge-Baseline'

Program Kotaku Kotaku Bali GIS SIG Comments (0) View (122)

Pembelajaran identifikasi aspek-aspek kumuh dengan melakukan proses baseline akan menghasilkan numerik (angka) dan kesimpulan status kumuh suatu wilayah apakah termasuk kumuh ringan, sedang atau berat dengan prosentase masing-masing indikator yang berpengaruh sebagai penyebab kumuh. Secara umum tahapan baseline dibagi menjadi 6 tahapan, yakni: 1) survey dan identifikasi awal kekumuhan, 2) delineasi permukiman kumuh, 3) pendataan dan proses penilaian, 4) agregasi, 5) penyepakatan hasil kumuh bersama stake holder terkait, 6) pengajuan SK kumuh.
 
Tahapan 1 dan 2 dalam proses baseline menjadi hal yang mendasar, dikarenakan saat survey dan identifikasi awal kita akan menentukan luasan delineasi. Luasan tersebut dapat dihitung dan dapat dipertanggung jawabkan hasilnya secara akademik melalui pendekatan penginderaan jauh dan informasinya dapat disajikan melalui Sistem Informasi Geografis (SIG). Pertanyaannya mengapa menggunakan pendekatan penginderaan jauh dan SIG?

Luasan delineasi kumuh biasanya lebih 1 hektar dan lokasinya tidak hanya pada satu basis saja, disisi lain kita juga dikejar oleh waktu untuk menyelesaikan baseline. Tidak mungkin kita menarik meteran, kemudian berkeliling di delineasi kumuh tersebut untuk menghitung luasannya. Belum lagi semisal ada jalan dan drainase, kita harus mengukurnya satu-persatu dengan meteran. Tentunya hal tersebut tidak akan efisien. Perkembangan ilmu pegetahuan dan teknologi kemudian menemukan cara yang lebih efisien untuk mengukur suatu wilayah dan menginformasikan berbagai informasi keruangan yang ada pada suatu wilayah. Pendekatan tersebut disebut dengan penginderaan jauh (remote sensing) dan cara pengolahannya disebut Sistem Informasi Geografis (SIG).

Sebenarnya SIG itu adalah alat (tools) yang digunakan untuk mengolah berbagai informasi yang didapatkan, baik melalui pendekatan terrestrial ataupun penginderaan jauh. Selama ini masyarakat mengenal pendekatan penginderaan jauh sebagai SIG dengan salah satu tools-nya yang sering digunakan, yakni ArcGIS. Sedangkan jika pendekatannya terrestrial masyarakat lebih mengenal AutoCAD sebagai tools pengolahannya. Padalah sebenarnya baik terrestrial maupun penginderaan jauh, jika informasinya disajikan melalui sebuah system keruangan sama-sama termasuk SIG. Jadi terrestrial dan penginderaan jauh merupakan pendekatannya sedangkan SIG adalah tools untuk mengolah dan mengajikan informasinya.

Belajar dari proses baseline ditahun sebelumnya, luasan dan cakupan delineasi kumuh masih belum sesuai dengan kaidah pemetaan. Sistem proyeksi yang digunakan belum jelas, sehingga saat data shapefile (shp) delineasi kumuh tersebut diberikan ke orang lain akan eror. Saat delineasi kumuh tersebut mendapatkan pendanaan dan masih menyisakan spot-spot kumuh, teman-teman faskel dan pemda akan bertanya-tanya, “dimanakah sisa lokasi tersebut ?”. Kemudian pada baseline juga memuat informasi mengenai kondisi air minum, kondisi sanitasi, RTLH, Difabel, dan yang lainya. Namun informasi ini juga sering kali belum dapat dipastikan “apakah berada di dalam delineasi dan dimanakah sebarannya ?”. Kelemahan-kelemahan baseline di tahun sebelumnya dapat dioptimalkan dengan SIG.

Saat proses tahapan survey dan identifikasi awal kekumuhan, serta delineasi permukiman kumuh asisten GIS, Askot Infra, Askot UP dan team faskel melakukan FGD bersama masyarakat untuk menunjukan batas basis. Uniknya di Provinsi Bali, basis yang merupakan unit terkecil wilayah administrasi ada banjar dinas atau dusun. Berbeda dengan wilayah lainnya yang memiliki RT. 
 
Permasalahan yang sering terjadi yakni masih adanya mainset kepala dusun bahwa wilayah dusun didasarkan pada status kepemikian KTP. Semisal Pak Budi ber-KTP dusun A, namun secara realita bermukim di wilayah B. Kepala Dusun akan mengatakan wilayah dirumahnya Pak Budi ada wilayah A. Kemudian tetangganya Pak Budi ber-KTP dusun C, dianggap juga sebagai wilayah dusun C. Karena pada dasarnya konsep wilayah di Bali adalah wilayah adat atau wewidangan desa adat. Selama masih dalam satu desa adat, masyarakat biasanya tidak akan menghiraukan berada di dusun manapun, selama secara adat masih dalam lingkup wilayah desa adatnya. Team KOTAKU sering kali memberikan pemahaman bahwa walaupun KTP penduduknya berbeda, walaupun berada di wilayah administrasi yang berbeda tetap dianggap berada di wilayah administrasi tersebut.

Setelah diketahui batas dusun yang menjadi batas basis, kemudian dilakukan identifikasi lokasi terduga kumuh. Askot Infrastruktur menjelaskan terlebih dahulu mengenai indicator kumuh, setelah itu baru masyarakat diminta menunjukan lokasinya melalui peta dan dilanjutkan dengan survey. Setelah itu dilakukan dokumentasi dan penilaian terhadap parameter kumuh. Selanjutkan dilakukan rekap penilaian melalui diskusi bersama team faskel. 

Setelah didapatkan nilai kumuh dan status kumuh pada masing-masing delineasi, dilanjutkan dengan FGD dan penyepakatan kumuh di tingkat Desa dan Kabupaten. 
 
Pembelajaran yang dapat diambil dari proses baseline menggunakan GIS adalah semakin akuratnya cakupan dan luasan delineasi, terdatanya lokasi kumuh dengan informasi baselinenya, pihak desa dan pemda mempunyai gambaran mengenai kondisi kekumuhan di wilayahnya secara spasial. Pihak Desa mengetahui dengan jelas batas administrasi dusunnya.[Bali]

 

Penulis: I Made Satya Graha, Asisten GIS OSP-5
Program Kotaku Provinsi Bali

 


Editor: EPN

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.