Beranda Warta Cerita Biofilter, Sanitasi Aman Yang Ramah Lingkungan

Biofilter, Sanitasi Aman Yang Ramah Lingkungan

Cerita Jawa Timur Surabaya DFAT Biofilter Kotaku Comments (0) View (195)

Ledakan penduduk tak bisa dibendung. Hal ini berdampak pada permukiman yang ada. Kepadatan penduduk yang tidak sebanding dengan lahan yang tersedia untuk permukiman mengakibatkan ketidakteraturan dalam penataan tempat tinggal, serta semakin tidak memadainya sarana dan prasarana dasar permukiman. Ini juga terjadi di Kota Surabaya.

Buruknya sanitasi lingkungan memengaruhi keberlanjutan lingkungan hidup yang ada. Rendahnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya sanitasi lingkungan permukiman yang sehat tampak dari perilaku masyarakat yang kurang ramah pada lingkungannya. Ini ditandai dari masih adanya sebagian masyarakat yang melakukan pola hidup tidak sehat, seperti memanfaatkan sungai sebagai sarana MCK dan air bersih untuk kebutuhan hidup, juga kebiasaan membuang limbah rumah tangga langsung ke sungai yang berpotensi sebagai penyebab penyebaran wabah penyakit.

Begitu pula sanitasi yang ada di Gunung Anyar Tambak, Kota Surabaya, sangat memperihatinkan. Terutama di RT 03/RW 01. Bayangkan, sebanyak 98 KK tidak memiliki MCK sesuai standar teknis. Artinya, ada 68,6 kg per hari limbah yang mereka hasilkan langsung dibuang ke sungai tanpa diolah. Rasionalisasinya, 144 liter per orang per hari x 98 KK x 5 orang x 80%, artinya di lokasi tersebut membuang limbah 56,5 kg per hari (Dirjen Cipta Karya, 2006), tetapi sulit untuk mengintervensi, karena tempatnya harus mendapat izin dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Dan mengeluarkan izin ini memakan waktu relatif lama.

Fakta itulah yang mengubah orientasi kegiatan dan lokasi kegiatan, yang awalnya mengatasi limbah, akhirnya berubah mengatasi banjir yang ada di RT 01 dan 02/RW 01, karena di musim hujan pasti banjir. Selain mengatasi banjir, permasalahan limbah domestik adalah tiadanya akses untuk meletakkan septictank. Untuk itu, kegiatan skala lingkungan DFAT dinilai sangat bermanfaat untuk warga. Karena, sejak kegiatan DFAT direalisasikan, drainase sepanjang 500 meter akhirnnya bisa terkoneksi dengan baik dan banjir pun tiada lagi.

Begitu pula dengan warga yang belum mempunyai tangki septic, kini sudah terealisasi sebanyak 6 unit. Izin untuk kegiatan di sepadan sungai perbatasan Surabaya-Sidoarjo pun sudah difasilitasi. Rencananya akan dibangun biofilter yang sekaligus dijadikan destinasi wisata supaya menarik wisatawan yang akan berkunjung ke Mangrove Gunung Anyar Tambak untuk bisa menanam mangrove di sekitar lokasi.

Berbeda dengan Kelurahan Bulak Banteng. Di sini, meski banyak KK yang membuang limbah domestik langsung ke sungai, untuk izin, kami hanya mengajukan ke dinas di Surabaya. Kegiatan ini telah terfasilitasi dengan baik, bahkan akhirnya sungai di lokasi ini terkesan lebih sejuk karena setiap biofilter yang dibangun, warga juga membangun taman penghijauan agar sekitar sungai tampak lebih indah. Bahkan dibangun pula gazebo untuk tempat berteduh. Akhirnnya sepadan sungai sekitar Bulak Banteng tidak lagi terkesan kumuh, karena sudah menjadi asri dan rindang. Dibangun pula jalan lingkungan dan drainase yang sudah berfungsi dengan baik dan mengurangi banjir di permukiman Kelurahan Bulak Banteng.

Sementara itu, di Kelurahan Wonokusumo terkendala lahan. Kelurahan ini penduduknya sangat padat dengan akses sangat sempit untuk dibuat biofilter. Namun, melalui sosialisasi massif dan intensif, akhirnya masyarakat sadar bahaya membuang limbah domestik (tinja) ke sungai. Kemudian dibuat perencanaan dan realisasi yang sangat matang agar tidak ada bau dihasilkan biofilter ini.

Konstruksi pembangunan biofilter tidak sekadar membangun, tetapi juga diperindah dan disesuaikan dengan lingkungan sekitar agar tidak mengganggu aktivitas orang-orang sekitarnya. Untuk konstruksi, dibuat kokoh dengan besi dan cor supaya biofilter bertahan lama. Untuk operasional dan pemeliharaan (O&P) juga sudah disosialisasikan ke Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP).

O&P di lokasi kegiatan skala lingkungan DFAT Kota Surabaya berjalan dengan baik. Warga sudah mulai iuran bulanan yang kelak digunakan untuk penyedotan septictank 3-5 tahun sekali. Operasional biofilter sendiri sudah berjalan. Kualitas air juga sudah memenuhi baku mutu PermenLHK, yang artinya bakteri yang ada di biofilter sudah bekerja sangat baik. KPP juga sudah mengerti bagaimana mengoperasionalkan dan memelihara biofilter tersebut. [Jatim]

Penulis: Iqbal Ramadhan, Askot Watsan, Korkot Kota Surabaya, OSP Kotaku Jawa Timur

Editor: Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait

Kategori Warta

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.