Beranda Warta Cerita Mbah Lurah, 'Motor' CFW Bandung

Mbah Lurah, 'Motor' CFW Bandung

Program Kotaku Kotaku Jawa Tengah Jateng Kabupaten Sragen Sragen KSM BKM CFW Comments (0) View (185)

Mbah Lurah Bandung... Begitulah sosok Kepala Desa Bandung, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen disapa. Pria berjenggot putih kelahiran Sragen, 18 April 1943 bernama Supardi ini merupakan sosok kepala desa yang sederhana dan berwibawa yang sangat intens terutama dalam kegiatan pembangunan Desa Bandung. Di usianya yang sudah senja menginjak 80 tahun ternyata semangat beliau bukan menurun tapi justru sebaliknya, semakin tinggi sehingga menjadi motivasi bagi warga masyarakatnya terutama aparat desa setempat yang mendampingi beliau bekerja sebagai Kepala Desa Bandung.

Desa Bandung pada 2021 mendapatkan alokasi dana CFW dari Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) sebesar Rp 300 juta; yang merupakan kegiatan Padat Karya Tunai. Pelaksanaan CFW di Desa Bandung telah disepakati antara KSM dengan pekerja bahwa pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan POS dari CFW yaitu minimal enam jam, maka pelaksanaan dimulai pukul 06.00 hingga pukul 13.00 siang.

Dalam pelaksanaannya, setiap pagi sebelum dimulai pekerjaan diadakan apel pagi dan pengarahan dari KSM, dan hampir dua hari sekali Mbah Lurah Bandung selalu hadir di tengah-tengah warga masyarakat untuk memberikan motivasi warganya dengan harapan para warga bisa lebih bersemangat dalam pelaksanaan PKT ini. Karena apa ? bahwa kegiatan ini merupakan salah satu terobosan dari Kementerian  PUPR  dengan mempertimbangkan dampak pandemi yang lebih luas lagi terhadap Covid-19, maka di luncurkanlah kegiatan Cash for Work (CFW) dengan memberikan penghasilan tambahan untuk kelompok berpenghasilan rendah.

Selain berkecimpung dalam kegiatan fisik, Mbah Lurah juga sangat antusias dalam kegiatan pelatihan masyarakat yang dilaksanakan oleh KSM. Dalam sebuah kesempatan pelatihan, ada beberapa hal yang disampaikan Mbah Lurah kepada anggota BKM, mengenai prinsip dari pelaksanaan kegiatan CFW. Dia menekankan soal partisipatif, di mana dalam setiap tahapan proses perencanaan, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban mesti selalu melibatkan masyarakat sebagai pelaku sekaligus penerima manfaat. Pelaksanaan CFW harus transparan dan akuntabel, yakni dalam setiap langkah kegiatan CFW dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan hasilnya kepada masyarakat. Secara konsep, CFW itu sederhana dan mudah dikerjakan. Yang artinya, pelaksanaan seluruh proses kegiatan diupayakan semudah mungkin dan sistematis serta bisa dilakukan masyarakat.

Sang Kepala Desa Bandung berharap, kegiatan CFW dapat berjalan sesuai tujuannya, yakni meningkatkan ekonomi warga melalui upah yang diterima tenaga kerja. Dan tentu saja, terpeliharanya infrastruktur yang telah dibangun melalui kegiatan Infrastruktur Berbasis Masyarakat.[Jateng]

 

 


Penulis: Joni Baskoro, Fasilitator Sosial Kabupaten Sragen
Program Kotaku Provinsi Jawa Tengah

 

 

Editor: EPN

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Warta

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.