Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaCeritaGotong Royong VS Teknologi Sederhana
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Sibolga, 10 Oktober 2017
Gotong Royong VS Teknologi Sederhana


Oleh:
Nurhalimah Nasution
Asisten I&C
Koorkot 04 Sibolga-Padangsidimpuan
OC/KMW 1 Provinsi Sumatera Utara
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Masyarakat Kelurahan Pasar Belakang, Kecamatan Sibolga Kota, Kota Sibolga bergotong-royong dan bekerja sama dalam membangun jalan jerambah beton. Pekerjaan tersebut sudah dilakukan warga akhir-akhir ini. "Sudah beberapa minggu ini kami terus bergotong-royong membangun jalan jerambah beton. Berkat kesigapan warga pelaksanaan pembangunannya sudah hampir 50% selesai. Kita berharap pembangunan jerambah beton sepanjang 74 meter ini berhasil. Pembangunan dilakukan dengan Bantuan Dana Investasi (BDI) Rp500 juta dan swadaya Rp50 juta,” jelas Koordinator BKM Kelurahan Pasar Belakang Aidil, pada Rabu, 13 September 2017.

Adapun BDI penanganan kumuh untuk pembangunan jalan jerambah beton merupakan bantuan dari Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Dengan 3 KSM Pelaksananya, Pelaksanaannya dilakukan berdasarkan deliniasi kumuh sesuai dengan SK kumuh, dengan ketentuan pekerjaan sesuai proposal, dan melibatkan swadaya masyarakat. “Kita juga didampingi oleh fasilitator dalam melaksanakan pekerjaannya,” ujar Ketua KSM Bersama.

Pada dasarnya pemanfaatan BDI Kelurahan Pasar Belakang ini menggunakan teknologi sederhana yang mengedepankan kebersamaan dan gotong royong. Dalam artian, KSM memiliki Tim Katak (Selam), dan ini kejadian yang jarang terjadi, sehingga masyarakat merasa memiliki Program KOTAKU.

Infrastruktur masyarakat Kelurahan Pasar Belakang menjadi permukiman kumuh karena rendahnya akses terhadap pelayanan sosial dan ekonomi. Ini membuat kaum miskin sulit meningkatkan taraf dan kesejaheteraan hidupnya. Selain itu, ketersediaan pelayanan dan penjaminan pelayanan infrastruktur belum ada. Jikapun ada, kualitasnya masih rendah.

Kemiskinan berkaitan erat dengan lingkungan dan permukiman kumuh. Status permukiman kumuh seringkali tidak jelas, mulai dari status administrasi hingga status hukum akan tanah. Apalagi di Sibolga, banyak masyarakat membangun rumah di atas laut dan tidak menyesuaikan dengan rencana tata ruang kota.

Terkait status hukum atas tanah, biasanya ini yang membedakan permukiman kumuh (slum) dengan permukiman liar (squatter). Penyebab terjadinya permukiman kumuh sangat kompleks. Dampak yang ditimbulkan pun sangat besar, baik bagi kelurahan maupun kota. Masyarakat yang hidup dalam lingkungan kumuh, merupakan masyarakat yang memiliki taraf perekonomian di bawah rerata atau berpenghasilan rendah.

Adapun tujuan dibangunnya jalan jerambah beton ini, jika terjadi kebakaran maka ada pintu keluar masyarakat. Selain itu, jalan ini juga diyakini meningkatkan akses perekonomian. [Sumut]

Dokumentasi lainnya:

Editor: Nina Razad

(dibaca 137)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 1114, akses halaman: 1268,
pengunjung online: 85, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank