Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Arsip Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaArsip WartaArsip ArtikelStrategi Optimalisasi Luas Ruang dan Fungsi Ruang Berbanding Jumlah Penghuni
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Banda Aceh, 7 September 2016
Strategi Optimalisasi Luas Ruang dan Fungsi Ruang Berbanding Jumlah Penghuni

Oleh: 
Cut Silvia Suciatina
Sub Safeguard
OSP 10 Provinsi Aceh 
Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Penanganan permasalahan permukiman kumuh saat ini menjadi program pemerintah di bawah naungan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Guna mendukung program pemerintah ini, dibutuhkan pengkajian permasalahan lebih detail. Salah satunya adalah kajian secara spasial (keruangan) yang juga merupakan alternatif dalam menangani masalah permukiman kumuh, khususnya di daerah perkotaan.

Dengan alternatif desain keruangan ini, besar harapan dapat diimplementasikan dalam penataan kawasan permukiman kumuh. Guna mendapatkan strategi penanganan yang baik, harus diketahui pula karakteristik permukiman, kondisi serta penyebab-penyebab terjadinya kekumuhan yang sudah terindentifikasi melalui pendataan baseline 100-0-100.

Contoh tabel data identifikasi kondisi gampong peniti Dusun Fakinah di bawah ini, didapatkan data untuk kondisi kelayakan fisik bangunan yang memiliki luas lantai sesuai standar teknis minimal 7,2 m2 per orang sebesar 21% dari jumlah 102 bangunan hunian. Artinya sekitar 21 bangunan hunian yang hanya memiliki luas lantai minimal 7,2 m2 per orang, dan 81 bangunan hunian yang memilki luas lantai di bawah standar teknis bangunan.

Jika kondisi hasil identifikasi di lapangan menunjukkan, rumah tinggal/rumah hunian memiliki ruangan yang luasnya tidak memadai, dibutuhkan konsep dan desain optimalisasi ruang yang di dasarkan atas jumlah penghuni. Jumlah penghuni dalam suatu rumah di Gampong Peuniti Dusun Fakinah bervariasi, contoh beberapa perbandingan luasan lantai bangunan dengan jumlah penghuni yang tidak memadai (berdasarkan data baseline 100-0-100).

  • Luasan bangunan hunian 28 m2 dihuni oleh 5 orang
  • Luasan bangunan hunian 42 m2 dihuni oleh 7 orang
  • Luasan bangunan hunian 18 m2 dihuni oleh 3 orang
  • Luasan bangunan hunian 36 m2 dihuni oleh 8 orang

Dari contoh luasan tersebut, dapat dilihat bahwa terdapat lebih dari 6 penghuni di dalam satu bangunan hunian, ini terjadi karena ada lebih dari 1 Kepala Keluarga (KK). Kondisi ini terjadi karena ada adik-kakak yang tinggal di satu bangunan hunian, malah ada anaknya yang sudah menikah dan memiliki keluarga tinggal di dalam satu bangunan hunian. Dengan luasan bangunan yang tidak memadai, karena kebutuhan ruang yang tidak terpenuhi. Maka dapat ditentukan jenis optimalisasi yang bisa dilakukan pada bangunan hunian tersebut. Budaya dan adat ini masih terjadi di Aceh, karena biasanya anak perempuan tertua (yang sudah menikah) akan tinggal di rumah induk milik orang tua beserta dengan orang tuanya.

Selama ini sudah banyak upaya peningkatan kualitas permukiman yang sudah dilakukan salah satunya PNPM Mandiri Perkotaan. Namun masih banyak konsep penanganannya tidak menawarkan konsep optimisasi ruang. Optimalisasi ruang dilakukan dengan cara pemanfaatan ruang secara efektif dan efisien sesuai dengan kebutuhan. Optimalisasi ini dilakukan untuk membuat kondisi bangunan hunian menjadi lebih baik dan layak. Beberapa sumber/artikel, menyatakan bahwa optimalisasi ruang dapat diartikan sebagai sebuah upaya perubahan pada ruang, agar dapat memanfaatkan ruang dengan baik, sehingga mencapai kondisi terbaik bagi tempat tersebut. Dalam perencanaannya pun harus memenuhi tuntutan kebutuhan ruang mendasar bagi penghuninya sebagai upaya dalam peningkatan kualitas kenyamanan dan kesehatan.

Menurut Bani Noor Muhammad dkk, 2008 dalam “Konsep Optimalisasi Ruang Permukiman Kumuh Berdasar Profil Jumlah Penghuni” ruang yang perlu disediakan sebagai ruang hunian sekurang-kurangnya terdiri atas (1) sebuah ruang tidur, yang memenuhi persyaratan keamanan dengan bagian-bagian tertutup oleh dinding dan atap serta memiliki pencahayaan yang cukup dan terlindungi dari cuaca. Ruang tidur merupakan ruang yang utuh, sesuai dengan fungsi utamanya; (2) Sebuah ruang serba guna, yang di dalamnya dilakukan kegiatan interaksi antara anggota keluarga; (3) Sebuah kamar mandi yang digunakan sebagai ruang servis, khususnya untuk kegiatan mandi, cuci dan kakus.

Ketiga ruang tersebut merupakan ruang-ruang minimal yang harus dipenuhi sebagai standar minimal dalam pemenuhan kebutuhan ruang dalam sebuah bangunan hunian.

Berikut adalah analisis dan pembahasan konsep optimalisasi ruang berdasar profil jumlah penghuni, dan juga alternatif desain untuk masing-masing kategori, serta konsep optimalisasi ruang pada permukiman kumuh berdasar profil jumlah penghuni:

Dari tabel konsep dan desain optimalisasi ruang berdasar profil penghuni di atas, dapat dijelaskan bahwa setiap kategori disarankan memenuhi; (1) standar kelengkapan ruang, (2) standar besaran ruang, (3) standar konsep optimalisasi ruang, dan (4) usulan optimalisasi ruang sesuai alternatif desain yang dibuat berdasar karakter ruang dan fisik rumah yang ada saat ini.

Optimalisasi besaran ruang dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu pengoptimalisasian luasan/besaran ruang, dan pengoptimalisasian fungsi ruang. Optimalisasi besaran ruang menghasilkan ruang yang cukup untuk menampung kegiatan para penghuni. Besaran ruang yang dihasilkan tersebut tidak bersifat kaku, karena dapat disesuaikan dengan dimensi ruang yang tersedia pada rumah. Jika dimensi ruang yang tersedia pada suatu rumah sangat kecil maka optimalisasi ruang berdasarkan pengaturan fungsi ruang akan diberlakukan, yaitu dengan cara pelapisan fungsi ruang.

Berdasar berbagai keterbatasan yang ada pada permukiman kumuh, maka konsep optimalisasi ruang berdasar profil/jumlah penghuni adalah yang paling memungkinkan, yuk coba kita implementasikan. [Aceh]

Editor: Nina Razad

(dibaca 1798)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Artikel | Arsip Artikel | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 919, akses halaman: 961,
pengunjung online: 46, waktu akses: 0,031 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank