Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaCeritaKebakaran Hancurkan Rumah Anggota BKM Dusun Puklat
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Aceh Besar, 16 Juni 2017
Kebakaran Hancurkan Rumah Anggota BKM Dusun Puklat

Oleh: 
Maya Keumala Dewi
Askot Mandiri
Kabupaten Aceh Besar
OC 1 Aceh
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Tak ada yang mampu menolak musibah karena itu sudah menjadi ketetapan dari Allah, SWT. Tak ada yang mampu menahan apalagi menolak ketetapan yang diberikan-Nya. Terkadang ada pertanda diberikan oleh Allah, SWT, sebelum kejadian, tapi kita sebagai hamba-Nya seringkali tidak memerhatikan, karena menganggap itu adalah hal yang biasa.

Itulah yang dialami oleh Ibu Rasyiah, seorang warga relawan anggota Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Ikhlas Sejahtera, Dusun Puklat, Gampong Meunasah Papeun. Rumahnya terbakar beserta 2 rumah lain, yang tak lain adalah rumah adik kandungnya sendiri. Sehari-harinya Rasyiah bekerja sebagai buruh cuci dan tenaga di sebuah usaha katering. Sedangkan suami Rasyiah bekerja sebagai tukang bangunan yang berpenghasilan tidak tetap.

Sehari sebelum kejadian, Rasyiah seharusnya berangkat bekerja (katering) setelah subuh, seperti biasa. Namun hari itu ia merasa tak tenang, dan enggan ke luar dari rumah. Ia tidak mengerti itu firasat apa. Hanya saja, sebagai rasa tanggung jawab kepada pemberi kerja (pemilik katering), keesokan harinya, Senin, 12 Juni 2017, yakni hari kejadian, ia memaksa diri berangkat bekerja. Siapa sangka, sekitar pukul 11.30 WIB, saat Rasyiah tiba di rumah, api telah berkobar di rumahnya. Dan, tak ada satupun harta benda yang bisa diselamatkan. Yang tersisa hanya baju di badan.

Menurut saksi warga sekitar tetangga terdekat Rasyiah, ketika kejadian suasana di lingkungan rumah Rasyiah sepi. Tak ada satupun orang berada di rumah. Padahal biasanya ada penjual ikan keliling lewat, tapi hari itu, tidak ada.

Sayangnya, akibat kejadian itu, salah satu keponakan Rasyiah yang berusia 7 tahun mengalami trauma mendalam. Ini karena sang keponakan adalah orang pertama yang menyadari bahwa rumah mereka kebakaran. Trauma tersebut menyebabkan ia histeris dan menolak diajak mengungsi ke rumah tetangga yang dekat dengan rumah mereka. Bisa dipahami, ia trauma melihat rumah tempatnya tinggal sehari-hari telah hangus dan nyaris rata dengan tanah. Pasca kebakaran, sang anak mengungsi ke rumah neneknya. Barulah setelah hari kelima kejadian, ia mau mendekat ke lokasi kejadian.

Ketika Tim KOTAKU Kabupaten Aceh Besar berkunjung ke rumahnya, Ibu Rasyiah mengaku tak tahu harus berbuat apa. Hanya saja air mata yang mengalir mengiringi kesabaran dan doa. Hanya itu yang mampu ia lakukan, katanya. Lebih galau lagi, anaknya akan baru akan masuk SMP, kehilangan semua berkas penting untuk mendaftar sekolah. Tak hanya itu, biaya untuk masuk sekolah pun tak lagi bisa dibayangkannya dapat dari maha. Ia hanya berharap ada kelonggaran dari pihak sekolah terkait waktu pembayaran. Sayangnya, pihak sekolah belum berani memberikan keputusan, karena Ibu Rasyiah belum bertemu langsung dengan kepala sekolah.

Kejadian ini terasa amat memilukan bagi Rasyiah. Semua harta yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit, amblas dalam hitungan menit. “Namun saya bisa apa kalau Allah sudah berkehendak. Tak ada yang mampu melawan takdir Allah,” ujarnya.

Mengingat kembali ke belakang, Rasyiah adalah relawan yang sudah terlibat di program sejak 2008. Awalnya ia menjadi KSM Lingkungan, hingga dipercaya oleh masyarakat untuk menjadi BKM, walau ia sudah menyatakan ingin mengundurkan diri. Masyarakat tetap memercayainya sebagai anggota BKM.

“Saya sebelumnya tidak bisa apa-apa, Bu, tidak mengerti apa-apa. Apa yang diajarkan Faskel, itu yang saya buat. Saya nggak tahu apa ke depan masih bisa bergabung lagi. Karena, kadang saya juga tidak bisa menghadiri pertemuan dan rapat, karena saya nekerja di rumah orang,” ujarnya. [Aceh]

Dokumentasi lainnya:

Editor: Nina Razad

(dibaca 346)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 2098, akses halaman: 2258,
pengunjung online: 167, waktu akses: 0,014 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank