Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaBeritaKolaborasi Mampu Sapu Bersih Lokasi Kumuh di tahun 2018
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Bogor, 14 November 2017
Kolaborasi Mampu Sapu Bersih Lokasi Kumuh di tahun 2018


Oleh:
Ratna Utami
Askot IC
Kota Surakarta
OSP 5 Provinsi Jawa Tengah
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Kolaborasi diyakini mampu sapu bersih lokasi kumuh di tahun 2018. Demikian salah satu poin penting yang disampaikan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Peningkatan Kualitas Kawasan Permukiman Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU) Wilayah 2 Mukhammad Fakhrur Rifqie, dalam pembukaan kegiatan Peningkatan Kapasitas Korkot dan Asisten Korkot National Slum Upgrading (NSUP) Program KOTAKU. Kegiatan yang berlangsung di The Forest Hotel  kota Bogor pada 13 -18 November ini mengundang sejumlah 169 orang personel Tim Korkot dari 30 Kota Prioritas Direktif Menteri.

Lebih lanjut disampaikan bahwa pelatihan untuk 30 kota ini memiliki harapan agar perencanaan di tahun 2018 akan lebih baik mengingat capaian kegiatan di tahun 2017 dinilai belum optimal. Di sisi lain, ada hal yang baru dari Program KOTAKU dan menarik banyak pihak, yakni konsep kolaborasi dalam menangani kumuh. Hingga Oktober 2017 terhitung pengurangan kumuh sebanyak 4.829 Hektare, dengan biaya Rp611 miliar. Dalam konsep kolaborasi, hal itu menjadi luar biasa, karena perhitungan penanganan kumuh seharusnya Rp1 miliar per Hektare.

Pada kesempatan itu Rifqie juga menegaskan, para pelaku di Program KOTAKU mempunyai tugas untuk memenuhi target KPI yang telah ditetapkan. Dalam hal ini, yang harus bicara target bukan lagi Korkot, melainkan Pemda dalam wadah Pokja PKP. Pelaku juga hendaknya memastikan diri paham cara mencapai pengurangan kumuh dengan target yang detail dari KMP hingga ke tim fasilitator.

Rifqie juga menegaskan agar Pemda terus didorong untuk berkolaborasi di lokasi kumuh, dengan cara komunikasi yang baik, sehingga semua bisa terselesaikan dengan baik dan proporsional. "Pastikan masing-masing Korkot memiliki lokasi best practice, minimal 50% dari lokasi dampingan tentang keterpaduan penanganan kumuh, perubahan wajah kampong yang ditangani, ada peningkatan kualitas hidup masyarakat sasaran, ada manfaat yang dirasakan, dan juga pengurangan kumuh," urainya.

Lebih lanjut ia mengungkapkan, integritas pendamping menjadi faktor yang sangat penting. Karena dengan integritas yang baik maka mereka akan menjadi pelaku pendamping program yang baik dan bertanggung jawab pula. Untuk itu, pelatihan ini diharapkan mampu meminimalisir perbedaan pemahaman antarjenjang pendamping KOTAKU dari KMP, KMW, Korkot hingga tingkat fasilitator. [Jateng]

Editor: Nina Razad

(dibaca 371)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Berita | Arsip Berita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 1914, akses halaman: 2457,
pengunjung online: 279, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank