Beranda KM KM09 Peran Pendamping Petualangan 22 Tahun Pendampingan Program Pemberdayaan

Petualangan 22 Tahun Pendampingan Program Pemberdayaan

Knowledge Management Lesson Learned Peran Pendamping Jawa Barat Cirebon Comments (0) View (349)

Saya Supriatin. Bergabung di program pemberdayaan yang dimotori oleh Kementerian PUPR mulai November 1999. Program pemberdayaan yang sudah berganti nama, seiring dengan perubahan kepemimpinan negara dan RPJMN, awal mulanya bernama Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang berjalan sampai tahun 2004. Mulai 2004-2014, bertransformasi menjadi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPM-MP). Kemudian tahun 2015-2022, seiring bergantinya orientasi program, maka program yang membawa saya seperti saat ini berubah menjadi Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) atau National Slum Upgrading Program (NSUP).

Dan 22 tahun tentu bukan waktu yang sebentar bagi saya sebagai pendamping masyarakat dan pemda. Apapun nama programnya, bagi saya program ini sangat keren dan membantu masyarakat, serta dapat mengurangi jumlah pengangguran dengan adanya tenaga pendamping setidaknya sampai saat ini di mana program masih berjalan.

Tahun 1999 awal masuk P2KP, saya mendapat penugasan menjadi fasilitator kelurahan, dimana setiap pendamping mendampingi satu kelurahan. Saat itu setiap fasilitator harus menguasai dan memahami bidang teknik, ekonomi dan sosial. Sekitar 2007, P2KP berganti menjadi PNPM-MP penugasan berubah. Saya mendapat promosi menjadi senior fasilitator.

Pada 2014, saya kembali mendapat promosi, menjadi Askot Mandiri di Kota Cirebon, dimana pertama kalinya di Kota Cirebon Askot Mandiri seorang perempuan. Pendampingan di Kota Cirebon memberikan banyak pengalaman suka, duka begitu pun tantangannya. Berbekal belajar memahami karakter dan selalu berkoordinasi dengan masyarakat, pemerintah daerah dan pihak terkait, tugas pendampingan bisa terlalui dengan baik.

Pada 2017, saya mendapat penugasan di lokasi baru di Kabupaten Kuningan sebagai Askot Mandiri. Ini pertama kali ditugaskan agak jauh dari tempat tinggal, tetapi hal ini sangat dinikmati karena menuju lokasi dampingan ditempuh melalui perjalanan yang sejuk dan indah. Tiga tahun mendampingi program di Kuningan, pada Mei 2020 kembali dipindahkan ke Kota Cirebon dengan penugasan berbeda, yaitu sebagai Askot Kolaborasi dan Kelembagaan. Satu hal yang selalu disyukuri setiap amanah penugasan, setiap lokasi dampingan, dan setiap peristiwa yang dilewati adalah pembelajaran untuk tumbuh menjadi manusia lebih baik.

Pendampingan di lapangan yang  dialami sesuai posisi tugas dan fungsinya, dimana mulai mendampingi  masyarakat, BKM, UP-UP, KSM, Aparat, Pokja Perumahan Kawasan Permukiman (PKP) sampai  Pemerintah Daerah tingkat kota dan provinsi serta  pihak swasta yang terlibat dalam program ini. Pendampingan yang dilakukan sesuai dengan master schedule yang ada mulai dari siklus, fasilitasi Bantuan Pemerintan untuk Masyarakat (BPM) atau apapun sejenisnya mulai dari tahapan persiapan, perencanaan, pelaksanaan, laporan pertanggungjawaban hingga monitoring dan evaluasi.

Dalam pendampingan tim yang perlu diutamakan adalah kekompakan dan menyatukan tujuan yang akan kita dampingi. Karena dalam satu tim pasti berbeda-beda karakter, sehingga bagaimana caranya agar kita tetap menyatu ibarat krayon yang dalam satu wadah berbeda-beda warna tetapi jika dipakai secara harmoni bisa menghasilkan gambar yang indah. Kekompakan dan kesolidan dalam tim sangatlah penting karena ketika kita nyaman di tim tentunya dalam memfasilitasi ke masyarakat atau di lapangan akan sangat enjoy dan mudah.

Pengelolaan manajemen tim juga sangat perlu diterapkan, mengacu pada Rencana Kerja Tindak Lanjut (RKTL) atau master scedule yang ada, sehingga fokus kegiatan yang akan kita fasilitasi sesuai harapan. Dalam manajemen tim salah satunya adanya pertemuan rutin tim atau rapat koordinasi tim dimana tujuannya agar tim saling mengetahui kegiatan yang difasilitasi oleh masing-masing bidang, menjadikan ajang diskusi untuk merencanakan ataupun memfasilitasi kegiatan dan adanya keterbukaan tim sangat perlu karena bila ada masalah maupun kesulitan akan dihadapi oleh tim secara bersama-sama. Tim yang solid pasti akan menambah kekuatan pendampingan di lapangan.

Bagaimana Membangun Chemistry dengan Stakeholder

Salah satu tugas yang harus dilakukan adalah memfasilitasi Pokja PKP. Karakteristik atau kebiasaan Pokja PKP yang kita dampingi di tiap kota tentunya akan berbeda-beda dari setiap kota atau wilayah dampingan. Untuk membangun chemistry dengan Pokja PKP, ada yang mudah, ada yang sedang, bahkan ada yang sulit. Untuk itu kita perlu strategi pendampingan, di antaranya, melakukan pemetaan dari tokoh kunci yang ada di leading sector program, memahami karakter tokoh kunci tersebut, dan mengikuti setiap pertemuan Pokja PKP sesuai dengan undangan yang diterima; serta saat pertemuan selalu memberikan masukan, ide dan gagasan dalam proses penanganan kumuh.

Hal lainnya yang tidak kalah penting adalah selalu melakukan pendekatan yang intensif, baik secara formal maupun informal. Sehingga, kita bisa diterima dengan baik oleh semua anggota Pokja.

Kewajiban kita sebagai pendamping adalah bagaimana bisa memperkuat Pokja PKP sehingga Pokja mampu berjalan dan berfungsi. Misalnya, daerah dampingan di Pokja PKP Kota Cirebon sangat kritis dalam setiap pengambilan keputusan itu harus ada dasar atau landasan maupun payung hukum sehingga sebelum mengikuti pertemuan Pokja PKP kita harus pegang dan pahami benar materi yang akan didikusikan. Hal ini berbeda dengan Pokja PKP Kabupaten Kuningan jika kita memberikan masukan akan selalu diterima selama apa yang disampaikan masuk akal dan bisa membangun serta  membantu Kabupaten Kuningan.

Tugas memfasilitasi kepala daerah pun kita harus bisa menyesuaikan dengan karakteristik atau kebiasaannya. Sehingga perlu disusun strategi pendampingannya, di antaranya: pertama, memetakan orang yang dekat atau “pembisik” kepala daerah. Kedua, berkomunikasi yang baik dengan ajudan kepala daerah. Ketiga, melakukan pertemuan secara informal, dan keempat, meminta pendampingan kepad leading sector Program Kotaku di pemerintahan. Harapannya kita dapat diterima dengan baik oleh pihak Kepala Daerah, dan kita bisa mensosialiasikan program untuk mensupport program kepala daerah.

Di wilayah dampingan itu ada kepala daerah yang sudah paham akan program dan tentunya akan mudah intervensinya tinggal melanjutkan apa yang seharusnya tindaklanjut dalam program. Berbeda dengan Kepala daerah yang belum mengenal program sehingga kita perlu memberikan pemahaman terlebih dahulu dan butuh waktu.

Ketika kepala daerah paham program, sudah barang tentu kepala daerah tersebut akan selalu memberikan gagasan dan ide-ide yang ada dalam program. Misalnya Kepala Daerah Kota Cirebon, ketika sudah kenal program setidaknya tidak banyak mengalami kesulitan dalam memberikan masukan dalam proses penanganan kumuh di Kota Cirebon. Begitu juga Kepala Daerah Kabupaten Kuningan yang mudah akrab serta humoris, bisa berkordinasi untuk berkolaborasi dalam penanganan kumuh dan bisa menganggarkan anggaran belanja daerah untuk penanganan kumuh. Di antaranya lokasi desa/kelurahan yang ada di SK Kumuh yang belum punya DED, difasilitasi untuk penyusunan dokumen DED-nya. Juga menganggarkan di lokasi non kumuh, sehingga DED tersebut sebagai dasar dan nilai jual saat ada program dari berbagai pihak. Inilah yang menyebabkan Kabupaten Kuningan kerap mendapatkan bantuan dari APBD Provinsi Jawa Barat, selain itu juga Pemkab Kuningan menganggarkan dana operasional dan pemeliharaan setiap desa/kelurahan walaupun dananya tidak terlalu besar.

Platform Program Kotaku adalah kolaborasi. Maka kolaborasi ini sangat berpengaruh dalam pelaksanaan penanganan kumuh suatu wilayah. Hal ini tentunya tidak mudah perlu ada sinkronisasi data dan sinergitas terlebih dahulu dengan pihak pemerintah daerah, swasta maupun pihak lainnya. Data baseline sangatlah penting sebagai dasar untuk menyusun program dan kegiatan penanganan kumuh. Permasalahan yang terindentifikasi perlu diekspose di tingkat kota agar dinas terkait paham dan mengerti kebutuhan berdasarkan data baseline, sehingga perlu ada yang memfasilitasi pihak pemda agar melakukan rapat koordinasi dengan semua OPD/dinas yang ada. Penyelesaian penanganan kumuh tidak mungkin hanya mengandalkan BPM saja, tetapi butuh dari pihak lainnya. Kabupaten Kuningan yang pernah di dampingi karena sudah mempunyai dokumen DED tiap Kelurahan/desa sehingga tiap tahunnya mendapatkan kolaborasi dari APBD Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Perumahan dan Permukiman Jawa Barat.

Jika wilayah dampingan kita mendapatkan beberapa program milsanya di Kota Cirebon selain mendapatkan kegiatan Infrasruktur Livelihood Berbasis Kawasan (ILBK), ada juga kegiatan Skala Kawasan Panjunan, kegiatan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang merupakan kolaborasi APBD Provinsi. Selain itu ada kolaborasi dengan PT. Sarana Multigriya Financial (SMF) untuk kegiatan rutilahu di lokasi Kawasan Panjunan. Semua menjadi kegiatan yang harus difasilitasi. Dengan adanya berbagai kegiatan tersebut tentunya perlu pendampingan yang cukup ekstra dan perlu sinergitas dengan berbagai pihak agar kegiatan-kegiatan tersebut berjalan dengan baik, terkendali dan lancar sesuai tujuan yang diharapkan. Maka salah satu kuncinya adalah tim pendamping harus berkolaborasi.

Lokasi dampingan kadang dekat atau jauh dengan tempat tinggal. Karena ini sudah merupakan tugas sehingga walaupun jauh tetap dilakukan pendampingan dengan profesional dan bukan dijadikan kendala. Kita tetap harus enjoy dan tetap semangat. Begitu pun adat, istiadat dan budaya tentunya tidak akan sama di setiap kota/kabupaten yang kita dampingi. Di Kabupaten Kuningan masyarakatnya punya adat istiadat dan budaya cukup baik dan ramah.

Salah satu yang unik ada di Kelurahan Cigugur, Kabupaten Kuningan, di mana masyarakatnya bhineka tunggal ika mulai menganut kepercayaan, agama yang berbeda-beda tetapi mereka toleransinya cukup tinggi untuk menghormati perbedaannya. Di antara warga satu sama lain kompak bila ada kegiatan program di daerah tersebut saling bahu membahu dan yang menarik juga tingginya keterlibatan kaum perempuan yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan konstruksi.

Temukan Tokoh Kunci dan Jadikan Pertemuan Warga sebagai Media Sosialisasi Program

Beberapa hal yang menurut saya penting saat kita masuk ke lokasi baru, yaitu temukan tokoh kunci. Identifikasi pertemuan yang biasa dilakukan masyarakat dan gunakan pertemuan itu sebagai media sosialisasi program, kemudian tinggal bersama warga disekitar wilayah dampingan. Hal lain terkait bahasa di wilayah dampingan, berdasarkan pengalaman ditemukan bahasa yang berbeda-beda di setiap daerah, walaupun tetap bahasa utamanya satu yaitu bahasa indonesia tetapi setiap daerah mempunyai kekhasan bahasa masing-masing.

Terkadang warga tidak selalu bisa berbahasa Indonesia. Komunikasi kasih lebih mudah manakala menggunakan bahasa setempat. Sebagai contoh di daerah Cirebon bahasa khasnya bahasa Jawa dan logatnya pun berbeda-beda baik di Kota Cirebon maupun Kabupaten Cirebon. Walaupun mungkin bagi pendamping ada yang belum paham dengan bahasa tersebut tetapi setidaknya kita bisa menghargai dan berbaur dengan mereka sehingga kita belajar bahasa tersebut sedikit demi sedikit. Beda lagi di Kabupaten Kuningan yaitu bahasa sunda dimana mereka kebanyakan sosialisasi di masyarakat dengan bahasa sunda. Intinya dalam pendampingan bahasa jangan menjadi masalah jika kita tidak paham maka lebih baik menggunakan Bahasa Indonesia.

Yang paling berkesan ketika wilayah dampingan kita yaitu pihak masyarakat, BKM, Pemda bisa bekerja sama dan saling mendukung dengan adanya program. Setiap daerah tentunya berbeda sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Di Kabupaten Kuningan berkesan dengan Pemdanya yang mendukung setiap ada kegiatan. Bahkan, Tim Kotaku sangat diakui sehingga bila ada ulang tahun Kabupaten Kuningan selalu dilibatkan, baik dalam pameran maupun pawai Kotaku, dengan sinergitas yang tinggi dan solid terhadap Kotaku. Bila koordinasi dengan bupati dan dinas manapun selalu Tim Kotaku dikedepankan sehingga bisa bersilaturahmi secara langsung dengan Bupati Kuningan dan dinas lainnya.

Wilayah dampingan Kota Cirebon juga cukup komunikatif Pemdanya terutama Ibu Wakil Wali Kota Hj. Eti Herawati yang selalu mendukung program baik skala lingkungan, kawasan Panjunan dan kolaborasinya. Ibu wakil wali kota terjun langsung ke lapangan secara rutin dan bahkan setiap ada momen kegiatan beliau menyempatkan untuk hadir. Intinya setiap yang kita dampingi kita perlu strategi pendekatan dan koordinasi yang baik.

Tantangan dan Pembelajaran Berharga

Tantangan dalam pedampingan pasti selalu ada, baik dari pihak masyarakat, BKM, Pemda maupun dari berbagai pihak yang terkait. Dinamika ini yang perlu kita hadapi bukan untuk dihindari. Bagaimana caranya agar kita bisa menghadapi tantangan serta dapat menyelesaikannnya perlu dukungan dan pendampingan yang intensif agar semua tantangan yang kita hadapi segera terselesaikan. Tantangan yang pasti dihadapi adalah saat menghadapi masyarakat dan BKM yang tidak mau melakukan siklus program karena tidak dapat bantuan atau BPM. Begitu juga tantangan pemdanya yang perlu waktu untuk bisa bekerjasama dengan baik dan mulus dikarenakan ketidakpahaman ataupun ketakutan terjadi kesalahan ataupun selisih paham dengan masyarakat dan BKM.

Tantangan lain yang ditemui saat pendampingan adalah keberadaan Forum BKM di Kota Cirebon yang sangat kuat dan mereka selalu mendapat info ter-update serta anggota forum BKM ini selalu menggalang persatuan, kondisi tersebut terkadang agak menyulitkan untuk pendampingan apabila mereka tidak setuju apa yang menjadi koridor program. Inilah yang membuat seorang pendamping Kotaku harus kuat dan bisa menjelaskan program yang ada sesuai SOP. Terkadang para BKM suka menguji fasilitator baru, padahal BKM-BKM di Kota Cirebon pelaku-pelaku lama yang sudah paham dengan program tetapi kalau ada fasilitator baru suka menguji wawasan mereka bahkan suka membandingkan pendampingan yang lama dengan yang baru dan disitu tidak boleh takut karena selagi kita masih menjelaskan dan fasilitasi dengan aturan yang ada dan bagaimana agar BKM tersebut paham, tetapi seiring berjalannnya waktu, pelaku-pelaku lama BKM melalui proses pemilihan ulang banyak yang tidak terpilih kembali sehingga dengan adanya pengurus BKM yang baru perlu dilakukan penguatan kepada BKM yang terpilih.

Cara untuk menyelesaikan tantangan yang harus kita ketahui adalah memahami permasalahannya, cari solusi dan melibatkan pihak yang dapat menyelesaikan tantangan tersebut dan membangun komitmen bersama untuk mendukung program dan selalu ada keterbukaan di setiap permasalahan yang ada. Sedangkan solusi dalam menghadapi tantangan di antaranya bicarakan dan koordinasikan dengan baik apa yang menjadi tantangan, selesaikan secara bersama-sama, saling pengertian, samakan pemahaman dan tujuan agar tantangan yang dihadapi dapat terselesaikan, perlu adanya tim personil yang solid dan lengkap sesuai dengan wilayah dampingan dan laksanakan tugas dan fungsi pokok sebagai pendamping dengan selalu kompak, saling membantu dan kerjasama sehingga permasalahan dapat diselesaikan dengan baik. Sebagai contoh bagaimana menghadapi tantanagan apabila salah satu dinas atau OPD sulit masuk atau berkoordinasi, yang bisa dilakukan di antaranya, meminta bantuan dinas yang terlibat untuk bisa fasilitasi dinas yang sulit tersebut agar bisa mendukung dan bekerja sama. Serta melibatkan masyarakat dan pelaku lainnya yang sekiranya bisa mendukung program.

Sementara itu, pembelajaran yang didapat selama pendampingan sangatlah berharga. Untuk internal sebagai pendamping, selain kita dapat mengenal wilayah dan karakteristik setiap lokasi dampingan yang pastinya berbeda, kita mendapat ilmu dan wawasan yang kemudian menjadi bekal dalam memfasilitasi program di wilayah lain. 

Setiap strategi dan pendekatan dalam pendampingan tentunya tak selalu berjalan sesuai harapan namun dalam berperang kita harus punya senjata, sesederhana apapun senjata itu, maka kapasitas memfasilitasi, pemahaman terhadap program dan regulasi terkait penanganan kumuh, regulasi pemda, komunikasi efektif, dan kemampuan memahami karakter setiap lokasi dampingan menjadi modal dan harus dimiliki dan harus kita upgrade terus.

Bertambahnya teman, saudara serta relasi menjadi sesuatu yang berharga yang nilainya tidak bisa diukur. memberikan kita ruang saling sillaturahmi dan bekerja sama, baik dalam suka maupun duka dalam menghadapi program yang penuh dengan tantangan yang kita jalani. Pemda, lurah, BKM, masyarakat adalah keluarga dalam pendampingan, karena tujuan kita adalah merekalah yang secara mandiri akan melanjutkan program yang kita kawal dan dampingi.

Masyarakat pasti banyak memberikan pembelajaran, bahwa kita sebagai pendamping tidak hanya sekedar menjadi saksi dari perubahan yang terjadi, tetapi kita para pendamping menjadi bagian dari perubahan itu.

Relawan itu ada dan nyata di masyarakat, bagaimana pendamping bisa menemukannya, memberikan ruang untuk mereka berkiprah, merawat nilai kerelawannya, itulah pembelajaran dari seorang pendamping dan sekaligus dari masyarakat itu sendiri, bahwa kerelawanan merupakan nilai yang sangat berharga untuk keberlanjutan program yang lebih baik.

Wilayah dampingan dengan berbagai karakteristik dan kondisinya adalah kawah candradimuka bagi pendamping, dan tantangan sebuah kota/kabupaten dengan berbagai permasalahan kumuhnya merupakan dinamika yang dihadapi pendamping. [Jabar]

Penulis: Supriatin, Askot KK Kota Cirebon, Kotaku Jawa Barat

Editor: Yanti Sri Miranti/Nina Razad

0 Komentar

Yang terkait