Beranda Warta Berita Kota Semarang Keroyok Kawasan Kumuh

Kota Semarang Keroyok Kawasan Kumuh

Comments (0) View (2449)
Oleh:
Wildan Hakim
Sub TA Mass Communication 
KMP wil. 2
PNPM Mandiri Perkotaan

Kawasan kumuh juga milik Kota Semarang. Menurut wali kotanya, Hendrar Prihadi, ada tiga masalah di kawasan kumuh yaitu ketidaklayakan infrastruktur, buruknya drainase, dan kurangnya sarana sanitasi. Luas kawasan kumuh di Kota Semarang, kata Hendrar, mencapai 415 hektar dan tersebar di 62 kelurahan. Jumlah penduduk yang tinggal di kawasan kumuh ini sekira 1,6 juta orang. Lokasinya berada di sisi utara Kota Semarang atau di bagian pesisir pantai.

Demikian dijelaskan Hendrar Prihadi dalam Sesi Panel Penanganan Kawasan Kumuh dari 9 Kota dan Kabupaten Percontohan. Acara yang digelar Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) itu merupakan lanjutan dari acara peluncuran Program Nasional Penanganan Kawasan Kumuh 2015-2019 di Jl. Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, pada Senin, 22 Desember 2014.

Hendrar Prihadi menuturkan, Pemkot Semarang bersikap tegas dalam menata kawasan kumuh di kotanya. “Kami meminta penduduk pergi dan pindah ke lima Rusunawa. Sebagian besar penduduk yang dipindahkan ini adalah mereka yang berpendidikan rendah dan belum punya kesadaran,” papar Hendrar Pribadi.

Sadar dana APBD tidak cukup, Hendrar mengajak sejumlah pihak untuk “mengeroyok” kawasan kumuh. Kawasan kumuh yang ada dipetakan. Lalu diterapkanlah program yang disebut Gerdu Kempling. Gerdu Kempling merupakan singkatan dari Gerakan Terpadu Penanggulangan Kemiskinan Bidang Kesehatan, Ekonomi, Pendidikan, Infrastruktur, dan Lingkungan.  

“Ada 177 kelurahan yang tergolong kumuh. Kelurahan ini kita petakan untuk bisa ditangani secara bertahap dalam kurun waktu lima tahunan. Kita melibatkan program CSR dari perusahaan swasta dan perguruan tinggi. Tugas perguruan tinggi ialah memetakan potensi di masing-masing kelurahan,” urai Hendrar.

Gerdu Kempling ini lanjut Hendrar sudah menunjukkan hasil. Pada 2010 lalu, jumlah masyarakat miskin di Kota Semarang mencapai 26,4%. Pada 2013 lalu, angkanya sudah anjlok menjadi 21,2% atau turun 5,2% dalam kurun waktu tiga tahun.

Diakui Hendrar, Kota Semarang masih harus berbenah. Kawasan miskin akan terus “dikeroyok” penanganannya. Meski terhitung sebagai kota besar, saat ini di Kota Semarang masih ada sekira 25 ribu yang belum bisa melakukan aktivitas buang air besar atau BAB di rumah. Aktivitas BAB-nya biasanya dilakukan di area kebun atau tanah terbuka. “Saat ini sedang dilakukan program jambanisasi,” pungkas Hendrar Prihadi. [KMP-2]

Lampiran:

Editor: Nina Firstavina

0 Komentar

Yang terkait

 

    Bagi rekan pelaku dan pemerhati KOTAKU yang ingin mengirimkan tulisan partisipatif, silakan kirim berita/artikel/cerita/feature terkait kegiatan KOTAKU ke Redaksi:
    kotaku.nasional@gmail.com

    Ketentuan pengiriman Tulisan :
    1. Berformat document Ms Word (.doc, .docx) disertai foto dan keterangan foto.
    2. Foto sebaiknya berformat .jpg, jpeg, .png atau .tiff. resolusi minimal 1024px x 768px.
    3. Foto dikirimkan via email dan dilampirkan terpisah dari dokumen tulisan (tidak di dalam dokumen).
    4. Font tulisan Times New Roman ukuran 12, spasi single, 1 - 2 layar atau maksimal 2.500 karakter (tanpa spasi).

    Apabila sudah terdaftar sebagai member website KOTAKU, Anda bisa langsung mengirim Tulisan dengan klik Kirim Warta .

    Selanjutnya, bila tulisan tersebut dianggap layak, maka tunggu tanggal tayangnya di website ini.