Beranda Warta Cerita DFAT 2021 'Investasi Total' WASH di Tegal

DFAT 2021 'Investasi Total' WASH di Tegal

Program Kotaku Kotaku Jawa Tengah Jateng Tegal MBR DFAT WASH Sanitasi SWA Pandemi COVID-19 Comments (0) View (85)

Kota Tegal merupakan salah satu kota yang mendapatkan alokasi dana DFAT dalam Program KOTAKU pada Tahun Anggaran 2021 dan sebagian wilayahnya merupakan kawasan permukiman kumuh pesisir. Kawasan tersebut dihuni oleh masyarakat yang mayoritas mata pencahariannya bergantung pada laut. Tidak jarang, di kawasan tersebut mengalami kenaikan permukaan air laut dan masuknya air laut ke daratan (rob).

Masyarakat hanya mempunyai kapasitas yang relatif minim untuk mengelola risiko secara fisik dan finansial, serta dalam membuat keputusan adaptasi jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa kawasan pesisir Kota Tegal merupakan kawasan yang cukup rawan dan rentan terhadap bahaya, seperti bahaya alam yang diakibatkan oleh perubahan iklim.

Analisis Karakteristik Permukiman Kumuh Pesisir Kota Tegal terdiri dari analisis karakteristik fisik infrastruktur dan analisis karakteristik masyarakat. Berdasarkan kedua analisis tersebut maka permukiman kumuh pesisir di Kota Tegal dapat ditipologikan menjadi beberapa zona, yaitu zona permukiman kumuh penduduk padat dan jambanisasi buruk, zona permukiman kumuh MBR dan sanitasi (limbah industri) buruk, zona permukiman kumuh penduduk miskin, kondisi bangunan, jalan dan distribusi air bersih buruk, serta zona permukiman kumuh masyarakat acuh (tidak peduli lingkungan) dan persampahan buruk.

Dari beberapa analisis karakteristik bahaya perubahan iklim dan kerugian fisik pada permukiman kumuh di atas, maka permukiman kumuh pesisir di Kota Tegal dapat ditipologikan menjadi beberapa zona. Yakni zona Kerugian kontaminasi sumber air baku karena salinitas air yang tinggi dari rob yang masuk melalui sungai dan aliran bawah tanah.

Pertama, kelangkaan air mengancam lebih banyak negara setiap tahun. Kita membutuhkan solusi yang membuat setiap tetes berarti. Kedua, jutaan orang di seluruh wilayah kekurangan akses ke sanitasi. Sanitasi adalah barang publik yang membutuhkan dana publik. Ketiga, meskipun pentingnya mencuci tangan untuk pencegahan penyakit telah mendapat perhatian yang lebih besar, kita sekarang harus mempertahankan pencapaian diluar pandemi COVID-19. Terakhir, terlalu banyak sekolah dan fasilitas perawatan kesehatan kekurangan sarana WASH sehingga mengancam kesehatan anak-anak dan siapa pun yang ingin memperoleh kesehatan. Biaya penyediaan layanan dasar air minum, sanitasi, dan higiene (WASH) adalah sebagian kecil dari biaya yang kita keluarkan dan biaya ekonomi akibat buruknya layanan WASH.

Pandemi Covid-19 telah mengingatkan dunia bahwa mencuci adalah salah satu tindakan paling efektif untuk mengalahkan setiap dan semua penyakit bakteri, virus termasuk Covid, dan untuk memenuhi tujuan visi berkelanjutan (SDGs) untuk penyediaan sarana air minum, sanitasi dan higiene di semua pusat kesehatan dan pendidikan yang memiliki potensi perbaikan dan meningkatkan kesehatan.

Terdapat tiga hal menarik disampaikan oleh Kevin Rudd, adalah: pertama, krisis COVID-19 adalah kesempatan untuk berinvestasi dalam layanan WASH dengan cara yang akan mengendalikan penyebaran virus dan membangun kembali ekonomi pada saat yang bersamaan. Kedua, mencari contoh dari India dan dampak penghapusan parsial untuk menghilangkan buang air besar. Proyek ini menciptakan total juta pekerjaan dari total investasi $ 12,7 miliar. Ini telah berubah di India. Investasi di sector WASH tidak hanya membantu perekonomian dalam jangka panjang tetapi memaksimalkan nilai dana publik. Investasi ini menghasilkan keuntungan besar atas penggunaan modal publik.

Ketiga, adalah menggunakan kesempatan ini sebagai momen untuk merevitalisasi pendekatan melalui identifikasi area inovasi dan peluang baru untuk pendanaan. Sebagai contoh, SWA (Sanitation and Water for All) menghabiskan banyak waktu untuk mengembangkan buku pegangan praktis, buku pegangan Menteri Keuangan, buku referensi yang jelas dan ringkas bagaimana negara dapat membiayai proyek air dan sanitasi.

Ada banyak sekali sumber keuangan alternatif. Beberapa, tentu saja, menarik pendapatan pemerintah umum. Yang lain memanfaatkan penerapan tarif tertentu yang produktif. Yang lain menggunakan dana campuran dengan sektor komunitas lokal. Yang lain menggunakan dana campuran dari sektor swasta lokal dan proyek swasta yang lebih besar mungkin melibatkan investasi oleh sektor swasta internasional dan lembaga keuangan swasta. Kemudian memperoleh dana dari bank pembangunan ADB dan Bank Dunia dan dari lembaga serupa lainnya di dalam negeri.

Solusi harus melibatkan kaum muda, pengusaha, dan inovator. Untuk itu SWA, sebagai platform global untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 6 (SDGs #6) menyerukan para Menteri Keuangan dan semua mitra untuk bersama-sama memenuhi visi tersebut untuk generasi saat ini dan semua yang akan datang. Ada keprihatinan khusus tentang penyediaan air minum dan sanitasi yang aman bagi 20 juta orang yang tinggal di negara-negara berkembang kepulauan kecil, diantara populasi paling rentan di kawasan ini terhadap perubahan iklim.

Secara global kita berada di luar jalur yang mengkhawatirkan untuk memenuhi komitmen menuju tujuan SDGs #6 untuk air minum dan sanitasi. Untuk mencapai tujuan 2030, tingkat kemajuan sanitasi perlu ditingkatkan empat kali lipat.[Jateng]

 

 

 

Penulis: Chika Chaerunnissa, Askot Watsan Kota Tegal
Program Kotaku Provinsi Jawa Tengah

 


Editor: EPN

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.