Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Arsip Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaArsip WartaArsip ArtikelOrang Minangkabau Merantau guna Mengentaskan Kemiskinan
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Padang, 4 Desember 2014
Orang Minangkabau Merantau guna Mengentaskan Kemiskinan

 

Oleh:
Drs. Akral, MM
Kabag Telematika Biro Humas
Sekda Provinsi Sumatera Barat

Sebagaimana diketahui masyarakat Minangkabau sangat ulet sekali berusaha. Mereka berusaha keluar dari kampung halamannya atau pergi meninggalkan kampung halaman guna menyambung hidup di negeri orang lain. Peristiwa ini sering disebut dengan “merantau”. Populasi orang Minangkabau di luar Sumatera Barat melebih dari yang tinggal di kampung halamannya sendiri (di Sumatera Barat). Daerah yang menjadi tujuan mereka merantau rata-rata adalah daerah perkotaan atau dimana saja asal ada orang ramai. Rata-rata usaha yang dilakoni orang Minangkabau di rantau adalah berdagang atau berjualan. Seperti berjualan nasi, jualan kain atau pakaian, jualan buku dan sebagainya. Tidak dapat dimungkiri, di seantero dunia, di mana saja sudah dipastikan kita akan menemukan rumah makan padang.

Saat merantau, orang Minangkabau tidak pernah membawa modal berupa uang. Yang dibawa hanyalah semangat dan keuletannya. Orang Minangkabau biasanya mengawali usahanya dengan berjualan kakilima. Mereka berjualan di pojok-pojok toko besar, di pinggir-pinggir jalan dan sebagainya. Barang dagangnya mulai dari nasi sampai pakaian dalam, pecah belah dan sebagainya. Sangat jarang orang Minang berjualan sayur di rantau.

Lalu, jika sudah berhasil maka mereka membeli toko dan berjualan di toko tersebut. Biasanya yang dijual di toko itu adalah barang yang sama dengan yang dijual di kakilima dulu. Lihat saja sekarang warung nasi padang mulai dari kakilima sampai restoran besar dan ber-Air Conditioning (AC). Untuk meneruskan jualan di kakilima biasanya orang Minang membawa sanak-kemenakannya yang ada di kampung untuk berjualan di kota tempatnya merantau. Artinya, berjualan kakilima adalah suatu latihan atau kawah candradimuka bagi orang Minang untuk sukses. Bila berhasil menjadi pedagang kakilima barulah mereka bisa beli toko dan mengelola penjualan di tokonya ini. Peristiwa inilah yang berlangsung secara terus menerus dan berkelanjutan bagi masyarakat Minang di rantau. Begitu pula barang yang perdagangkan di kakilima.

Merantau untuk Mengentaskan Kemiskinan

Bagi orang Minang, guna merantau adalah untuk melawan atau mengentaskan kemiskinan, orang Minang menyadari betul jadi pengangguran adalah hal yang memalukan. Terutama sekali malu kepada tetangga, kepada mamak dan saudara-saudara perempuan. Karena pemuda ini dianggap tidak bisa berbuat atau tidak bisa menghasilkan. Ada pepapatah di Minangkabau mengatakan, “Karakok madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di kampuang paguno balu”. Artinya seorang pemuda di Minangkabau, kalau belum bekerja, dia kurang mendapat tempat atau kurang dapat perhatian, khususnya bagi remaja-remaja dan calon-calon mertua. Kalau diperhatikan hal ini sangat sederhana. Tapi kalau dimaknai, hal ini sangat dalam sekali nilai-nilainya. Maksudnya, jika untuk membiayai dirinya sendiri belum sanggup, bagaimana membantu sanak familinya, apalagi menghidupi rumah tangganya nanti?

Ditambah kondisi di kampung halaman. Dilihat rumah orang tua semakin padat dan penuh sesak oleh saudara perempuan yang sudah menikah, tentu ada urang sumando. Ditambah lagi dengan lahirnya anak saudara perempuan, yang disebut dengan kemenakan, yang membuat rumah semakin sempit. Dilihat keluar, lahan sudah semakin menyempit, karena sudah dibangun pula perumahan untuk tempat tinggal penduduk. Sawah yang dulu bajanjang bapamatang dan ladang yang babiteh bapintalak merupakan pusako tinggi yang turun-temurun. Karena dulunya ditaruko oleh mamak, dan turun temurun kepada cucu kemenakan.

Seperti dikatakan Buya Mas’ud Abidin: Sawah ladang anak nagari masa dulu merupakan hasil taruko ninik-mamak. Sawah bajanjang bapamatang dan ladang babiteh babentalak. Dari mamak turun ke kemenakan, yang letaknya pun tidak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Ternyata sawah ladang itu juga sudah semakin sempit dan hasilnya juga semakin sedikit. Sementara yang akan memakan hasilnya semakin bertambah.

Berbekal tulang nan salapan karek (tulang delapan potong) pemuda Minang pergi merantau meninggalkan kampung halamannya. Biasanya yang menjadi tujuan adalah Jawa. Karena di Pulau Jawa penduduknya lebih ramai dibandingkan pulau-pulau lainnya. Pulau-pulau lain banyak juga menjadi tujuan merantau bagi orang Minang. Sasaran mereka, sudah dapat dipastikan, daerah-daerah yang ramai penduduknya, seperti Medan, Palembang, Makassar dan lain sebagainya. Sekarang Pulau Kalimantan juga sebagai tujuan merantau bagi orang Minang. Karena ada daerah-daerah yang baru dibuka, orang Minang pun masuk dengan barang dagangannya.

Untuk merantau, orang Minang biasanya bermodalkan keyakinan, kemauan serta keuletan dan berusaha dengan tulang nan lapan karek. Orang Minang di rantau sangat pandai bergaul, dan biasanya dibekali pula dengan ilmu agama. Karena adat Minang itu berdasarkan kepada "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Syarak managato adat mamakai, alam takambang jadi guru." Artinya orang Minang sangat alim dan fanatik dengan adat dan agamanya, sehingga keberadaannya selalu disenangi oleh masyarakat di tempat mereka merantau, karena rata-rata orang Minang pandai mengaji dan selalu shalat lima waktu. Biasanya orang Minang (pemuda Minang) kalau merantau menumpang tinggal di masjid dan surau (sementara jadi Garin) atau di tempat saudara, handai taulannya yang sekampung. Tetapi tinggal lama di rumah sanak saudara tidak begitu menyenangkan bagi pemuda Minang. Mereka akan lebih memilih tinggal di masjid atau di rumah orang lain daripada di rumah saudara. Karena kalau lama di rumah saudara, katanya, kurang menantang dan sulit berkembang.

Pemuda Minang sangat pandai mengambil hati orang, sehingga orang sangat percaya kepadanya. Seperti pepatah klasik di Minangkabau: kalau buyuang pai ka lapau balanak bali hiu bali, ikan panjang bali dahulu, kalau buyuang pai marantau dunsanak cari ibu dicari, induak samang cari dahulu .Makna pepatah ini adalah kalau seseorang pergi merantau cari ibu dan sanak famili di rantau, tetapi yang lebih penting adalah induk semang cari dahulu (bos). Biasanya induk semang ini adalah orang Minang juga yang lebih dulu merantau. Induk semang ini juga kerap jadi orangtuanya di rantau.

Betapapun jauhnya rantau orang Minang, dan betapa pun kayanya di perantauan, namanya kampung halaman tetap diingat juga. Pepatah Minang mengatakan “satinggi tinggi tabang bangau, nan suruiknyo ka kubangan juo” . Artinya setinggi-tinggi terbang bangau, akan tetap kembali ke kubangan. Namun, jika orang Minang tidak berhasil di rantau, mereka tidak akan mau pulang ke kampung halamannya. Jika mereka tetap saja seperti dulu sebelum pergi merantau, mereka tentu akan dicimeeh (diejek) oleh orang kampungnya. Artinya sudah lama pergi merantau dan jauh pula tempat merantau, kok nasibnya tidak juga berubah.

Di rantau, pemuda Minang akan selalu berhemat, karena menyadari betul susahnya mendapatkan harta dan susah pula mendapatkan kesempatan berusaha. Sebagaimana diketahui, tujuan mereka merantau adalah untuk mengubah nasib. Kemiskinan yang mendera di kampung selama ini dapat diatasi di rantau. Dengan arti kata, dia sudah berhasil mengentaskan kemiskinan yang ada pada diri pribadinya terlebih dahulu. Uang yang diperoleh disimpan dan sebagian dikirimkan ke kampung halamannya untuk keperluan orangtua dan sanak saudara di kampung.

Pemuda Minang di rantau juga mempunyai sikap yang selalu mawas diri terhadap masa yang akan datang. Nilai ini sudah tertanam dari dalam dirinya. Mereka juga punya perencanaan dan program ke depan. Nilai-nilai ini sudah tertanam sejak dari kampung, bak pepatah mengatakan, “Ingek sabalun kanai, kulimek sabalun abih, ingek-ingek nan ka pai, agak-agak nan ka tingga”. Artinya, hidup berhemat dan pandangan jauh ke depan sudah menjadi filosofi pula bagi pemuda Minang.

Selanjutnya pepatah Minang “nio kayo badikik-diki, nio tuah batanua urai, nio mulia tapek i janji, nio luruih rantangkan tali, nio buliah kuaik mancari, nio namo tinggakan jaso, nio pandai rajin baraja”. Sudah menjadi kebiasaan bagi orang Minang, sebelum pulang dari rantau, mereka mengirimkan uang kepada orangtuanya untuk memperbaiki rumah atau menebus kalau-kalau ada harta yang digadaikan selama ini.

Apabila hidupnya betul-betul sudah berubah dan ekonomi sudah mantap barulah mereka pulang kampung untuk melihat orangtua, sanak saudara dan orang kampung. Biasanya pemuda Minang yang sudah sukses di rantau, begitu pulang kampung, banyak orangtua yang mempunyai anak gadis datang untuk menjodohkan anaknya dengan pemuda dari rantau ini. Masalah ini sangat manusiawi sekali. Daripada dijodohkan dengan orang lain, lebih baik dengan orang kampung. Atau istilahnya dalam bahasa Minang, “Daripado manggadangan anak urang lain labiah rancak manggadangan urang kampuang awak”. Dengan demikian bako anaknya masih berada di kampung halamannya.

Orang di kampung biasanya juga akan menikmati pula hasil dari rantau. Kiriman dari rantau tidak hanya untuk orang tuanya saja, tetapi juga untuk semua orang kampung. Hal ini dilaksanakan sebagai bentuk mengentaskan kemiskinan untuk kampung halamannya sendiri. Tidak sedikit para perantau Minang mengirimkan uang untuk pembangunan infrastruktur, seperti membantu pembangunan jalan, irigasi, fasilitas umum, serta sarana peribadatan, seperti sekolah dan masjid, dengan jalan bergotong royong. Pepatah Minang mengatakan, “Alang jo keke bari makan tabang ka pantai ka duonyo, panjang jo singkek dipaulehkan makonyo sampai cito-cito”.

Dana untuk biaya pembangunan dari rantau dan tenaga untuk pelaksanaan pembangunan masyarakat kampung bergotong-royong, bak pepatah Minang mengatakan, “Dek sakato makonyo ado, dek sakutu makonyo maju, dek ameh makonyo kameh, dek padi makonyo jadi”. Bahkan, terhadap anak-anak sekolah yang berprestasi di kampung halamannya juga dibantu dengan beasiswa pendidikannya sampai sarjana. Suasana gotong-royong untuk membangun kampung merupakan nilai-nilai budaya yang sudah mengakar dalam diri orang Minangkabau tidak hanya di Kampung halaman namun juga bagi masyarakat yang berada di perantauan.

Karena dengan kebersamaan, apa yang kita inginkan akan dapat teratasi. Hal ini diperkuat dengan pepatah Minang, “Adaik hiduik tolong manolong, adat mati janguak manjanguak, adaiak lai bari mambari. Adaik indak salang manyalang (basalang tenggang). Artinya kemiskinan yang ada di kampung halaman sendiri juga ikut dilawan atau dientaskan dengan cara seperti di atas. Begitulah kira-kira kehidupan masyarakat Minangkabau di kampung halaman dan perantauan.

Kesimpulan

Dari uraian di atas jelas sekali bahwa orang Minangkabau merantau adalah untuk melawan atau mengentaskan kemiskinan, karena sulit mendapatkan pekerjaan di kampung halaman sendiri. Ini akibat kampung sendiri (rumah sebagai tempat tinggal) sudah semakin sempit. Lahan pertanian dan hutan sudah berubah fungsi dan juga sudah dikuasai pula oleh orang lain, hingga sawah dijadikan perumahan, hutan dijadikan areal perkebunan sawit, dan masyarakat sekitar semakin terdesak.

Masyarakat Minang yang merantau selama ini juga ikut berpartisipasi membantu pembangunan di kampung halaman sendiri. Juga membantu masyarakat dalam memajukan pembangunan fisik dan non-fisik seperti membangun infrastruktur dan membantu biaya pendidikan anak nagarinya. Masyarakat Minang di perantauan juga mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai adat istiadat yang mereka anut di kampung halamannya.

Dari tulisan yang singkat ini hendaknya para perantau lebih memerhatikan lagi pembangunan yang ada di kampung halaman. Sebab masalah pembangunan bukanlah hanya urusan pemerintah semata, tetapi urusan kita bersama. Kepada para anak-kemenakan dan para ninik-mamak juga harus duduk bersama untuk memikirkan pembangunan di kampung halaman. Pembangunan tidak hanya bersifat fisik saja, tetapi juga yang bersifat non fisik, seperti pelestarian nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau yang sangat tinggi nilainya.

Kepada pihak pemerintah, khususnya Pemerintahan Nagari, harus mendata masyarakat nagarinya yang merantau, sehingga lebih mudah untuk berkoordinasi, terutama sekali dalam memecahkan masalah pembangunan yang ada di kampung halaman sendiri. [PL-Sumbar]

Catatan: Tulisan ini pernah di terbitkan di Buletin Organisasi dan Aparatur. Edisi 55/VI/2014 Biro Organisasi Sekretariat Daerah Provinsi Sumatera Barat.

Disunting untuk web PNPM Mandiri Perkotaan oleh: Nina Firstavina

(dibaca 13765)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 3202, akses halaman: 3567,
pengunjung online: 157, waktu akses: 0,016 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank