Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaCeritaHai Nakhoda, Bawa Kami ke Pulau Impian Itu
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Solok, 11 Oktober 2017
Hai Nakhoda, Bawa Kami ke Pulau Impian Itu


Oleh:
Dian Puspita
Askot Safeguard
Korkot 1 Solok
OC I KMW Sumatera Barat
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Perlahan-lahan kapal mulai bergerak menuju lautan lepas, setelah sekian lama berada di dermaga untuk mempersiapkan pelayaran penuh tantangan. Namun pelayaran ini harus menyenangkan. Seluruh yang berada di kapal begitu bersukacita. Begitu bersemangat. Karena, di depan sana sudah menunggu pulau impian yang memesona. Kemungkinan apapun bisa terjadi, baik yang menyenangkan maupun sebaliknya. Bisa saja, selama perjalanan kita akan bertemu cuaca cerah, melihat dasar laut bening dengan ikan-ikan cantik dan terumbu karang menakjubkan. Tapi juga, bisa saja kelak berhadapan dengan badai dan gelombang besar yang akan membuat penumpang ketakutan.

Tidak semua orang tahu bahwa selama berada di dermaga, banyak persiapan yang sudah dilakukan. Begitu banyak tercurah pikiran dan tenaga selama masa persiapan. Tujuannya hanya satu, Kapal harus berlayar dengan nyaman, aman, dan tiba di tujuan dengan selamat. Tentu saja semua ini ada yang mengarahkan. Dialah sang Nakhoda.

Kira-kira seperti itulah perjalanan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) hingga kini. Semua bersemangat untuk mencapai pulau impian, yaitu kawasan permukiman yang bebas kumuh, layak huni dan berkelanjutan. Baik masyarakat maupun Pemerintah Daerah (Pemda). Mulai sejak awal KOTAKU diluncurkan, perencanaan penanganan kumuh sudah melalui berbagai rangkaian kegiatan.

Di tingkat kelurahan, masyarakat bersama pemerintah kelurahan sudah melakukan kegiatan, mulai dari pendataan Baseline 100-0-100, penyusunan dokumen perencanaan Rencana Penataan Lingkungan Permukiman/Rencana Tindak Penataan Lingkungan Permukiman (RPLP/RTPLP), menuangkan rencana aksi yang lebih detail dalam Detail Engineering Design (DED), hingga perencanaan yang tertuang dalam proposal kegiatan.

Di tingkat Pemda juga seperti itu, Kelompok Kerja (Pokja) Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), dan Satuan Kerja (Satker) Pembangunan Infrastruktur Permukiman (PIP) melakukan hal yang sama untuk mendukung perencanaan kegiatan KOTAKU. Sampai akhirnya kegiatan siap dilaksanakan.

Tentu saja selama kegiatan berjalan begitu banyak hal yang terjadi. Terkadang kegiatan berjalan lancar dan menyenangkan, namun tak jarang, halangan dan rintangan juga dihadapi. Berbagai masalah muncul. Kesalahpahaman tak jarang menjadi pemicu konflik. Kunci penanganan masalah yang dilakukan adalah sosialisasi, koordinasi dan kerja sama yang baik. Sehingga, kesalahapahaman akibat informasi yang diterima secara tidak sempurna, dapat diatasi.

Perjalanan seperti itu juga dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solok sebagai “nakhoda” dalam mendukung suksesnya pelaksanaan Program KOTAKU di Kota Solok. Berpedoman pada pendekatan di Program KOTAKU yang bertumpu pada tiga pendekatan. Pertama, Pemda sebagai “Nakhoda”. Kedua, kolaborasi sebagai platform penanganan kumuh. Ketiga, masyarakat, dengan BKM sebagai "Dewan Amanah", sebagai pelaku utama penanganan kumuh.

Sejak awal Pemkot Solok berkomitmen untuk mengatasi permasalahan kawasan kumuh. Pemda dan pemerintah kelurahan memimpin kegiatan penanganan permukiman kumuh secara kolaboratif dengan berbagai pemangku kepentingan, baik sektor maupun aktor di tingkatan pemerintahan, serta melibatkan masyarakat dan kelompok peduli lainnya.

Kota Solok terdiri atas 13 kelurahan, dan 11 di antaranya masuk ke dalam SK Kumuh Wali Kota No. 188.45-653 tahun 2014, yang terbagi dalam lima kawasan seluas 168,04 Ha. Pada tahun 2017 Kota Solok mendapatkan anggaran Bantuan Dana Investasi (BDI) sebesar Rp3,35 miliar untuk tujuh kelurahan. Batu sandungan kecil di awal kegiatan sempat terjadi. Alokasi KOTAKU pada Daftar Isian dan Penggunaan Anggaran (DIPA) Kota Solok sempat kosong. Anggaran tersebut berada pada DIPA Kabupaten Solok, yang bukan kabupaten pelaksana KOTAKU. Namun berkat kegigihan Tim Satker PIP memperjuangkan sampai ke Pusat, akhirnya alokasi BDI KOTAKU Kota Solok bisa diproses masuk dalam DIPA Kota Solok. Berkat itu, pelaksanaan KOTAKU Kota Solok tidak terlalu ketinggalan dibanding kota lain.

Guna mendukung kegiatan BDI sesuai dengan standar teknis, pelaksanaannya dikawal oleh Fasilitator Kelurahan (Faskel) maupun Tim Korkot. Satker PIP juga membentuk tim teknis dari Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Solok. Tim ini bertugas untuk membantu Satker PIP memastikan kelayakan teknis usulan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Sebagai “nakhoda” tentu harus selalu memantau perkembangan dan kondisi jalannya kapal. Maka pada 26 September 2107, dilaksanakan evaluasi pelaksanaan KOTAKU Kota Solok di Ruang Pertemuan Bappeda, Kota Solok. Kegiatan yang diinisiasi oleh Satker PIP ini dihadiri sekitar 70 orang perserta, yang berasal dari Perwakilan LKM Penerima BDI, dan Ketua KSM. Sedangkan dari pemerintah, hadir lurah, camat, Pokja PKP dan tentunya Tim Inti Satker.

Juga hadir Tenaga Ahli (TA) Capacity Building (CB) OC 1 Sumatera Barat beserta Tim Korkot dan Tim Fasilitator. Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Solok Rusdianto. Walaupun beberapa kelurahan sudah memulai kegiatan fisik di lapangan, guna memeriahkan kegiatan, dilakukan penyerahan dana BDI secara simbolis kepada lurah dan LKM penerima BDI. Dibahas juga kemajuan kegiatan di lapangan, termasuk capaian dan kendala yang dihadapi.

Satu hal yang sangat menarik dalam kegiatan ini bukan hanya penyerahan simbolis dan diskusi, melainkan keseriusan dan perhatian penuh para “nakhoda” yang begitu kentara. Arahan dalam bentuk bimbingan dan penekanan-penekanan diberikan kepada masyarakat. Ibarat seorang ayah memberikan nasehat untuk anaknya, Sekda mengimbau agar masyarakat melaksanakan kegiatan sesuai dengan aturan, dengan mengutamakan transparansi dan akuntabilitas, mengingat BDI Kota Solok didapatkan dengan perjuangan yang tidak mudah. Dihimbau juga agar terjalin kerja sama yang baik antara LKM, masyarakat dan pemerintah kelurahan. Hal yang sama juga disampaikan oleh TA CB dan Kepala Satker PIP Kota Solok.

Walau masih perjalanan awal, rangkaian kegiatan tersebut menggambarkan keseriusan pemerintah sebagai “nakhoda” untuk membawa masyarakat mencapai tujuan bersama mengatasi permasalahan kumuh di Kota Solok. Gesitnya “nakhoda” memang akan memengaruhi kesuksesan KOTAKU. Masyarakat pun menyambut baik, karena mereka juga ingin segera sampai di pulau impian. [Sumbar]

Editor: Nina Razad

(dibaca 215)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 1104, akses halaman: 1258,
pengunjung online: 74, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank