Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaCeritaSinergi dan Kolaborasi Warga Menuju Karangwaru Nyaman Huni
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Yogyakarta, 6 Oktober 2017
Sinergi dan Kolaborasi Warga Menuju Karangwaru Nyaman Huni

Oleh: 
Aris Hariyanto
TA Pelatihan
OSP/KMW 5 Provinsi DI Yogyakarta
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Membahas Karangwaru rasanya tidak akan ada habisnya. Karangwaru telah menjadi trademark kelembagaan dalam skala nasional. Modal sosial menjadi kunci yang dikembangkan dan lestari, sehingga muncul program “Karangwaru Bergerak”. Modal sosial Karangwaru terbangun dan dibangun oleh kelembagaan bernama Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), dalam mengawal penataan bantaran Sungai Kali Buntung. Perlahan tapi pasti, apa yang dilakukan BKM mendapat kepercayaan masyarakat, bahkan antarwarga masyarakat. Dengan sendirinya pihak luar percaya dengan eksistensi masyarakat dan kelembagaan BKM Karangwaru. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya kunjungan studi banding dari berbagai daerah, yang sudah tidak terhitung jari lagi. Kunjungan berbagai Pemerintah Daerah (Pemda), bahkan empat menteri Kabinet Kerja juga pernah meninjau langsung penataan kawasan Kali Buntung.

Berbagai event, baik yang diinisiasi oleh BKM maupun oleh Pemda dan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah dilakukan di Karangwaru. Juga sudah terbangun kolaborasi dengan berbagai pihak, di antaranya disebutkan dalam tabel.

Salah satu kegiatan di Karangwaru yang diinisiasi oleh Pemda DIY adalah “Yogya Semesta Masuk Desa” yang berlokasi di Karangwaru Riverside. Kegiatan ini diluncurkan secara resmi oleh Gubernur DI Yogyakarta Sri Sultan Hamengkubuwono X. Bersama acara ini diharapkan agar perangkat desa/kampung dan warga melakukan kegiatan serupa guna membahas dan mencari solusi bersama atas masalah-masalah desa/kampungnya, sambil menghidupkan kerajinan dan kesenian, sekaligus mencicipi kuliner tradisional setempat. Pembiayaannya bisa dilakukan secara swadaya, atau bisa diajukan lewat anggaran Danais.

Kota Yogyakarta telah mempunyai Program “Segoro Amarto”, singkatan dari Semangat Gotong Royong Agawe Majune Ngayogyokarto. Program Segoro Amarto ini diharapkan menjadi gerakan rakyat sebagai bagian dari gerakan “Yogyakarta Gumregah”. Sasarannya membangkitkan prakarsa warga untuk membangun desa/kampung seperti yang dicontohkan keberhasilan Program “Karangwaru Riverside menuju Kampung Layak Huni”.

Makna Segoro adalah menerima apapun yang dialirkan sungai. Lautan mengajarkan tentang kebajikan, lapang dada, besar hati, dan keluasan wawasan, bahkan kerasnya batu karangpun bisa terkikis oleh terpaan ombak lautan. Makna “Amarto”, dalam pewayangan disebutkan sebagai negeri yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi. Gambaran sebuah negeri idaman, dengan masyarakatnya yang hidup aman sentosa, makmur sejahtera dan berkeadilan.

Inti program ini memang memerlukan perubahan sikap mental, pertama, proses perubahan sikap mental harus tidak bersifat semu, agar membuahkan perubahan nyata. Kedua, pemimpin formal dan informal harus memberikan keteladanan. Ketiga, kita harus bisa kreatif membangun atas dasar potensi sumber daya lokal.

Keyakinan, iman, harapan, tekad, antusiasme itulah pengejantawahan nilai-nilai “Segoro Amarto” yang harus diraih bersama. Semangat keunggulan itu perlu diberi darah, saraf, otot, dan daging agar hidup menjadi budaya kerja, seperti “Karangwaru Riverside” yang dibangun atas prakarsa warga sendiri.

Karangwaru Gumregah

Sejak tahun 2010 Kelurahan Karangwaru telah menerima Program PNPM Mandiri Perkotaan, kelanjutan dari Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). Bersamaan dengan itu pula, Karangwaru mendapat reward Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK).

Ruh PLPBK ini menguatkan pemberdayaan masyarakat dalam merencanakan, merancang, menata, membangun dan memelihara lingkungan permukiman melalui kekuatan bersama. Seluruh warga yakin bahwa perubahan tidak boleh ditunggu, melainkan harus dijemput guna menuju visi “Karangwaru Nyaman Huni” sebagai bagian dari wujud nyata “Karangwaru Gumregah”.

Nyama huni dimaknai sebagai lingkungan yang sehat, ramah anak, ramah lansia, ramah gender, ikatan silaturahim antar warga menjadi kuat, memiliki ruang publik dan fasilitas sosial lengkap dan baik, didukung lingkungan yang mempunyai aktivitas perencanaan, pembangunan, pemeliharaan, yang berkelanjutan dalam bingkai pemberdayaan masyarakat.

Prioritas Program

Pelaksanaan program penataan kawasan Sungai Buntung yang merupakan anak Sungai Winongo terbagi dalam 6 segmen berdasarkan skala prioritas. Periode 2009-2016 telah diselesaikan 3 segmen yang meliputi penataan Sungai Buntung, pengembangan wisata, penataan permukiman, penataan infrastruktur, pengembangan UKM/livelihood.

Pemilihan skala prioritas sangat tepat karena problematika kawasan di dalamnya menyangkut kemiskinan, kesehatan buruk, sanitasi, dan kumuh. Hal ini ditandai dengan kebiasaan buruk warga membuang sampah dan limbah domestik ke sungai, banguan rumah yang padat, tidak tertata dan kumuh di sepanjang bantaran sungai. Apabila Sungai Buntung tidak segera ditata akan berdampak muculnya permasalahan lanjutan yang lebih berat di masa kini dan di masa yang akan datang.

Relawan Motor Pengerak

Dalam pelaksanaan program penataan kawasan Sungai Buntung peran relawan sangat besar. Diawali dengan penggalian potensi relawan, sosial dan budaya, baik yang bertempat tinggal di Bantaran Sungai maupun yang tidak, didukung sinergi dan kolaborasi unsur “Akademisi, Birokrasi dan Swasta”. Dari relawan inilah dirintis dan dimulai proses menggalang potensi dan partisipasi warga, dari proses perencanaan, pelaksanaan hingga keberlanjutannya. Kekuatan relawan ini menjadi motor penggerak kegiatan operasional dan pemeliharaan kawasan Karangwaru Riverside.

Penataan kawasan Sungai Buntung ini juga menerapkan arahan Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengkubuwono X, yaitu 3 M—Mundur, Munggah, Madep. Yaitu, semua rumah tepian sungai diarahkan menghadap ke sungai berbatas jalan lingkungan, dengan konsep “Kaline Resik, Lakune Becik, Uripe Apik”.

Pembangunan dimulai dari segmen 1, yang sepenuhnya dilaksanakan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan dinilai berhasil baik. Keberhasilan ini menjadi energi pendorong tumbuhnya kepercayaan dan meningkatkan kolaborasi dari warga setempat dan stakeholders, baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi. Pembangunan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mengubah pola pikir (mindset) masyarakat. Kesadaran tentang hidup sehat, semangat dan usaha dalam merencanakan dan membangun serta memelihara daerahnya sendiri semakin baik. Keberhasilan perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat Karangwaru merupakan hasil dari kerja sama yang baik antara tokoh masyarakat, relawan, masyarakat, serta konsultan pendamping yang membimbing dan menyuarakan arti pentingnya pembangunan berbasis komunitas.

Komunitas Karangwaru Riverside

Masyarakat sebagai penerima manfaat sekaligus sebagai subjek penataan kawasan mampu menerapkan rasa “melu handarbeni” yang kuat dengan kesadaran bahwa bangunan dan infrastruktur memerlukan perawatan. Atas kerja sama Tripilar yaitu BKM Tridaya Waru Mandiri, LPMK, dan Pemerintah kelurahan, dibentuk “Komunitas Karangwaru Riverside” (KKR) sebagai organisasi sosial terbuka, selain bertugas dalam pemeliharaan juga sebagai pendorong program-program selanjutanya yang bersifat lintas wilayah administrasi kelurahan.

Pada awal kegiatannya, KKR mulai dengan program-program yang sederhana dari lingkungan terdekat. Dan selanjutanya ke berbagai bidang non fisik, yaitu, (1) diklat dan pemberdayaan, (2) perawatan lingkungan, (3) publikasi dan Humas, (4) ekonomi kreatif, (5) penelitian dan pengembangan, (6) kerja sama, inventori aset dan pengembangan usaha, (7) kesehatan masyarakat.

Adapun kegiatan-kegiatan KKR yang dilakukan secara mandiri dan cukup menyita perhatian masyarakat luas adalah terselenggaranya event-event yang dibiayai sendiri tanpa membebani masyarakat dan pemerintah, bahkan bisa memberikan kontribusi ke lingkungan dan masyarakat, baik dari sisi materi maupun non materi.

Yaitu, pertama, perawatan dan pengembangan tata hijau. KKR menyelenggarakan event mingguan, diharapkan mamapu mengumpulkan warga untuk slaing interaksi dan bersama-sama menata dan merawat fasilitas yanga ada. Tat hijau kawasan Karangwaru Riverside terus dipelihara dan dikembangkan. Tamu yang berkunjung dan berkegiatan dikawasan ini disarankan harus menanam pohon. Hal ini dimaksudkan untuk membangun ikatan emosional tamu dan sebagai monumen hayati yang lestari.

Kedua, mini amphitheatre dari material Recycle, Reuse, Reduce (3R). Ruang kosong milik warga didesain dan ditata mandiri, hingga bisa dimanfaatkan oleh warga untuk fungsi sosial. Salah satu hasilnya adalah mini amphitheatre yang dibangun dari material 3R berupa bahan dasar ban bekas. Saat ini mini amphitheatre menjadi ikon Karangwaru Riverside, ditandai signage Titik Nol Kilometer Karangwaru Riverside. Selanjutnya ruang ini berkembang menjadi titik kumpul dan pusat aktivitas kesenian masyarakat serta menjadi spot foto yang unik.

Ketiga, Earth Day Celebration 2016. Berbagai lomba bertema sungai yang melibatkan masyarakat diselenggarakan agar anak-anak mampu membangun memori dan ikatan emosional yang kuat terhadap arti penting sungai dalam lingkungan hidupnya. Lomba ini meninggalkan jejak berupa beautifikasi kawasan (mural, melukis dan ban bekas untuk pot) dan kampanye kelestarian bumi dan lingkungan hidup. Event pertama dikemas dengan nama “Eart Day Celebration 2016” dengan penyelenggaraan lomba perancangan dan peragaan bsana berbahan baku 3R dengan catwalk Karangwaru Riverside. Event ini mendapat respons luar biasa dari seluruh kalangan, yang pembiayaannya melalui CSR perusahaan, dan berkelanjutan sebagai kampanye pelestarian lingkungan hidup. Pada event ini kekuatan kolaborasi terbukti berperan sekaligus kunci kegiatan berbasis komunitas.

Keempat, Gapura Bambu Merdeka. Sungai Bunting memiliki sejarah yang unik, selain bentang alam dan kondisi masyarakatnya, sungai ini membelah Kampung Blunyahrejo dan Kampung Karangwaru. Kedua kampong ini memiliki kesenjangan taraf hidup dan budaya masyarakat. Sebuah jembatan berhasil dibangun dalam lingkup PLPBK segmen 2-1. Di awal pembangunan sudah diwarnai dengan konflik social karena lemahnya pemahaman dan mindset yang belum terbangun di kedua belah pihak. Akhirnya waktu membuktikan, bahwa kehadiran akses jembatan bisa menguatkan ikatan tali silaturahim kedua belah pihak. Saat ini warga berbaur dan berinteraksi di ruang public Karangwaru Riverside. Momentum itulah yang mendasari masyarakat kedua belah pihak bersatu padu membangun Gapura di atas jembatan yang menjadi batas wilayah kampung Karangwaru dan Blunyahrejo yang membawa berbagai makna.

Kelima, Omah Sinau Masyarakat (OMSIMAS) sebagai learning center. Atas inisiatif KKR dilakukan sayembara Desain OMSIMAS dengan merenovasi bangunan milik warga yang tidak digunakan, melibatkan seluruh perguruan tinggi yang mengampu jurusan arsitektur. Pemilik bangunan ditunjuk sebagai juri kehormatan. Namun seluruh pemenang sayembara memiliki konsekuensi penganggaran yang tidak sedikit. Akhirnya KKR menginisiasi desain yang berteknologi sederhana, murah dan melibatkan peran warga dalam pembangunannya. Seluruh pembiayaan renovasi ini didukung partisipasi warga dan donasi swasta tanpa membebani anggaran pemerintah. Saat ini OMSIMAS dikembangkan menjadi perpustakaan anak, visitor center, sekaligus pusat pembelajaran masyarakat (community-based learning center) tentang alam, khususnya sungai. Kehadiran OMSIMAS ini menginspirasi dan menjadi pendorong meluasnya partisipasi warga di Karangwaru. Beberapa relawan warga berencana membuat OMSIMAS lanjiutan di segmen 4 dengan fasilitas dari warga sendiri.

Keenam, Minggu Guyup. Sejak awal tahun 2017 KKR mulai menginisiasi beberapa event untuk menguatkan konsep delapan nilai penting sungai. Khususnya koridor sungai termasuk bantarannya sebagai Ruang Publik terbuka Hijau (RPTH). Kegiatan minggu guyup melibatkan seluruh potensi warga dalam bentuk kesenian, ekonomi kreatif (kuliner, dan lain-lain), sekaligus mempererat silaturahmi antar warga. Event unggulan KKR ini digelar rutin setiap bulan di minggu ketiga dengan konsep berbeda sesuai dengan isu yang aktual. Minggu guyup ini telah melekat di hati warga Karangwaru sehingga kehadirannya selalu dinantikan. [DIY]

Editor: Nina Razad

(dibaca 249)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 1103, akses halaman: 1257,
pengunjung online: 73, waktu akses: 0,016 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank