Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaCeritaMencoba Berpikir Lebih
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Batu, 12 Juli 2017
Mencoba Berpikir Lebih

Oleh: 
Heri Purwanto, ST
Askot Mandiri
Kota Batu
OSP 6 Provinsi Jawa Timur
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Kepadatan rutinitas harian dan beban kehidupan harian seringkali membuat orang lupa akan potensi di sekitarnya, bahkan terhadap hal paling simpel atau sepele. Apalagi bila kondisi ini dilihat dari fenomena lingkungan permukiman perkotaan yang cenderung individualistis dan materialistis. Setiap pribadi sibuk dengan persoalan masing-masing, seakan lupa jati dirinya selaku manusia, sebagai mahkluk sosial yang akan merasa butuh orang lain di saat musibah menimpanya, serta baru sadar pentingnya orang lain; keguyuban, kebersamaan, gotong-royong, tepo seliro dalam keberagaman, sebagaimana Pancasila dengan “Bhinneka Tunggal Ika”-nya yang sudah mendasari kedaulatan NKRI ini.

P2KP yang berjalan hingga PNPM Mandiri, bahkan bertransformasi menjadi Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) ini, selalu mensimbiosiskan pembangunan nilai-nilai yang berafiliasi dengan kepedulian dalam keberagaman. Namun, meski sudah bersimbiosis sekian lama juga, tak mudah menjamin terbangunnya pondasi nilai-nilai keluhuran kokoh (rigid) tertanam di benak setiap komunitas dampingan, apalagi yang di luar dampingan. Walau begitu, bukan berarti hal ini tak tersemaikan semangan tersebut. Persemaian nilai-nilai sudah berlangsung, tapi semakin kompleks dan krusialnya beban masing-masing pribadi warga, membuat mereka bingung untuk memilah prioritas dalam kehidupan bermasyarakat di era global ini.

Menilik fenomena tersebut, formulasi untuk upaya penyadaran kritis harus selalu tersemaikan dan tak boleh goyah oleh ion negatif kehidupan modern saat ini. Misalkan, dari contoh kecil saja terkait Program KOTAKU, yang mendorong upaya terciptanya lingkungan permukiman berkualitas dan mampu mendorong terbangunnya penghidupan berkelanjutan warga penghuninya. Berbicara tentang membangun lingkungan permukiman berkualitas terasa berat khususnya di wilayah perkotaan padat, karena warga penghuninya sudah tereduksi keadaan menahun dan sudah tercipta kekebalan, bahkan mungkin sudah menjadi antibodi dalam kehidupan mereka—sudah cukup nyaman dengan kondisi yang ada, dibandingkan dengan komunitas yang berada di jalanan atau bawah jembatan. Fenomena ini akan terasa berat dilakukan perubahan bila kita salah berstrategi atau melakukan dengan konsep pemaksaan dan gegabah. Kadang kita perlu membangun dari hal yang paling sederhana dan simpel serta sedikit menyentuh hati nurani individunya sebagai manusia.

Salah satu contoh pelaksanaannya di Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, yang secara geografis berada persis di pusat Kota Batu, dan merupakan kawasan pengembangan pariwisata kota. Luasan resapan di permukiman di lokasi ini sudah mulai berkurang, karena mulai berdiri wahana wisata, hotel, berbagai pusat oleh-oleh dan perumahan. Hal ini tentunya membuat lahan resapan tertutup beton dan aspal jalan (akses) penghubung pariwisata, dan di sisi lain juga sebagai pendongkrak ekonomi Kota Batu. Satu sisi komunitas warga sekitar kawasan wisata diuntungkan dengan harga jual tanah yang bergerak naik, tapi mereka rela tersisih ke tempat yang mungkin dulunya dihindari keberadaannya akibat lahan tak berkualitas. Namun, banyak juga komunitas marginal yang makin terpuruk keberadaanya akibat modernisasi wilayah. Jika kondisi semacam ini dipandang sebelah mata dan kurang dikaji secara komprehensif maka ke depan keterpurukan akan terjadi.

Karena itu, Tim Fasilitator KOTAKU Kota Batu mencoba secara menerus mensimbiosiskan arti pentingnya membangun kualitas permukiman dan penghidupan berkelanjutan masyarakat aslinya dengan cara-cara sederhana yang mengarah pada terbangunnya kawasan permukiman spesifik, yang lebih dikenal dengan istilah “Kampung Tematik”.

Di Kelurahan Ngaglik, misalnya, kami mencoba mengajak komponen BKM/LKM, di antaranya pengurus RT/RW/tokoh masyarakat untuk mulai memahami 7 indikator penurunan kualitas permukiman—maaf, kami di Kota Batu disarankan untuk menghindari istilah “kumuh”, karena Kota Batu merupakan bagian “Kota Pariwisata Internasional”.

Dengan mulai terpahaminya komponen BKM/LKM ini diharapkan mampu mewarnai upaya peningkatan kualitas lingkungan permukiman di masing-masing wilayah tinggalnya. Harapan jangka panjangnya adalah bisa menularkan ion positif ke wilayah-wilayah permukiman lain di sekitarnya.

Kelurahan Ngaglik, sebelumnya dikenal dengan nama “Kampung Damai”, karena didalamnya menjabarkan kesejahteraan, kedamaian dan produktivitas. Berangkat dari konsep ini, masing-masing RW menjabarkan dalam beragam model tematik lingkungan. Misalnya RW 14 Kelurahan Ngaglik, yang kebetulan berada di wilayah wahana wisata Agro Kusuma, Museum Angkut, dan Jatim Park 1, menggagas model kawasan permukiman hijau nan segar, guna mereduksi berdirinya hotel, vila dan gedung yang mulai menggeser keberadaan sawah produktif dan kawasan peternakan warga.

Ketua RW 14 Katimin, misalnya, mampu mengajak seluruh RT dan beberapa warga peduli—salah satunya Aji, peternak sapi sukses di wilayah RW 14, untuk mulai memanfaatkan garis sempadan jalan di lingkungan permukiman dengan budidaya tanaman sayuran menggunakan media tanam poly bag, ditata teratur di kanan kiri garis pinggir jalan. Jenis tanaman yang dibudidayakan adalah baby kol, baby kailan, sla andewi, sawi, brungkul, tomat, dan cabe rawit, bahkan akan menanam stroberi ke depannya.

Sistemnya adalah media tanam dan bibit dari warga peduli, lalu pola pemeliharaannya dilakukan oleh warga setiap RT, diawasi oleh Ketua RT. Panen nantinya dilakukan secara bersama-sama warga, ditimbang secara transparan, sehingga semua hasil terbaca secara transparan pula.

Pada panen pertama, warga sudah mampu menghasilkan Sla Andewi sekitar 1 ton, yang langsung dibeli oleh beberapa hotel, restoran dan warung sekitar RW 14, dengan nilai Rp7.500 per kg. Harga ini sangat bersaing, karena harga di pasaran sebesar Rp10.000-Rp12.500 per kg. Dengan demikian, panen pertama berhasil menghasilkan nominal sekitar Rp7,5 juta.

Pengalaman panen perdana ini dijadikan diskusi evaluasi untuk dilaksanakan pola peningkatan penghidupan berkelanjutan komunitas warga lokasi budidaya sayur organik di sempadan jalan dan lahan sempit juga ke depannya. Diharapkan ini mampu mendukung peningkatan kualitas permukiman, serta pemeliharaan infrastruktur permukiman.

Konsep-konsep sederhana semacam inilah yang kami upayakan, dirangsang pada komunitas warga dampingan. Jerih payah ini, bagi kami merupakan kepuasan tersendiri. Harapannya, secara lambat laun mampu menjadi outcome yang nyata di mata komunitas, meski kelak kami, selaku pendamping sudah tak lagi mendampingi masyarakat. [Jatim]

Editor: Nina Razad

(dibaca 303)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 1862, akses halaman: 2403,
pengunjung online: 234, waktu akses: 0,016 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank