Beranda KM KM06 Kotaku di Masa Pandemi Semangat KPP Hidupkan Kembali Roda Ekonomi di Masa Pandemi

Semangat KPP Hidupkan Kembali Roda Ekonomi di Masa Pandemi

Kotaku Knowledge Management Lesson Learned TPS3R Sampah Kumuh Dampak Covid 19 KPP Pupuk Watas Marga Kabupaten Rejang Lebong Bengkulu Comments (0) View (440)

Dampak Pandemi Covid 19 bagi warga Desa Watas  Marga

Mengelola sampah menjadi salah satu cara bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan, terlebih di masa Pandemi Corona Virus (Covid 19). Awal tahun 2020, Pandemi Covid-19 marak melanda seluruh dunia, selain berdampak pada kematian, Covid 19 juga sangat mempengaruhi perekonomian dikarenakan ruang gerak masyarakat yang sangat terbatas dengan adanya aturan Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), kenaikan harga bahan pokok sehingga menurunnya daya beli masyarakat dan berakhir pada banyak tempat usaha yang tutup, bahkan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap para pekerja.

 

Dampak Pandemi Covid-19 juga begitu terasa bagi masyarakat yang tinggal di Desa Watas Marga Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu. Mayoritas warga disana bekerja di ladang, namun karena tingginya harga pupuk untuk pertanian sehingga membuat mereka enggan ke ladang. Berangkat dari permasalahan inilah, Kelompok Pemelihara dan Pemanfaat (KPP) di Desa Watas Marga bergerak menghidupkan pertanian dan mencari peluang untuk memutar kembali roda perekonomian. KPP Watas Marga terbentuk pada tahun 2019 setelah adanya TPS3R terdiri dari ketua, sekretaris dan bendahara. Pembentukan KPP ini difasilitasi oleh Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Program Kotaku.

 

TPS3R Desa Watas Marga hasil kegiatan Program Kotaku

Desa Watas Marga Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu, merupakan salah satu lokasi kumuh yang menjadi sasaran penerima dana Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat (BPM) Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) tahun 2019. Dana tersebut untuk pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R). Sampah merupakan salah satu penyumbang masalah di desa ini, sehingga menjadi solusi untuk mengurangi permasalahan yang ada. KPP Desa Watas Marga bertugas untuk mengawal keberfungsian bangunan tersebut. Tidak lama berdiri TPS3R tersebut Covid-19 pun melanda sehingga mempengaruhi aktivitas dan perekonomian masyarakat. Selama pandemi kegiatan pertanian berkurang karena tingginya harga bahan-bahan kebutuhan untuk pertanian seperti pupuk, kebutuhan untuk mengolah sampah seperti EM4 juga ikut naik hingga mencapai kelangkaan pada produk tersebut. EM 4 singkatan dari Efektif Mikroorganisme 4 merupakan larutan yang didalamnya terkandung berbagai macam Bakteri Menguntungkan yang fungsi bakterinya sama dengan Bakteri yang biasa kita buat MOL. namun EM4 ini lebih Efektif dibandingkan menggunakan MOL. apabila dibandingkan dengan MOL, EM4 ini jauh lebih efektif karena mengalami 4 kali tahap proses perkembangbiakan mikroorganisme. EM 4 dibuat untuk membantu dalam pembusukan pupuk kandang sehingga dapat dimanfaatkan dalam proses pengomposan. Kompos yang dihasilkan oleh cara ini ramah lingkungan berbeda dengan kompos anorganik yang berasal dari zat-zat kimia.

 

KPP mengolah kompos dan pupuk organik dari limbah kopi  di TPS3R

Namun demikian Pandemi tidak menyurutkan semangat KPP TPS3R Desa Watas Marga untuk bangkit dari keterpurukan. Apalagi sampah bila tidak dikelola justru akan semakin menumpuk dan menimbulkan penyakit. KPP melihat adanya peluang untuk mendapatkan manfaat lain dari pengelolaan sampah di TPS3R. Peluang ini digunakan oleh Jumadi selaku Ketua KPP TPS3R Watas Marga, Ia mulai mengembangkan ide kewirausahaan memanfaatkan pengelolaan TPS3R yang nantinya memberikan manfaat bagi banyak orang. Tentunya berbekal dengan kemampuannya setelah mengikuti sejumlah pelatihan pengembangan usaha. Salah satu ide pengembangan dari pengelolaan TPS3R adalah memanfaatkan limbah organik milik masyarakat yang kemudian diolah menjadi pupuk kompos. Bahan baku utama pembuatan kompos yaitu dari limbah kopi dan limbah organic lainnya dari kebun-kebun milik warga.

 

KPP menggerakan masyarakat untuk mengumpulkan sampah organik dan mengelola sampah menjadi kompos dan pupuk organik. Hal ini merupakan salah satu strategi untuk mendatangkan profit di masa pandemi.  Meski menurunnya sampah organik karena tidak adanya petani yang berkebun/ berladang, KPP kerap berkeliling mengumpulkan sampah dan limbah yang seringkali menumpuk di pekarangan rumah warga hingga  KPP mencari sampah organik  ke desa-desa lain. TPS3R ini melayani sampah dari 70 rumah warga. KPP mengeluarkan modal awal Rp 750.000 untuk pembuatan kompos dan pupuk dari sampah organik dengan rincian membeli bahan pengurai seperti EM4, karung kemasan dan upah tenaga kerja. TPS3R Desa Watas Marga telah memproduksi kompos dengan kemasan serta menjualnya seharga Rp 25.000 per karung dengan ukuran 40 kg untuk per karungnya. “TPS3R Desa Watas Marga dalam beberapa bulan selama pandemi berhasil memproduksi lebih dari 500 karung  kompos” tutur Jumadi.

 

Bangunan TPS3R  jadi solusi tingkatkan perekonomian warga  

Adanya pengembangan kewirausahaan dari bangunan TPS3R ini memberikan banyak manfaat, khususnya di masa Pandemi Covid. Selain masyarakat terhindar dari tumpukan sampah yang menjadi sarang penyakit, ada pula penyerapan tenaga kerja dan memenuhi kebutuhan pupuk untuk  perkebunan warga.  Pupuk kompos yg diolah oleh KPP dijual dengan harga murah  di tengah harga pupuk yang mahal dan kelangkaan pupuk, hal ini turut memotivasi masyarakat untuk kembali beraktivitas mengelola kebun/ladangnya. Hingga saat ini pemasaran dan penjualan kompos dari pengolahan sampah lebih ke masyarakat lokal, meskipun demikian produk kompos yang dihasilkan oleh KPP mendapat atensi dari masyarakat Watas Marga. Hal ini karena warga Watas Marga yang umumnya bertani dan berkebun tidak lagi harus jauh-jauh membeli pupuk dan kompos di pusat kota, apalagi harga kompos dan pupuk kini tergolong mahal dan harga pun harus mengeluarkan ongkos transportasi.

 

Di masa Pandemi Covid 19,  TPS3R Desa Watas Marga lebih banyak mengolah sampah organik, namun KPP masih terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah anorganik. Menurut Jumadi selama ada niat, mau bersama-sama bersusah payah, selalu ada ruang dan peluang untuk mengembangkan ide. KPP TPS3R juga membangun komunikasi agar dapat berkolaborasi dengan sejumlah pihak, salah satunya yaitu Bank Indonesia. Salah satu dukungan pemerintah daerah (pemda) untuk kegiatan TPS3R Desa Watas Marga adalah dengan meminjamkan armada motor sampah untuk mengangkut sampah dari rumah warga ke TPS3R.

 

Sistem bagi hasil keuntungan pembuatan kompos dan pupuk organik

Agar kinerja KPP terarah dan tetap terorganisir, pengelolaan sampah di TPS3R juga sudah diatur. Seluruh aktivitas pengelolaan selalu dikomunikasikan kepada warga dan pemerintah setempat. Selain itu telah disepakati 50% untuk tambahan modal usaha dan 50% untuk pengelola KPP dengan rincian 30% untuk pengurus, 10% untuk dana sosial dan pendidikan, serta 10% kas desa. KPP TPS3R sendiri memiliki harapan besar terhadap pengelolaan bangunan TPS3R, harapannya kebersihan lingkungan tetap terjaga, produksi kompos semakin lancar, dan ada mitra yang menyokong pengembangan usahanya melalui penambahan alat, penyediaan angkutan sampah dan kendaraan untuk mendistribusikan pupuk juga promosi dan penjualan produk ke pasar lokal maupun ke konsumen di luar daerah.[Bengkulu]

 

Penulis: Tim Knowledge Management Provinsi Bengkulu

Editor: Vhany Medina/Nina Razad

Silakan sampaikan masukan dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ini.

 

0 Komentar

Yang terkait