Beranda Warta Berita Pak Surya ‘Off Line’

Pak Surya ‘Off Line’

Comments (0) View (1088)

BAGI pecinta dan pengguna mimbar bebas website P2KP, tentu tak asing dengan nama Surya Wijaya. Surya, demikian panggilan akrabnya, begitu intens berinteraktif baik di mimbar bebas maupun ruang lainnya di website ini. Beberapa waktu lalu bahkan Pusinfo sempat menganugerahkan label sebagai ‘orang paling aktif di mimbar bebas’ kepada Surya Wijaya. Dan yang khas dari ‘on line’ nya Surya di mimbar bebas adalah keasliannya alias selalu menggunakan identitas sebenarnya dalam tiap kali lontaran dan opininya di saat banyak pihak cenderung ‘lempar batu sembunyi tangan’ saat ‘on line’ di mimbar bebas. Ketika ditanya, pria murah senyum ini menjawab: “Sebagai perwujudan rasa tanggung jawab dan implementasi kedewasaan seseorang, mendorong publik untuk jujur dan transparan melalui mimbar bebas.”

Tiga puluh November 2004 sekitar pukul 20.15 WIB, tak disangka, Surya Wijaya yang juga Bapeprof Jawa Timur ini berkunjung ke kantor Pusinfo. Entah kebetulan atau memang ada ‘ikatan batin’ antara Pusinfo dan Surya yang mana siangnya Tim Pusinfo sempat ‘ngrasani’ Surya untuk didapuk sebagai salah satu moderator berkala Forum. Ternyata, tiba-tiba Surya hadir, hingga yang jelas kehadiran Ketua BKM Jepara Abadi, Kota Surabaya, Presidium FKA BKM Kota Surabaya serta FKL Jawa Timur ini tak dilewatkan oleh Tim Pusinfo untuk membuka ruang diskusi dengan pria ini. Ya, Pak Surya sedang ‘off line’.

Datang ke Jakarta atas undangan dinas dari Depdagri, Surya malam itu memakai kemeja kuning dengan bawah gelap. Setelah sebelumnya sempat bercengkerama dengan beberapa personil di Tim Advisory, Surya diajak melihat kantor Pusinfo di lantai 2. “Tapi ada syaratnya, boleh merokok di lantai atas kan?”, kelakar Surya pada Pusinfo. Dan, ruang rapat menjadi pilihan ngobrol dengan Surya yang malam itu ‘dikepung’ oleh 4 orang personil Tim Pusinfo.

Dengan ditemani martabak, teh hangat dan ketiadaan materi khusus yang dibahas, membuat diskusi dengan Surya justru lebih mengasyikkan. Mulai dari persoalan kecil keseharian hingga topik yang serius seperti tentang subtansi dan konsep P2KP, website P2KP, pentingnya penguatan peran Pemda hingga menyangkut beberapa ‘current issues’ yang tengah hangat di P2KP. “Pokoknya, asalkan tidak ada kegiatan, mau diskusi sampai pagi ya saya layani,” lontar Surya.

Mengawali diskusi, Surya membuka dengan penjelasannya tentang keterlibatannya dalam seleksi Faskel di beberapa KMW 2/2. “Yang perlu diketahui bahwa saya selaku Bapeprof bukanlah Tim Rekruitmen, namun sifatnya hanya membantu proses wawancara dan FGD Faskel, karena saya tidak ikut dalam penetapan hasilnya,” ujar Surya. “Tentang hasil atau siapa-siapa yang terekrut dan tidak, saya bahkan tidak tahu, itu haknya KMW yang bersangkutan,” lanjutnya mengomentari tentang dinamika rekruitmen Faskel di Jawa Timur yang kini tengah hangat dibicarakan itu.

Beberapa persoalan lain juga tak luput dari pantauan Surya Wijaya. Sebagai pelaku P2KP dari jajaran birokrasi (Bapeprof Jawa Timur), Surya sangat menyoroti tentang kurangnya penguatan terhadap jajaran birokrasi terutama Pemda. “Berapa kali sih Pemda diundang ke Jakarta untuk diberi pemahaman P2KP kalau dibandingkan dengan KMW, padahal pasca pendampingan konsultan, alih pendampingan ke Pemda sangat perlu,” ujar Surya. “Sebetulnya pendampingan lanjutan oleh Pemda bisa saja dilakukan asal ada data, dan selama ini problemnya adalah kurangnya transfer data dari konsultan ke Pemda, sehingga bagaimana Pemda akan melakukan pendampingan bila kondisi BKM saja tidak tahu,” lanjut Surya menggebu. “Termasuk dalam kasus rekruitmen Faskel, kejadian-kejadian seperti penekanan Pemda atau pihak lain, bisa jadi dimungkinkan karena kurangnya Pemda diajak bicara,” tambah Surya.

Tentang website P2KP, juga tak luput dari pandangan Surya. “Di Jawa Timur saja ada sekitar 242 BKM, belum di wilayah lain, yang ini potensi bagi web, tergantung sejauh mana strategi sosialisasi web kepada mereka,” ujar Surya. Ketika ditanya tentang keberadaan mimbar bebas, Surya memandang mimbar bebas cukup bagus sebagai ajang komunikasi, walau untuk memahami makna bebas perlu sekian pembelajaran. “Mimbar bebas ya tetap aja diupayakan bebas, walau harus ada pembelajaran,” lanjut Surya.

Yang juga tidak kalah menarik adalah ketika Surya berbicara tentang BKM-nya. Seperti diketahui, Surya adalah Ketua BKM Jepara Abadi, Kel Jepara, Kota Surabaya sekaligus Presidium FKA BKM Kota Surabaya. Dan sebagaimana keberadaan BKM 1/1, BKM Jepara Abadi yang dimotori Surya juga di ‘Exit Strategy’. Namun, ada yang menarik dari lontaran Surya. “PJM Pronangkis itu bukan milik BKM atau P2KP tapi milik warga kelurahan dan harusnya Faskel pendekatannya jangan kaku seperti itu,” ujar Surya. “Kalau cuma daftar kebutuhan warga, tanpa Faskel pun kita bisa membuatnya, yang kami takutkan adalah dengan dampingan Faskel, PJM menjadi hanya bernuansa BKM dan P2KP, padahal filosofinya kan tidak demikian,” lanjut Surya sembari mengakui bahwa hingga kini PJM Pronangkis di kelurahannya memang masih belum tuntas.

Menariknya diskusi dengan Surya Wijaya membuat terlupakannya waktu hingga tengah malam hampir menjelang. Kalau saja tidak terganjal kesibukan kerja esok hari, bisa jadi ‘temu darat’ dengan Surya berlangsung hingga subuh. Dan, mengakhiri cengkerama dan canda, Surya ditodong Pusinfo untuk memberikan kesan singkat selama beberapa jam ‘off line’ tersebut. “Selalu saja ada ‘kerinduan’ mendalam dengan website ini setiap hari,” ujar Surya Wijaya mengakhiri pembicaraan. (Yanti)

 

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.