Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Arsip Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaArsip WartaArsip BeritaPenting, Pelaku KOTAKU Pahami Strategi Lobi, Negosiasi dan Advokasi
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Bogor, 15 November 2017
Penting, Pelaku KOTAKU Pahami Strategi Lobi, Negosiasi dan Advokasi


Oleh:
Iroh Rohayati Fatah
TA Komunikasi Massa dan PR
KMP wilayah 2
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Pengetahuan mengenai "Strategi Lobi, Negosiasi, dan Advokasi" dinilai sangat penting dipahami oleh para pelaku Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), khususnya di level Koordinator Kota (Korkot) dan Asisten Kota (Askot). Untuk itu, pelatihan peningkatan kapasitas Korkot dan Askot yang digelar KOTAKU dinilai sudah tepat dan sesuai kebutuhan. Hal tersebut terungkap dalam diskusi materi “Strategi Lobi, Negosiasi, dan Advokasi” yang dilakukan oleh 30 Korkot se-Indonesia, di The Forest Hotel, Kota Bogor, pada Rabu, 15 November 2017.

Seperti disampaikan oleh Korkot KOTAKU Kota Ambon Solfater Boy Tetelepta. Menurutnya, sebagai Korkot, kapasitas yang dibutuhkan dan hendaknya ditambahkan adalah bagaimana Korkot bisa mengambil peran dalam pelaksanaan kegiatan. Banyak tantangan baru yang dihadapi, khususnya tujuan ke depan akan seperti apa. Jangan terkungkung dengan, mohon maaf, yang kemarin-kemarin, tapi bagaimana ke depannya lebih baik.

“Jadi, kapasitas yang harus ditingkatkan adalah bagaimana berusaha untuk melakukan lobi atau negosiasi ke Pemda, sehingga target bahwa pemda sebagai nakhoda bisa tercapai,” ujarnya.

Boy juga mengatakan, di antara pelatihan yang pernah diikutinya, ada perubahan metode dalam pelatihan kali ini. Jika dahulu pelatihan peserta berada di kelas yang sama, dengan peserta yang sama sejak hari pertama, sekarang peserta di-rolling. Metode ini dinilai lebih bagus, karena membuat peserta bisa saling lebih mengenal, dan saling bertukar informasi, sehingga menambah wawasan.

“Tipe (pelatihan) seperti ini lebih bagus. Barangkali untuk pelatihan ke depannya juga, kita tidak hanya terpaku di satu kelas, tapi kita saling rolling, sehingga bisa timbul keakraban maupun sharing informasi, berbagi pengalaman. Sehingga kita kembali ke daerah, kita bisa melakukan (menerapkannya),” jelasnya.

Adapun tantangan di Ambon, menurut Boy, berada di tataran Pemda. Pertama, karena wali kotanya baru. Kedua, karena di Kota Ambon ada dua program yang sedang berjalan, Program KOTAKU belum sepenuhnya mendapat dukungan. Untuk itu, ia berharap ke depannya bisa membangun komunikasi yang lebih baik dengan pemerintah kota. Itulah pentingnya materi “Strategi Lobi, Negosiasi, dan Advokasi” dipahami sebaik mungkin oleh pendamping di lapangan, khususnya Korkot dan Askot.

 “Mari kita bekerja secara sungguh-sungguh. Mari kita melihat bahwa ini merupakan panggilan jiwa kita, sehingga pada saat kita melakukan (pekerjaan) dengan hati maka semuanya akan berjalan dengan lancar. Tapi jika kita melakukannya dengan bersungut, pasti juga pekerjaan kita akan terhambat,” tegas Boy.

Tips dan Trik Lobi dan Negosiasi

Pada kesempatan yang sama, cara lobi dan negosiasi jitu diungkapkan oleh Korkot KOTAKU Kota Jayapura Elfrida Mokoginta. Menurutnya, pertama, pelajari karakter pemimpin, mulai dari tingkat teratas (wali kota) sampai terbawah. Kedua, Masuk dan akrabkan diri dengan para pemimpin kota ini. Jangan langsung bicara terkait dengan program di pertemuan pertama. Nanti, di pertemuan kedua, janjian, barulah bicara program.

“Jadi kita kenalan, tanya nomor hape, bicara-bicara dulu. Jadi kita jalin keakraban dulu. Karena, kalau kita sudah akrab dengan setiap pimpinan yang ada di daerah itu, pasti apapun tujuan yang ingin kita capai pasti akan berhasil,” urainya.

Korkot yang bertugas di Kota Jayapura sejak tahun 2013 ini mengaku dirinya butuh sekitar setahun pendekatan dengan Pemkot Jayapura. Dan pihak pertama yang ia dekati adalah Bappeda. “Karena Bappeda itu membawahi OPD-OPD (Organisasi Perangkat Daerah—Red.) yang ada di tingkatan pemerintah setempat. Jadi kalau Bappeda-nya sudah kita pegang, potensi-potensi di setiap OPD itu pasti akan bisa tergali. Dan untuk ke pimpinannya juga bisa lebih cepat,” jelas Elfrida.  

Untuk itu ia berpesan, agar lobi dan negosiasi di tingkat Pemda berhasil, bergabung menjadi bagian yang merupakan satu kesatuan dari Pemda yang didampingi. Jangan jadikan diri sebagai orang luar. Sedemikian rupa sehingga program ini dianggap dibutuhkan oleh mereka, bukan sebaliknya.

Sebagai Korkot, Elfrida mengakui, tantangan terberat di Kota Jayapura adalah saat menghadapi masyarakat, karena masyarakat Jayapura yang begitu heterogen, terdiri atas bermacam suku—baik luar Papua maupun suku pedalaman Papua. Ini membuat karakter masyarakat dinilai lebih tangguh. Meski demikian, ia mengatakan, target penanganan kumuh berdasarkan RPJMD Kota Jayapura, Pemda optimis mencapai nol persen kumuh di tahun 2019, meski RPJMD kotanya sampai 2022. [Redaksi]

Dokumentasi lainnya:

Saksikan live reportnya di lini masa medsos TA Komunikasi Massa kami, pada tautan berikut:

Editor: Nina Razad

(dibaca 476)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Berita | Arsip Berita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 436, akses halaman: 462,
pengunjung online: 48, waktu akses: 0,030 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank