"> ">
Beranda Warta Berita BKM Julu Ati Gagas Rumah Pendidikan Anti-Narkoba

BKM Julu Ati Gagas Rumah Pendidikan Anti-Narkoba

Program Kotaku Kotaku Sulawesi Selatan Sulsel Makassar Bara Baraya Selatan Anti-Narkoba Narkoba Comments (0) View (496)

BKM Julu Ati Kelurahan Bara Baraya Selatan menggandeng Gerakan Pemerhati Penyalahgunaan Narkoba (GPPN) Sulawesi Selatan pada Ahad, 10 Oktober 2021 bertempat di Kantor Kelurahan Bara Baraya Selatan dalam mensosialisasikan bahaya Penyalahgunaan Narkoba pada Masyarakat. Maraknya peredaran narkoba dan zat adiktif lainnya di Indonesia, khusunya di Kota Makassar yang belakangan ini amat populer di kalangan remaja dan pemuda mendorong BKM Julu Ati Kelurahan Bara Baraya Selatan bersama GPPN melakukan sosialisasi BKM Julu Ati Kelurahan Bara Baraya Selatan kepada masyarakat di lingkungan Kelurahan Bara Baraya Selatan.

Sebelum materi sosialisasi dimulai, terlebih dahulu Ketua GPPN Sulawesi Selatan Faisal Hamzah Barlian memberikan simulasi dalam bentuk game atau permainan menyusun puzzle, yang terlihat begitu antusiasnya masyarakat mengikuti game ini dan dalam game ini membagi beberapa peserta dalam kelompok. Tujuannya selain menambah daya nalar peserta dalam mengelaborasi permasalahan, juga diharapkan peserta memiliki rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan masalah. Hal inilah menjadi tujuan dari sosialisasi narkoba ini agar peserta tidak hanya bisa mengetahui dampak dari penyalahgunaan narkoba tapi memiliki rencana aksi mencegah dan mengatasi penyalahgunaan narkoba di lingkungan wilayahnya masing-masing.

Narkotika adalah zat atau obat baik yang bersifat alamiah, sintetis, maupun semisintetis yang menimbulkan efek penurunan kesadaran, halusinasi, serta daya rangsang. UU Narkotika pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa narkotika merupakan zat buatan atau pun yang berasal dari tanaman yang memberikan efek halusinasi, menurunnya kesadaran, serta menyebabkan kecanduan. Obat-obatan tersebut dapat menimbulkan kecanduan jika pemakaiannya berlebihan. Pemanfaatan dari zat-zat itu adalah sebagai obat penghilang nyeri serta memberikan ketenangan. Penyalahgunaan narkoba merupakan suatu penyimpangan perilaku yang disebabkan oleh penggunaan yang terus menerus sampai terjadi masalah. Penyalahgunaan narkoba akan mengalami kondisi lanjut yaitu ketergantungan berupa sindrom.

Dalam materi sosialisasi yang disampaikan Ketua GPPN menjelaskan tentang bahaya dan dampak narkoba bagi kesehatan yang dapat menurunkan kesadaran seseorang apalagi dengan penggunaan terus menerus yang mengakibatkan seseorang sulit mengenal lingkungan sekitarnya. Bahkan menurutnya dampak dari penyalahgunaan narkoba akan memperburuk kualitas hidup seseorang, keluarga menjadi kacau, akan selalu terjerat hukum bahkan memperburuk risiko kesehatan yang akan berdampak kepada kematian.

Data BNN mencatat sekitar 3.419.188 orang di Indonesia menyalahgunakan narkoba. Sehingga dapat dikatakan terdapat 180 dari tiap 10 ribu penduduk Indonesia berumur 15 hingga 64 tahun terpapar memakai narkoba. Sekitar 50 orang meninggal setiap hari karena narkoba dan kerugian ekonomi maupun sosial mencapai Rp 63 triliun per tahun. Sementara secara global jumlah pengguna narkoba diperkirakan akan meningkat 11 persen sampai 2030.

Permasalahan penyalahgunaan narkoba di Indonesia pun juga beragam. Antara lain penyelundupan narkoba lewat jalur laut oleh jaringan sindikat, peredaran narkoba jenis baru, serta penyalahgunaan oleh penduduk usia produktif 15-64 tahun. Maraknya permasalahan penyalahgunaan narkoba di Tanah Air memang tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi yang salah satunya adalah faktor ekonomi dan hal ini dapat dilihat dari prevalansi tingginya penyalahgunaan narkotika di Tanah Air.

Dalam pandangan yang disampaikan oleh Ketua GPPN Sulawesi Selatan di Tanah air sangat kompleks untuk dikaji dan dianalisis karena selain faktor ekonomi ada faktor lain yang berperan seperti; faktor lingkungan, keluarga, dan individu. Bahkan dikatakan 27 persen penyalahgunaan narkotika disebabkan oleh faktor individu dikarenakan keinginan mencoba.

Berdasarkan data yang ada disebutkan kerugian ekonomi akibat dampak ekonomi dari penyalahgunaan narkotika mencapai 48, 2 Trilyun (2011) terdiri atas Rp. 44,4 trilyun kerugian biaya individual (private) dan Rp. 3,8 trilyun adalah biaya sosial. Pada biaya privat, sebagian besar (39%) untuk biaya konsumsi narkoba. Sedangkan pada biaya sosial sebagian besar (90%) diperuntukkan bagi kerugian biaya akibat kematian karena narkoba (premature death). Hal ini menunjukkan bahwasanya dari sisi asumsi ekonomi, penyalahgunaan narkoba secara empirik akan menambah beban ekonomi masyarakat, khususnya kepada masyarakat dalam kategori menengah ke bawah yang hidup dalam kemiskinan dan terjerat penyalahgunaan narkoba. Biaya yang harus mereka keluarkan akibat dari kecanduan dan belum adanya jaminan kesehatan khusus bagi korban narkoba.

Alhasil penyalahgunaan narkoba sering dikaitkan dengan permasalahan kemiskinan sebagai sumber dari segala penyakit sosial, ekonomi, dan budaya di masyarakat. Pembangunan infrastruktur selama ini bukanlah solusi dalam mengatasi kemiskinan. Kemiskinan adalah sesuatu yang begitu kompleks untuk dikaji dan dianalisis dan akan selalu ada dan akan selalu muncul dengan persoalan hidup lainnya. Akan tetapi melenyapkan kemiskinan juga berbahaya. Oleh sebab itu, kemiskinan tersebut tidak mutlak harus dihilangkan tapi yang penting mengendalikannya agar tidak merusak tatanan sendi kehidupan.

Kolaborasi yang ingin dilakukan oleh BKM Julu Ati melalui Program KOTAKU ini bersama GPPN Sulawesi Selatan adalah mengurangi kemiskinan, karena diyakini bahwa tingginya angka kemiskinan dan pengangguran dapat menyebabkan meningkatnya peredaran dan penyalahgunaan narkoba. bisa dikatakan bahwa bisnis narkoba secara umum telah menjadi ladang penghasilan, namun dampak yang ditimbulkannya tentunya merusak seluruh sendi kehidupan masyarakat. Untuk itu selain tindakan preventif melalui sosialisasi ke masyarakat, maka diperlukan tindakan kuratif dalam memberikan lindungan kepada Pemakai.

Maka BKM Julu Ati Kelurahan Bara Baraya Selatan melalui Program KOTAKU akan menggagas "Rumah Pendidikan Narkoba" sebagai tempat untuk mengkampanyekan pendidikan narkoba di kalangan masyarakat Kelurahan Bara Baraya Selatan dan akan bekerja sama dengan GPPN Sulawesi Selatan. Dan tentunya hal ini akan disinergikan dengan Pengembangan Lorong Garden yang saat ini menjadi Program Pemerintah Kota Makassar, seperti keberadaan Lorong Pendidikan yang ditetapkan oleh Lurah Bara Baraya Selatan yang tentunya menjadi salah satu hal yang memiliki daya tarik untuk dikembangkan agar mampu mencegah segala bentuk peredaran dan penyalahgunaan narkoba dikalangan pemuda dan remaja. Sehingga memang keterlibatan semua user diperlukan di dalamnya termasuk pemuda dan remaja untuk dibekali dengan pengetahuan dan latihan sehingga Kelurahan Bara Baraya Selatan bisa menjadi wilayah "bersih" dari narkoba.[Sulsel]

 

 

Penulis: Harman Thahir, Sekretaris BKM Bara-Baraya Selatan
Program Kotaku Provinsi Sulawesi Selatan

 

 

Editor: EPN

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Warta

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.