Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Arsip Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaArsip WartaArsip BeritaAsbes...!!! Benarkah Berbahaya..?
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Jakarta, 2 Februari 2010
Asbes...!!! Benarkah Berbahaya..?

Asbes atau asbestos adalah salah satu bahan tambang, terdiri dari serat silikat mineral dengan komposisi kimiawi yang berbeda. Bahan ini memiliki kekuatan dan ketahanan tinggi, terhadap api, panas, serta zat kimia. Tetapi tidak bisa diuraikan oleh alam.

Asbes banyak ditemukan di sekitar kita, pada umumnya digunakan untuk pembangungan gedung dan bahan isolasi. Beberapa barang yang biasa menggunakan asbes atara lain :

  • Pipa semen dengan serat asbes
  • Kampas kopling, kampas rem, dan komponen transmisi kendaraan bermotor
  • Pelapis kabel listrik
  • Pelapis pipa heater
  • Panel anti api
  • Produk atap bangunan, dll

Kenapa Bahan Ini Berbahaya?

Kerusakan pada material yang mengandung serat asbes ini akan menimbulkan debu asbes. Kegiatan memasang, mematahkan, menggergaji, mengebor, mencampakkan serta menghancurkan bahan yang mengandung asbes juga bisa melepaskan partikel serat asbes ke udara. Jika terhisap, serat asbes mengendap di dalam paru-paru, menyebabkan parut (fibrosis). Hal ini sering diabaikan dikarenakan penyakit yang ditimbulkan oleh partikel asbes ini biasanya baru timbul dalam jangka waktu antara 10-50 tahun.

Dampak Asbes

Menghirup serat asbes bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut di dalam paru-paru. Jaringan paru-paru yang membentuk fibrosis tidak dapat mengembang dan mengempis sebagaimana mestinya. Beratnya penyakit tergantung kepada lamanya pemaparan dan jumlah serat yang terhirup.

Pemaparan asbes bisa ditemukan di industri pertambangan dan penggilingan, konstruksi dan industri lainnya. Pemaparan pada keluarga pekerja asbes juga bisa terjadi dari partikel yang terbawa ke rumah di dalam pakaian pekerja.

Penyakit yang Bisa Timbul

Menghirup asbes dapat menyebabkan penebalan pleura (selaput yang melapisi paru-paru) karena tergores oleh serat asbes. Daerah yang terkena disebut plak pleura. Penyakit ini bersifat kronis dan tidak ada obatnya.Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh asbes diantaranya:

Asbestosis adalah suatu penyakit saluran pernafasan yang terjadi akibat menghirup serat-serat asbes dalam konsentrasi cukup tinggi, dimana pada paru-paru terbentuk jaringan parut yang luas.

Kanker paru-paru adalah penyakit yang muncul jika seseorang terus menerus bekerja dalam lingkungan yang terkontaminasi asbes. Para perokok cenderung lebih beresiko dibandingkan bukan perokok bila menghirup debu asbes.

Mesothelioma adalah salah satu tumor ganas pada membran paru-paru. Selain mengenai orang yang bekerja pada lingkungan asbes tinggi bisa juga menyerang keluarga.

Gejala

Gejala asbestosis muncul secara bertahap dan baru muncul hanya setelah terbentuknya jaringan parut dalam jumlah banyak dan paru-paru kehilangan elastisitasnya.

Gejala pertama adalah sesak nafas ringan dan berkurangnya kemampuan untuk melakukan gerak badan. Sekitar 15% penderita, akan mengalami sesak nafas yang berat dan mengalami kegagalan pernafasan.

Perokok berat dengan bronkitis kronis dan asbestosis, akan menderita batuk-batuk dan bengek. Menghirup serat asbes kadang-kadang dapat menyebabkan terkumpulnya cairan pada ruang antara kedua selaput yang melapisi paru-paru. Meskipun jarang, asbes juga bisa menyebabkan tumor pada pleura yang disebut mesotelioma atau pada selaput perut yang disebut mesotelioma peritoneal.

Mesotelioma yang disebabkan oleh asbes bersifat ganas dan tidak dapat disembuhkan. Mesotelioma umumnya muncul setelah terpapar krokidolit, satu dari 4 jenis asbes. Amosit, jenis yang lainnya, juga menyebabkan mesotelioma. Krisotil mungkin tidak menyebabkan mesotelioma tetapi kadang tercemar oleh tremolit yang dapat menyebabkan mesotelioma.
Mesotelioma biasanya terjadi setelah pemaparan selama 30-40 tahun.

Kanker paru-paru akan terjadi pada penderita asbestosis yang juga merokok, terutama mereka yang merokok lebih dari satu bungkus sehari.

Gejala lainnya yang mungkin ditemukan:

  • batuk
  • rasa sesak di dada
  • nyeri dada
  • kelainan kuku atau clubbing of fingers (bentuk jari-jari tangan yang menyerupai tabuh genderang).

Diagnosa

Pada pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop, akan terdengar suara ronki. Untuk memperkuat diagnosis, biasanya dilakukan pemeriksaan berikut:

  • Rontgen dada
  • Tes fungsi paru-paru
  • CT scan paru.

Penyembuhan

Pengobatan suportif untuk mengatasi gejala yang timbul adalah membuang lendir/dahak dari paru-paru melalui prosedur postural drainase, perkusi dada dan vibrasi. Diberikan obat semprot untuk mengencerkan lendir. Mungkin perlu diberikan oksigen, baik melalui sungkup muka (masker) maupun melalui selang plastik yang dipasang di lubang hidung. Kadang dilakukan pencangkokan paru-paru. Mesotelioma berakibat fatal, kemoterapi tidak banyak bermanfaat dan pengangkatan tumor tidak menyembuhkan kanker.

Pencegahan

Asbestosis dapat dicegah dengan mengurangi kadar serat dan debu asbes di lingkungan kerja. Karena industri yang menggunakan asbes sudah melakukan kontrol debu, sekarang ini lebih sedikit yang menderita asbestosis, tetapi mesotelioma masih terjadi pada orang yang pernah terpapar 40 tahun lalu.

Untuk mengurangi resiko terjadinya kanker paru-paru, kepada para pekerja yang berhubungan dengan asbes, dianjurkan untuk berhenti merokok. Sementara itu guna menghindari sumber penyakit yang akan tersebar pada pihak keluarga, disarankan setiap pekerja untuk mencuci pakaian kerjanya di pabrik atau tempat kerja, dan menggantinya dengan pakaian bersih untuk kembali ke rumah. Sehingga semua pakaian kerja tidak ada yang dibawa pulang, dan pekerja membersihkan diri atau mandi sebelum kembali kerumah masing-masing.

Penanganan Material ASBES

  • Mengidentifikasi bahan yang mengandung asbes dan memperhitungkan resiko yang bisa terjadi
  • Jauhkan anak-anak dari daerah tersebut
  • Menggunakan perlengkapan yang diperlukan seperti masker, kacamata, sarung tangan, dan pakaian ganti
  • Menyiram material tersebut untuk mengurangi debu
  • Meminimalkan jumlah orang yang kontak dengan material tersebut
  • Dimasukkan dalam wadah tertutup rapat

Material Pengganti sebagai Alternatif ASBES

Di pasaran sudah terdapat material pengganti sebagai alternatif asbes yaitu :

  • Kalsiboard (serat selulosa, silika, zat aditif, semen, dan air)
  • Ardex (serat sintetis, serat selulosa, zat aditif, semen, dan air)
  • Seng Eternit (serat sintetis, serat selulosa, zat additif, semen, dan air)

Pembuangan Limbah ASBES

  • Jangan dicampur dengan material lain
  • Simpan dengan wadah tertutup dan diangkut dengan truk tertutup yang menjamin limbah asbes tidak beterbangan
  • Buang limbah di lokasi khusus yang mempunyai pemisah dengan tanah dan udara (bis beton/bungker)
  • Jangan dibakar

(diambil dari berbagai sumber; Wirawan Kristianto-Safeguard Lingkungan, KMP; teamweb)

(dibaca 9657)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Berita | Arsip Berita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 3132, akses halaman: 3749,
pengunjung online: 39, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank