Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)
Warta
,
Selamat datang di website KOTAKU.
HomeWartaCeritaThoyib Tamsar, UPS BKM Tambaksari Makmur Penggiat Seni
Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi: Email Redaksi

Tulisan yang dikirim berformat document word (.doc) disertai foto dan keterangan foto. Foto sebaiknya berformat .jpg atau .bmp, dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen). Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

Atau, dapat langsung dikirim melalui web (klik "kirim"), syaratnya, Anda sudah terdaftar sebagai member web KOTAKU. Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di web KOTAKU.
Surabaya, 13 Desember 2017
Thoyib Tamsar, UPS BKM Tambaksari Makmur Penggiat Seni


Oleh: 
Tim Fasilitator Jatim 4-68  
Kota Surabaya 
KMW/OSP 6 Provinsi Jawa Timur 
Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU)

Kulo niki boten remen ningali tiyang ingkang mangan jatahipun tiyang boten gadah” (bahasa Jawa: Saya tidak senang melihat orang yang makan hak orang miskin). Itulah pegangan hidup Thoyib Tamsar.

Meskipun hidup pas-pasan, lelaki ini berpegang teguh pada prinsip kejujuran dan keihklasan. Di Kelurahan Tambaksari, Kota Surabaya, siapa tidak mengenal Thoyib Tamsar. Lelaki dengan ciri khas rambut menipis yang sudah mulai beruban, diikat dengan karet gelang.

Berseberangan dengan kantor Kelurahan Tambaksari, memasuki Jalan Tambaksari Selatan 10, terdapat sebuah bangunan yang dipenuhi dengan patung kepala Budha di bagian atas pagar lantai dua. Rumah kecil bernomor 15 ini didiami oleh Thoyib beserta istrinya Suharni (47 tahun), dan 2 orang anaknya. Nama Thoyib begitu dikenal, karena ia adalah seorang penggiat seni rupa yang saat ini masih eksis di Tambaksari. Namanya pun, “Tamsar” merupakan akronim dari nama kelurahan tempat ia tinggal: Tambaksari. Rumah Thoyib Tamsar, yang berlantai dua berukuran 2 x 11 itu dipenuhi dengan berbagai hasil karya seninya. Lantai 1 berfungsi sebagai galeri seninya, sedangkan lantai 2 dimanfaatkan untuk kegiatan rumah tangganya.

Pada Minggu 19 November 2017, Fasilitator 4-68 Kota Surabaya menemui Thoyib di Balai RW 01. Saat itu ia menjadi bagian dari pelatihan keterampilan, Peningkatan Kapasitas Masyarakat (PKM), yang dananya diperoleh dari BKM Tambaksari Makmur.

“Saat ini saya sedang mengembangkan batik Indonesia. Memang sengaja tidak saya tunjukkan identitas Kota Surabaya, karena saya ingin menunjukkan bahwa batik adalah Indonesia. Artinya, kalau orang memakai batik, pasti identik dengan Indonesia,” ujar dia. Perubahan dari seniman seni rupa ke seni membatik adalah refleksi diri Thoyib yang prihatin dengan seni batik Indonesia yang sempat diklain negara lain. Di sisi lain, ia tersentuh dengan belum sejahteranya pembatik.

Lelaki humoris dan pandai bercerita ini mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh warna-warni. Di antaranya, ia pernah menjadi pedagang barang antik yang biasa mangkal di Taman Budaya. “Saya ini makan ikut istri, wong gimana lagi seniman itu penghasilannya tidak mesti. Seperti studio, penginnya punya, lha wong rumah saya sudah seperti gudang,” curhatnya.

Thoyib juga aktif sebagai Unit Pengelola Sosial (UPS) di Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Tambaksari Makmur. Ia rajin berkunjung ke kantor BKM berdiskusi tentang kondisi BKM dan Program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), sebagai pengganti Program Nasional Pemberdayaan Mandiri (PNPM) Mandiri Perkotaan, dan terkait Baseline.

Sebagai UPS yang sudah mengabdi di BKM sekitar 10 tahun, ia mengatakan, sebaiknya orang yang menjadi PK BKM adalah mereka yang sudah mapan, sehingga BKM tidak digunakan untuk mencari makan mengingat PK BKM adalah kerelawanan. “PK BKM ora butuh wong pinter, tapi butuh wong sing ngerti lan gelem kerja (PK BKM tidak harus orang pintar tetapi perlu orang yang mengerti dan mau bekerja),” cetusnya. Ia pun menyoroti kegiatan terkait dana hibah, yang menurut dia harus sesuai dengan peruntukannya serta tepat sasaran dan fisik pekerjaan, setara dengan dana hibah tersebut.

Sebagai seniman, Thoyib pernah mengikuti beberapa pameran dan seminar, di antaranya Green Art Indonesia 2010, Seminar Biennale Seni Rupa Jawa Timur, Green Art Exhibition At The British Council, peserta Lomba Cipta Lagu, Poster, Logo dan Cinderamata, Lomba Lukis The Philip Morris Group Of Companies Indonesian Art Award.

Dengan segudang pengalaman yang dimilikinya, Thoyib Tamsar membina karang taruna dengan mengajari mereka membuat topeng berbahan barang daur ulang. Ini sempat membuat masyarakat menjuluki Kelurahan Tambaksari dengan “Kampung Topeng”. Sayangnya Kampung Topeng tak lagi aktif seiring “pensiunnya” Thoyib membina karang taruna. Mungkin perlu ada perhatian dari stakeholder di Kota Surabaya untuk membangkitkan kembali “Kampung Topeng” tersebut. [Jatim]

Editor: Nina Razad

(dibaca 639)
KOMENTAR ANDA:
Kembali ke atas | Kirim komentar | Kirim Warta | Indeks Cerita | Arsip Cerita | Print
Jl. Penjernihan I No 19 F1,
Pejompongan Jakarta Pusat
Total pengunjung hari ini: 1347, akses halaman: 1686,
pengunjung online: 29, waktu akses: 0,016 detik.
Didukung oleh: World Bank & Islamic Development Bank