Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaKliping & Media WargaTiga Wilayah Kumuh di Kabupaten Semarang Adopsi Progam "Kotaku"
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Semarang, 8 Agustus 2017
Tiga Wilayah Kumuh di Kabupaten Semarang Adopsi Progam "Kotaku"

Diinformasikan oleh:
Redaksi
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Judul: Tiga Wilayah Kumuh di Kabupaten Semarang Adopsi Progam "Kotaku"

Sumber: kompas.com 

Edisi: Selasa, 08/08/2017, 08:00 WIB

UNGARAN, KompasProperti - Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Rina Farida mengungkapkan program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) di Kabupaten Semarang menunjukkan progres yang baik.

Toilet portabel yang biasa dipakai di acara-acara
festival musik atau pun pertandingan-pertandingan
olahraga. (Photo by Antranias/Pixabay)

Sejak dimulai tahun 2016 lalu, program dengan sasaran masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sudah berjalan di Desa Bejalen, Ambarawa.

"Program ini tidak seperti jalan tol, jebret langsung besar. Butuh proses karena berhubungan dengan perilaku," kata Rina saat ditemui di dermaga Bukit Cinta Brawijaya, kawasan Rawapening, Banyubiru, Kabupaten Semarang, Sabtu (5/8/2017) kemarin.

Menurut Rina, program Kotaku tidak hanya mengembangkan dan menata kawasan lingkungan, akan tetapi juga perilaku masyarakatnya.

Dia berharap seluruh kawasan kumuh di Kabupaten Semarang juga akan menerapkan konsep Kotaku ini.

"Masyarakat juga wajib terlibat untuk melaksanakan programnya, sehingga ada kolaborasi antara Pemrintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten dengan nahkodanya adalah Pak Bupati," tuturnya.

Sementara itu Bupati Semarang Mundjirin, mengatakan tahun ini Pemkab Semarang akan menjalankan program Kotaku di tiga wilayah. Yakni di Kelurahan Tambakboyo (Ambarawa), Kelurahan Gedanganak dan Desa Kalikayen (Ungaran Timur).

"Nantinya akan menyusul lagi di enam wilayah pada tahun 2018," kata Mundjirin.

Dia menjelaskan, pada tahun 2016 program Kotaku telah dilaksanakan di Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa.

Program ini bertujuan untuk menyelesaikan lingkungan kumuh di perkotaan dengan nakhoda pemerintah daerah.

"Indikator kumuh yang dipakai mengacu pada Permen PU Nomor 2 Tahun 2016, yakni dilihat dari bangunan hunian, jalan lingkungan, penyediaan air minum, drainase lingkungan, pengelolaan air limbah, pengelolaan sampah dan pengamanan kebakaran," lanjutnya.

Selain permasalahan infrastruktur, Mundjirin juga berharap supaya masyarakat penerima manfaat program dapat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat.

Dia mengakui untuk mengubah perilaku warga di daerah kumuh bukanlah hal yang mudah.

"Perilaku warga akan mempengaruhi mutu kehidupan mereka, sedangkan untuk mengubah perilaku juga bukan perkara yang mudah. Oleh karena itu Kotaku harus mampu memberikan solusi untuk mengentaskan mereka dari kehidupan yang kumuh," tuntasnya.

Seperti diketahui, Kotaku adalah program pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh nasional yang merupakan penjabaran dari pelaksanaan Rencana Strategis Direktorat Jenderal Cipta Karya tahun 2015 –2019.

Sasaran program ini adalah tercapainya pengentasan permukiman kumuh perkotaan menjadi 0 Hektar melalui pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh seluas 38.431 Hektar.

Serta meningkatkan akses terhadap infrastruktur dan pelayanan dasar di kawasan kumuh perkotaan untuk mendukung terwujudnya permukiman perkotaan yang layak huni, produktif dan berkelanjutan.

Penulis: Kontributor Ungaran, Syahrul Munir

Editor: Hilda B Alexander

(dibaca 155)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Kliping & Media Warga | Arsip Kliping & Media Warga | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 2101, akses halaman: 2261,
pengunjung online: 163, waktu akses: 0,016 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank