Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaArtikelMemaknai Kolaborasi di Hari yang Fitri
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Sijunjung, 6 Juli 2017
Memaknai Kolaborasi di Hari yang Fitri


Oleh:
Yose Alcandra
Senior Fasilitator
Tim 1.08 Sijunjung
OC 1 Provinsi Sumatera Barat
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Ketika bicara tentang Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), pasti yang selalu terlintas dalam pikiran adalah “Kolaborasi”, dengan keyword “Pemda sebagai Nakhodanya”. Ya, kata “Kolaborasi” selalu melekat di hati setiap pelakunya, mulai dari level pusat sampai yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, yaitu para Agent of Change, yang lebih dikenal dengan nama “Fasilitator”.  

Sebenarnya “Kolaborasi” itu apa sih? Pertanyaan seperti itu sering muncul tanpa kita sadari. Jika melihat pendapat salah satu ahli, yang mengatakan bahwa kolaborasi adalah bentuk kerja sama untuk mencapai hasil yang diinginkan sekaligus  melahirkan kepercayaan di antara pihak yang terkait (Ilza: 2011). Dari pendapat tersebut kita bisa menyimpulkan bahwa inti dari “Kolaborasi” itu adalah kerja sama dan saling percaya. Tanpa adanya kerja sama dan saling percaya mustahil kolaborasi bisa dilakukan. Sebuah tim yang tangguh serta punya kinerja bagus terbentuk dari kerja sama yang baik, antara unit satuan kerja dan senior fasilitator serta masyarakat yang menjadi dampingannya.

Di hari yang fitri ini, saatnya bermuhasabah untuk menata kembali orientasi hidup kita. Pesan Rasulullah dalam sabdanya, perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan mersakan demam (HR Muslim).

Sejatinya “Kolaborasi” adalah empati, dimana kita mampu merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpati, mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain. Ini juga sesuai dengan kalimat yang disampaikan oleh Kepala Satker PKPBM Mita Dwi Aprini saat membuka kegiatan Peningkatan Kapasitas Pelaku Korkot dan Pemandu Nasional beberapa waktu lalu: "Kolaborasi harus menjadi perilaku, bukan hanya jargon".

Ketika setiap pelaku program KOTAKU sudah memiliki perilaku kolaborasi dalam kesehariannya terutama di lingkungan kerja maka output yang menjadi target dalam program akan bisa dicapai. Insyaa Allah. [Sumbar]

Editor: Nina Razad

(dibaca 227)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 2093, akses halaman: 2253,
pengunjung online: 161, waktu akses: 0,016 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank